Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 16 : Tak Menyangka


__ADS_3

Bella berjalan perlahan mendekati Zely yang tidur menghadap jendela. Tak langsung bicara, tapi justru diam beberapa saat. Berpikir jika gadis itu benar-benar tidur, tapi ternyata tidak sama sekali. Malah dia terdengar menangis terisak, tapi mencoba menahan suara tangis itu agar tak diketahui.


“Apa yang kamu tangisi?” tanya Bella.


Zely langsung tersentak kaget saat mendengar pertanyaan itu menghampiri dirinya. Terlalu fokus dengan pikirannya, terlalu larut dalam kesedihannya, malah sampai tak menyadari jika Bella sudah ada di belakangnya.


Zely langsung menghapus pipinya yang basah dengan kasar agar tak diketahui oleh Bella jika dirinya memang menangis.


“Aku nggak nangis kok, Tan. Cuman kelilipan. Air mataku sampai keluar dibuatnya,” jelas Zely mengelak dari tuduhan Bella yang nyatanya memanglah benar.


Siapa yang tak menangis jika dihadapkan pada masalah seperti ini. Berpikir jika ini adalah sebuah mimpi yang hanyalah bunga tidur. Tetapi saat lengannya ia cubit, ternyata sakitnya benar-benar nyata hingga meninggalkan bekas memerah.


Bella menarik napasnya panjang, kemudian menatap Zely dengan tatapan dingin dan tajam. Seakan-akan dengan sengaja mengintimidasi gadis itu untuk mendengarkan setiap kata-kata yang akan ia ucapkan.


“Kamu pasti kesal, kan, dengan semua ini? Lebih tepatnya, kamu kesal sama Tante yang seolah memaksakan kamu untuk menikah dengan Rafa.”


Zely menggeleng. “Aku nggak pernah kesal sama tante,” ungkap Zely langsung. “Karena aku tahu, sebagai satu-satunya orang yang sayang padaku, tante pasti akan melakukan hal yang terbaik untukku. Termasuk memintaku dan Rafa untuk menikah.”


Air mata Zely spontan menetes begitu saja saat semua kata-kata itu dia utarakan.


“Kamu bilang nggak kesal, tapi kamu nangis,” komentar Bella.


“Anggap saja ini tangis bahagia,” balasnya dengan senyuman.


“Dari awal sudah tante katakan, kan … kalau semua ini di luar perkiraan kita semua. Kamu pikir tante bahagia dengan semua hal yang serba dadakan ini? Enggak, Zel. Kamu tahu rasanya saat apa yang kita banggakan, yang kita elu-elukan agar jadi sesuatu yang lebih baik. Tiba-tiba semua hancur dalam sekejap.”


Zely menundukkan kepalanya, ketika merasa tak tahan dengan semua yang dikatakan oleh Bella. Isakannya tak mampu tertahankan. Merasa jadi seseorang yang paling bodoh, kotor dan jahat.


“Apa kamu nggak berpikir, bagaimana jika Papa sama Mama kamu melihat semua ini?! Anak satu-satunya, malah membuat nama keluarga mereka tercoreng!


“Aku minta maaf, Tante,” isak Zely menangis sesegukan. “Aku nggak berniat melakukan semua ini.”


“Apa mereka bisa tenang di sana … sementara kamu menciptakan sebuah masalah yang membuat kehidupan kamu sendiri hancur, Zely.”

__ADS_1


Zely menangis bukan karena memikirkan dirinya. Justru yang ia tangisi adalah perkataan Bella yang terus mengingatkan ia pada orang tuanya. Kejadian masa lalu itu tak bisa terlupakan begitu saja, bahkan itu jadi trauma tersendiri baginya. Tetapi semua orang seakan tak perduli dengan semua yang ia rasakan.


Bella mengarahkan pandangannya ke arah lain, dengan cepat menghapus air matanya yang ikut mengalir. Tetapi mencoba untuk tetap bersikap tegas.


“Tante tahu jika kamu mungkin nggak terlalu memikirkan perasaan tante. Berharap diberikan  sebuah penghargaan karena sudah mendidik kamu hingga sebesar ini. Tapi kamu malah memberikan kejutan yang nyaris membuat tante terkena serangan jantung!”


Zely makin merasa tertekan dengan semua perkataan yang diucapkan Bella. Tangisnya juga makin tak tertahankan. Merasa jadi seorang anak yang durhaka karena mengecewakan mama papanya di sana. Sekarang juga membuat tantenya sedih, karena harus ikut menanggung permasalahan yang ia ciptakan.


