
Zely yang sedang menikmati makanannya sampai dibuat kaget mendengar reaksi Bik Anik perkara dirinya mau bunuh diri. Benar, harusnya tadi ia tanya Google saja, biar nggak bikin panik orang satu rumah.
“Non, jangan ngadi-ngadi dong. Kok niatnya jelek banget,” nasihat Bik Anik akan niat Zely. “Ntar kalau beneran terjadi gimana? Keturunan keluarga Bagaskara habis nggak bersisa dong.”
Zely yang awalnya bersemangat makan, seketika terhenti mendengar perkataan wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya.
“Kalau Non Zely ada masalah, jangan menyelesaikan dengan cara singkat yang bikin masalah lainnya datang. Non mau bunuh diri, ntar Nyonya Bella gimana? Otomatis bakalan sendirian. Kalau orang tuanya Non ada di sini, kira-kira gimana reaksi mereka saat tahu niat putri satu-satunya seburuk itu?”
Zely menghentikan adegan makannya dan menjauhkan makanan yang ada dihadapannya. Meneguk satu gelas minuman. Barusan bersemangat, tiba-tiba kini sebuah pemikiran membuat otaknya seakan tersentil.
“Aku mau tidur,” ujarnya langsung beranjak dari posisi duduknya dan bergegas menuju kamar.
Bik Anik sampai bingung harus memberikan nasihat seperti apa. Makanya ia sampai membawa-bawa nama orang tua Zely yang sudah tiada agar sedikit membuat hati gadis itu terbuka. Ia tahu jika gadis seusia Zely dalam masa labil perihal mengambil sebuah keputusan, tapi juga jangan sampai bunuh diri lah.
Sampai di kamar, Zely duduk di sofa yang ada di balkon. Menatap jauh ke atas langit yang malam ini tampak benar-benar gelap gulita tanpa adanya satupun bintang yang terlihat. Sama seperti keadaannya kini, gelap tanpa ada solusi yang bisa memberikan secercah harapan untuk dirinya bisa kembali ke situasi sebelumnya.
Merentangkan tangannya ke arah langit. “Kata orang di antara banyak bintang, ada orang terkasih yang sedang melihat dari kejauhan. Sepertinya Mama sama Papa pun nggak perduli dengan kondisiku saat ini,” gumamnya tersenyum miris.
“Harusnya saat kalian pergi dari dunia ini, mengajakku ikut serta. Tapi malah ninggalin aku sendirian. Aku tahu ada Tante Bella, tapi kini aku mengecewakan beliau, Pa, Ma. Kalian percaya, kan, kalau aku nggak melakukan itu dengan sengaja? Iya, kalau Papa sama Mama ada di sini bersamaku, pasti nggak mau kalau aku sampai dinikahkan dengan cara seperti ini.”
Menangis sendirian di malam hari, dengan hembusan angin malam yang dingin menusuk kulit. Biasanya tak ada kata diam jika ia pulang ke rumah saat libur kuliah atau sengaja mengambil liburan beberapa hari. Sekarang justru langsung disambut seonggok masalah yang seakan tak ada jalan keluar selain pasrah.
Di saat yang bersamaan ponsel miliknya berdering pertanda ada yang menelepon. Tadinya ia pikir jika yang menghubungi adalah Renata atau Jean, sahabatnya. Kali ini tebakannya salah, karena nama yang tertera di layar datar itu justru nama Nico. Ragu-ragu untuk menjawab.
Zely berdecak, ketika bingung harus menanggapi si penelepon. “Ini si Nico kalau nggak dijawab malah merasa tak enak hati, tapi kalau dijawab takutnya dikira aku masih ngarep,” gumamnya.
Awalnya ragu, tapi pada akhirnya ia geser layar dengan tanda ikon berbentuk gagang telepon berwarna hijau itu.
“Hallo,” sahutnya.
“Zely?”
“Ya, ini aku. Kenapa, Nic?” tanya Zely.
__ADS_1
“Aku dapat kabar dari Renata kalau kamu pulang hari ini. Ternyata beneran.”
“Iya, aku baru nyampe rumah tadi sore. Ada urusan keluarga, jadi Tante minta aku pulang bentar,” terangnya pada cowok itu.
“Berarti bakalan balik cepat dong?”
Zely tak langsung menjawab. Bukan, lebih tepatnya ia bingung harus memberikan jawaban apa. Jujur, tentu saja ia harus balik karena memang masih kuliah. Ini saja pulang karena minta izin satu minggu. Tapi entah bagaimana nantinya kelanjutan kuliahnya, kalau ternyata dirinya malah harus menghadapi sebuah pernikahan.
“Zel, kamu dengar aku, kan?” Nico bertanya karena Zely tiba-tiba terdiam tanpa menjawab pertanyaannya.
Zely sedikit tersentak dari lamunannya. “Ah, iya, Nic. Ini aku pulang ijin beberapa hari doang, sih.”
“Besok ada waktu, nggak. Aku mau ajakin kamu ketemuan.”
“Maaf, Nico. Sepertinya nggak bisa, karena aku ada urusan keluarga. Jadi otomatis selama di sini ya fokusku sama keluarga. Maaf, ya.”
“Gitu, ya,” sahut Nico sedikit kecewa. “Yaudah nggak apa-apa. Tapi kalau ada sedikit waktu luang, kabari aku, ya. Pengin banget ketemuan sama kamu. Ya, meskipun hubungan kita udah berakhir, tapi bukankah jalinan pertemanan tetap bisa lanjut, kan.”
