Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 26 : Curhatan Yang Tertunda


__ADS_3

Zely tak menjawab langsung panggilan telepon dari Rafa. Bukan kesal pada dia, tapi lebih ke rasa malas. Lagian, mau ngapain juga dia menelepon. Toh tadi juga sudah mengirim pesan dan memberitahukan jika ia pergi ke rumah temannya.


“Kok nggak dijawab?” tanya Renata saat Zely mengabaikan panggilan telepon dari seseorang di ponsel dia.


“Males,” jawab Zely singkat. Kemudian melanjutkan menikmati sarapannya.


Posisi keduanya duduk berseberangan, jadi Rena tak bisa melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Zely yang tergeletak di meja.


“Dari cowok itu?”


“Iya,” jawab Zely.


“Lo kabur dari rumah sakit. Dia nelepon dan nggak lo jawab. Apa nggak akan ada masalah yang muncul nantinya?”


“Gue tadi udah kirim pesan kok sama dia, kalau gue mau ke rumah teman. Trus, dia minta shareloc, tapi nggak gue kirim. Mungkin kesal,” jelas Zely sudah bisa menebak seperti apa raut kekesalan Rafa saat ini.


“Gue nggak paham ini lo sama si cowok itu nikah, tapi kayak nggak sreg gitu. Berasa kayak Bebek dan angsa dinikahin secara paksa. Dua klan yang berbeda, tapi dipaksa untuk menjadi satu keluarga bebek-bebekan.”


Renata sampai membayangkan dengan menyatukan dua jarinya. Satu jari kelingking dan satu jari telunjuk. Ini bebek, ini angsa. Kalau disatukan jadi bebek angsa.


“Lo ngapain, sih … kayak orang mabok gitu.” Zely seakan mau tertawa melihat muka polos Renata membayangkan hubungannya dengan Rafa sejenis apa.


“Kan ngebayangin hubungan kalian berdua dalam bentuk keluarga bebek.”


“Lihat Tom and Jerry, kan? Nah, bentukannya kayak begitu. Persis.”


“Baku hantam?” tanya Renata.


“Dia nyubit, gue tendang. Dia nabok gue, ya gue tabok balik. Ya ampun, Ren … cerewetnya bikin perut gue begah.”


“Trus, elo merasa nggak cerewet gitu?”


Zely menyipitkan matanya, seakan sedang mempersiapkan serangan.


“Itu pasti Jean,” ujar Renata langsung kabur dari posisi duduknya saat mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumah, tepat saat Zely sedang menyiapkan senjata perang.


Benar sekali, ternyata yang datang adalah Jean.


“Hwaa! Pujaan hati guehhh!” teriak Jean.


Jean yang muncul, mendapati Zely langsung berlari dan memeluk erat sobatnya itu. Maklum, keduanya sudah sekian bulan tak ketemu. Terkahir pas liburan semester lalu. Tapi ketiganya tetap berhubungan lewat video call, telepon ataupun pesan.


“Gue lagi makan, elah.”


Benar-benar receh banget, kan. Kemarin masuk rumah sakit karena overdosis, jangan sampai sekarang malah masuk rumah sakit gara-gara keselek.


Jean melepaskan Zely dari pelukannya, tapi bukannya langsung lepas tapi malah mengendus-endus sobatnya itu layaknya seekor kucing yang menemukan aroma ikan goreng.


“Je, lo ngapain, sih?”


Zely sampai heran. Tadi Renata, sekarang giliran Jean yang mengendusnya. Jangan-jangan kedua sobatnya ini terkena virus kucing mematikan.


“Kok agak familiar sama aromanya, ya?” Jean sampai berpikir, tapi ia bingung mencari jawabannya.


“Nah, kan … ternyata bukan cuman gue yang kepikiran perkara aroma parfum tu sweater,” sambar Renata akan pemikiran Jean yang ternyata satu jalan dengannya.


Kedua sahabatnya memikirkan perkara aroma parfum, sedangkan Zely tak terlalu ambil pusing dan lanjut menikmati makanannya.


“Otak gue mampet, bingung pernah nyium aroma itu di mana,” ujar Jean pasrah. “Oiya, gue pikir lo pulang cuman bercanda doang, Zel.”

__ADS_1


Sehari sebelum pulang Zely memang sudah memberikan kabar pada Jean dan Renata kalau ia akan pulang. Hanya saja kedua sahabatnya malah tak percaya.


“Kan gue udah bilang beneran, lo berdua aja yang nggak percaya.”


“Ya, lo dapat ijin pulang kan kalau libur kuliah doang. Sekarang bukan musim liburan,” komentar Jean.


“Tante yang minta gue pulang.”


“Mau ngapain?” tanya Jean.


“Nggak tahu.”


“Lah, nggak jelas,” ledek Renata malah ngakak.


Tiba-tiba Zely langsung kepikiran akan hal itu.


“Eh, iya, ya … gue disuruh pulang mau ngapain, ya?” Zely malah kembali pada hal itu.


“Elo aja nggak tahu, apalagi kita berdua,” respon Jean menyambar sebuah sandwich yang sudah tersedia di meja.


Ponsel milik Zely kembali berdering, saat melihat nama Rafa yang tertera malah langsung saja ia riject.


“Ya ampun, tega banget lo riject panggilan dari laki sendiri,” ledek Renata terkekeh dengan sikap Zely yang malah dengan santai meriject panggilan di ponsel dia.


“Hah? Apaan?” Jean rada bingung dengan komentar Renata pada sikap Zely.


“Lo mau sebuah info penting nggak?”


“Apa?”


“Zely udah nikah.”


Jean yang posisi dia lagi makan, tanpa sengaja malah menelan begitu saja makanan di mulutnya tanpa dikunyah. Alhasil, ya langsung keselek.