“Apa kamu nggak bahagia dalam asuhan tante dan sengaja melakukan semua ini, Zel?”


Zely menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram ujung selimut, seakan sedang menahan hatinya yang merasa terus disulut dengan semua perkataan itu.


“Ya, mungkin saja kamu nggak betah atau nggak suka dengan cara tante selama ini mendidik kamu. Jadi, sekarang kamu sengaja menciptakan sebuah masalah agar tante merasa gagal. Apa itu yang sedang kamu rencanakan, ya?”


Diana dan yang lainnya masuk, saat mendengar suara tangisan Zely samar-samar. Ya, meskipun agak tak enak hati, tapi tetap saja mereka penasaran. Takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu.


“Aku nggak pernah berpikiran begitu!” pekiknya.


Sontak, semua dibuat agak kaget dengan apa yang mereka saksikan.


“Kelakuan kamu yang berubah, Zely.”


“Aku tahu kalau salah, tapi bisa nggak, sih, jangan terus menekanku seperti itu!” Emosinya terasa tak terkendali lagi. “Jangan menekanku! Aku muak dengan semua kata-kata tante! Bisakah satu kali saja memahami apa yang ku rasakan? Kenapa tante menekanku! Tante jahat!”


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Zely. Bella merasa tak tahan saat gadis itu mulai bersikap lancang padanya. Sekian tahun ia besarkan, baru kali ini sikap dia begitu buruk padanya.


“Astaga!” Diana spontan bergegas menghampiri mereka, merangkul Zely yang masih menangis ke dalam dekapannya. Kemudian menatap fokus pada Bella sebagai si pelaku. “Kenapa kamu menamparnya?!”


Bella terdiam, seketika menyadari jika sikapnya benar-benar salah pada Zely. Emosinya membuat ia lupa hingga menampar keponakannya sendiri.


“Kamu kasar sekali,” tambah Hesty gregetan dengan sikap Bella.


Rafa datang di saat semua yang ada di sana dalam keadaan tegang. Meletakkan sebuah box makanan yang ia bawa di meja. Tetapi fokusnya justru terarah pada Zely yang dalam kondisi menangis sesegukan dan pelukan mamanya.

__ADS_1


“Dia ditampar sama tantenya,” bisik Nanta pada Rafa.


Mendengar apa yang dikatakan Nanta, Rafa langsung menghampiri mereka. Ia tak tahu permasalahan apa yang sedang terjadi, tapi mendengar Zely ditampar, tiba-tiba ia merasa tak terima.


“Ada apa?” tanya Rafa.


“Bella nampar Zely,” jawab Hesty.


Sebenarnya Rafa ingin mengecek kondisi Zely yang masih menangis dalam pelukan mamanya, hanya saja Bella membuatnya lebih emosi.


“Tante nampar dia?” tanya Rafa memastikan.


“Tante reflek. Maaf,” ucapnya.


“Alasannya?”


Bella diam seribu bahasa.


“Aku nggak tahu apa yang bikin tante sampai bersikap kasar begitu. Tapi jujur, aku kesal saat tante lakuin itu sama Zely,” jelas Rafa.


Nanta agak bergegas menghampiri Zely. Ternyata jarum infus yang berada di pergelangan tangan gadis itu terlepas saat adegan barusan … hingga membuat darah menetes dari bekas tusukan jarum.


“Kamu nggak tahu apa yang terjadi.”


“Aku nggak perduli alasan apapun! Yang ku komentari saat ini adalah tindakan tante. Apa sebuah masalah tak bisa dibicarakan baik-baik? Apa tante lupa kalau dia adalah keponakan tante sendiri?!”


“Rafa, sudah. Jangan memperpanjang masalah,” peringat Malik pada putranya.


Barusan Zely, Malik juga tak berharap jika putranya kini justru yang bermasalah dengan Bella.


“Tante menuntutku agar pernikahan tetap dilakukan hari ini, kan. Yasudah, ayo lakukan sekarang. Semua juga sudah siap, kan.”


“Rafa, tapi Zely …”

__ADS_1


“Ma, udah … jangan menunda lagi,” timpal Rafa pada perkataan mamanya. “Kita selesaikan semuanya sekarang. Aku capek dihadapakan pada satu masalah tapi seakan tak akan ada ujungnya. Aku dan Zely nikah sekarang dan semua masalah kelar.”


Bella menarik napas panjang, dengan sikap dia yang masih terlihat tenang. Padahal Zely yang mendapatkan tamparan justru malah sebaliknya. Ya, sikap Bella barusan seakan menempel dalam hati gadis itu.


__ADS_2