“Iya, nanti ku kabari, ya. Dahh.”
Zely melempar ponselnya di meja, kemudian memejamkan kedua matanya sambil tiduran di sofa. Baru juga sesaat matanya terpejam, ketukan pintu kamarnya membuat niat tidurnya kembali buyar. Kadang heran, semua orang seakan sedang berniat membuatnya kesal. Mau tidur, ada saja yang mengganggu.
“Semua orang begitu baik, sampai mau tidur saja aku nggak dibiarkan,” umpatnya bangun dan beranjak dari sofa. Berjalan malas dengan kedua kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan saat berjalan.
Membuka pintu dengan muka jutek yang langsung ia berikan pada si pengetuk pintu. Yap, Bella. Entah apalagi yang akan dibicarakan tantenya ini padanya. Sepertinya serangan tadi seolah tak cukup membuat dirinya berniat bunuh diri.
“Maaf, Tante ganggu kamu.”
Bella langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Zely, tanpa menunggu si pemilik kamar memberikan ijin untuk masuk. Sudah biasa, jadi Zely pun tak merasa heran.
“Kenapa, Tan?” tanya Zely.
Bella duduk di pinggiran tempat tidur Zely, kemudian meminta ponakannya itu ikut duduk bersamanya.
__ADS_1
“Ada yang mau Tante bicarakan sama kamu.”
“Apa, Tante?”
“Besok kamu nikah.”
Bukan seperti ketimpa balok lagi, tapi kali ini seperti sudah ada ledakan besar di dalam kepalanya. “Tante gimana, sih. Besok bukannya mau ketemuan sama keluarganya Rafa dulu. Kenapa sekarang malah bilangnya langsung nikah? Aku nggak mau! Yakali nikah dadakan nggak jelas gitu.”
“Kamu mau aman atau tidak, sih, Sayang?”
“Aman apanya?” tanya Zely beranjak dari posisi duduknya, menatap Bella serius. “Bahkan aku merasa sekarang seperti mau gila, Tante. Bayangin aja, selama ini kita nggak pernah membahas yang namanya sebuah pernikahan. Sekarang saat sampai di sini, aku disambut masalah yang berat. Solusinya malah nikah. Tolong dong, Tan … jangan membuatku benar-benar berpikiran untuk bunuh diri.”
Zely sudah serius bicara, bahkan wajah gadis itu sampai memerah karena berusaha menahan tangis. Sedangkan Bella malah tersenyum simpul menanggapinya.
“Bunuh diri?”
“Iya, aku mau bunuh diri kalau Tante terus mendesakku untuk ini,” ancamnya.
Bella menunjukkan wajah sendu, membalas tatapan Zely yang malah terlihat kecewa pada keputusan yang ia ambil.
“Zel, Tante besarin kamu dan rawat dengan kasih sayang. Berharap saat dewasa kamu bisa menjadi seorang wanita yang kuat dan bisa menjaga diri. Makanya, saat kamu minta kuliah ke luar pun Tante ijinkan, setidaknya itu adalah cara agar kamu bisa mandiri.”
Bella tertunduk, menahan rasa sedih yang tengah ia rasakan jika mengingat masalah yang dihadapi oleh keponakannya. Sesaat kemudian kembali mengarah pada gadis itu dengan wajah yang berusaha tegar.
“Kamu tahu apa yang Tante rasakan saat semua masalah ini menimpa kamu? Sedih, kecewa, Tante merasa bodoh dan tak berguna, Zel. Bahkan Tante merasa Papa dan Mama kamu sedang mengutuk Tante karena nggak bisa menjaga putri mereka satu-satunya,” lanjutnya.
Zely kesal pada Bella, tapi saat mengingat semua yang beliau katakan memang benar, hatinya kembali luluh. Rasa bersalahnya kembali muncul ke permukaan. Memang belum ada kejelasan kejadian yang sebenarnya antara dirinya dan Rafa, tapi sebagai seseorang yang sayang padanya, tentu saja hal yang paling utama Bella rasakan adalah sedih dan kecewa.
“Maafin aku, Tante,” ucap Zely menangis. “Aku bikin Tante kecewa, sebelum sempat memberikan hal yang bikin Tante bangga.”
“Seberapapun besar kesalahan, kemarahan dan apapun bentuk kekecewaan yang kamu berikan buat Tante, tetap kamu adalah ponakan kesayangan Tante, Zel. Maka dari itu, Tante mencarikan solusi yang paling aman buat kamu. Bukan berniat menjerumuskan kamu pada sebuah hubungan nggak jelas dengan Rafa, tapi Tante hanya ingin kamu tak dipandang buruk oleh orang lain. Hanya itu, Sayang.”
Zely tak berkomentar lagi. Ia langsung memeluk Bella sambil menangis terisak. Banyak gempuran yang sedang menyerang pikirannya saat ini. Sedih, jika mengingat semua pengorbanan Bella dalam membesarkan dirinya hingga sampai sebesar ini. Kecewa pada dirinya sendiri yang sampai kecolongan sefatal itu. Takut, mengingat status pernikahan yang akan menyambutnya di depan sana.
__ADS_1
“Ikuti solusi yang Tante usulkan kali ini, ya.”
Zely mengangguk. “Terserah Tante saja. Karena ku yakin, apapun solusinya Tante pasti memberikan yang terbaik untukku.”