“Astaga! Je, lo bikin gue ketar-ketir tahu, nggak,” berengut Renata deg-deg an. Gimana kalau barusan napas Jean tiba-tiba ngadat karena tenggorokannya tersangkut sebuah kue.


Zely awalnya juga khawatir, tapi seketika ia malah ngakak sendiri.


“Ketawa aja lo, gue nyaris ending,” ujar Jean dengan mukanya yang tampak memerah.


“Salahin Rena dong. Udah tahu lo lagi makan, malah dikasih kabar mengejutkan,” terang Zely masih dengan tawanya.


“Nikah? Lo beneran nikah, Zel?”


Jean langsung memastikan tentang hal itu pada Zely. Meskipun hidungnya masih meler gara-gara keselek, tapi rasa penasarannya akan pernikahan Zely yang di maksud Rena barusan membuat itu ia abaikan.


“Iya,” jawab Zely singkat.


Tadi kaget, sekarang tetap saja jean masih kaget. “Jangan bilang kalau lo udah diunboxing sebelum sah.”


Zely terdiam, makanan yang ada di dalam mulutnya pun makin melambat kunyahannya.


“Yang dikatakan Jean nggak bener, kan?” Kini giliran Renata yang ikut bertanya demi memastikan. Melihat reaksi dan ekspressi Zely saat mendengar tebakan Jean, membuatnya jadi ikut curiga.


Ponselnya berdering, membuat diamnya pun langsung buyar. Siapa lagi kalau bukan Rafa. Iya, sepertinya dia tak akan berhenti menghubunginya sebelum panggilan telepon dia ia jawab.


Zely memberi kode pada Renata dan Jean untuk diam sejenak. Karena ia akan menjawab panggilan telepon.


“Hallo,” sahutnya.

__ADS_1


“Zely, kamu …”


“Apaan?” Sebelum Rafa mengomel, ia sanggah duluan omelan dia.


“Sudah ku bilang kirim alamatmu, Zely.”


“Kan udah ku bilang lagi ke rumah teman.”


“Ya ampun, Zel. Pliss, ya. Sudah ku bilang, kan,  kalau kamu mau pergi kemana-mana kasih tahu aku. Bukan aku yang sok perhatian, tapi kamu tahu … mama ngamuknya ke aku.”


“Mama udah ngamuk?” tanya Zely memastikan.


“Udah dari tadi, bocah! Makanya cepetan kamu kirim alamat ke aku.”


Ini kalau sedang berhadapan langsung dengan Rafa, pasti nih dirinya digeplak sama dia. Untungnya hanya pembicaraan lewat telepon.


“Bilang bocah lagi, aku bilang sama mama, nih,” ancam Zely balik.


Renata dan Jean sampai saling pandang saking bingungnya dengan sikap Zely. Kurang meyakinkan kalau dia yang sedang bicara dengan Zely di telepon adalah berstatus suami.


“Satu atau dua jam lagi aku pulang.”


“Astaga! Zely, bisa dong ngertiin aku. Ini posisiku lagi sibuk sama kerjaan di kantor yang numpuk sekian hari gara-gara kamu. Belum lagi nanti siang aku ngajar.”


“Lah, kenapa aku yang disalahin?”


“Tante Bella nggak tahu, ya, masalah kabur-kabur ini. Karena aku tahu, pasti kamu yang bakalan kena marah. Sekarang kamu pulang sendiri atau aku yang jemput?”


Zely memutar bola matanya jengah dengan semua ancaman Rafa. Tapi benar, sih … ia merasa kalau tantenya suka emosi akhir-akhir ini. Bahkan emosi tak terletak pada posisi yang seharusnya.


“Satu jam lagi, ya,” tawarnya.


“Nanti aku ngajar.”


“Kan ngajar masuk siang.”


“Sekarang aku lagi free. Bentar lagi ada pertemuan di luar. Makanya aku minta kamu sekarang kirim alamat mumpung aku lagi free.”


“Tapi, kan …”


“Sekarang!”


“Ck, iya iya. Bawel banget, sih!”


Zely langsung memutus sambungan telepon dan percakapan dengan Rafa. Ini kalau nggak diancam menggunakan nama Bella, akan ia abaikan saja Rafa. Tapi karena masih menghormati tantenya itu, makanya mode pasrah.


Mengirimkan alamatnya pada Rafa agar cowok itu segera menjemputnya. Setelah alamat terkirim, Zely kembali fokus pada Rena dan Jean.


“Kalian kenapa?” tanya Zely bingung dengan ekspressi kedua sahabatnya yang menatapnya aneh.


“Itu teleponan sama suami atau sama musuh, sih?” tanya Jean bingung.


Setahunya suami istri mah ngomong lemah lembut dengan penuh kasih sayang. Lah, Zely malah sebaliknya. Berasa lagi ngomong saya musuh bebuyutan dengan dendam lama yang bersemi kembali.


“Kalau dekat, kayaknya bakalan ada adegan baku hantam,” tambah Renata.


“Sebenarnya gue mau ngasih penjelasan perkara hubungan gue sama dia. Tapi masalahnya waktunya mepet banget.”


“Gimana, sih, Zel … gue padahal bela-belain bangun tidur tanpa mandi langsung ke sini, demi dan hanya untuk elo seorang, Zeyeng.”

__ADS_1


Renata sampai mencubit pipi Jean karena gemas mendengar omongan dan gaya bicara dia. Orang lagi serius juga, malah jadi lawak.


“Ntar, kapan-kapan gue ceritain semua. Itu cowok mau maksa pulang. Ntar dia ngadu sama Tante Bella. Gue malah diomelin.”


__ADS_2