
“Nikah?!”
Rafa sampai bingung sendiri. Ini kenapa Zely malah jadi kaget saat ia katakan jika keduanya sudah menikah, sih. Padahal jelas-jelas tadi dia menyaksikan sendiri ijab kabul di depan matanya. Ya, meskipun ketika cincin pernikahan itu ia sematkan di jari manis Zely, dia sedang tertidur.
“Lah, iya. Kan kita udah nikah. Gimana, sih, kamu.”
“Aku ketiduran?”
“Menurutmu?”
“Heran, kan … nikah, malah tidur. Mentang-mentang terpaksa, tetap saja itu keterlaluan.”
Zely masih mematut-matut cincin yang melingkar di jarinya. Nggak menyangka jika dirinya kini benar-benar berstatus sebagai seorang istri. Mana yang jadi suaminya adalah Rafa. Laki-laki yang sudah membuatnya dalam masalah amat sangat besar.
Pintu dibuka dari arah luar. Tampak Malik, Diana, Hesty dan tentunya Bella datang menghampiri keduanya. Tak hanya mereka, ada bapak penghulu yang menikahkan mereka tadi juga ikut masuk.
“Loh, kamu sudah bangun ternyata, Zel,” ujar Diana mendapati Zely yang tadi mereka tinggalkan masih tertidur dengan nyenyak, sekarang tampak sudah duduk.
Zely menunjukkan jari tangannya dengan cincin yang melingkar pada Diana.
“Tante, ini beneran udah nikah? Maksudku, aku sama Rafa beneran udah nikah?”
Rafa seakan mau melempar dia dengan bantal saking capeknya menjelaskan. Apa penjelasannya barusan begitu sulit dipahami, ya … hingga dia masih saja bertanya.
Diana mengarahkan pandangannya pada Rafa, seakan sedang memberikan tatapan tajam.
“Apa, Ma? Jangan menuduhku belum memberikan penjelasan pada Zely, loh. Aku sudah jelaskan. Otak dia saja yang pendek, jadi begitu susah untuk menerima penjelasanku.”
Tadi tak bisa membalas cubitan Rafa, tapi sekarang dengan cepat tangan Zely mendapatkan lengan cowok itu hingga langsung membalaskan dendam cubitan pada dia dengan kekuatan maksimal.
“Astaga! Zely, kamu …”
“Rafa!” seru Diana yang spontan membuat Rafa menghentikan niat membalas. Kelakuan putranya bahkan lebih terlihat kekanak-kanakan. Kesal pada Zely, malah beneran mau membalas. “Ingat status kamu sekarang, kan? Jangan bikin malu.”
Lihat, kan … ini baru juga nikah. Dirinya seperti berstatus sebagai anak tiri dan Zely yang sekarang jadi anak kandung. Apakah semua orang tua dari laki-laki akan bersikap begitu, jika kita sudah menikah. Mereka lebih fokus pada menantu kesayangan.
“Mulai sekarang kamu dan Rafa adalah suami istri. Jadi, semua langkah yang kamu ambil ataupun yang ingin kamu lakukan, harus ijin dari Rafa dulu sebagai suami kamu,” jelas Bella.
Bella menjelaskan hal seperti itu bukan karena memberikan tekanan, tapi justru agar membuat keponakannya itu menyadari status dia sekarang. Bukan hanya seorang ponakan yang bebas, tapi yang paling utama adalah dia seorang istri.
“Masa iya aku ijin dulu sama dia?”
__ADS_1
“Zely!” bentak Bella tak suka dengan sikap dia.
“I-iya, Tante. Aku paham,” responnya berat hati.
Masih teringat tamparan tadi. Tak ingin jika hal itu terulang untuk kedua kalinya. Karena rasanya bukan sakit bekas tamparan, tapi justru hatinya yang justru lebih terasa sakit.
“Udah, Zel … jangan terlalu dipikirkan,” sambut Malik mencairkan hati Zely yang merasa ditekan terus oleh Bella. Niat Bella memang tak begitu, tapi masalahnya dia berhasil membuat Zely tertekan.
“Kami juga nggak mau jika kamu merasa tertekan saat menjadi menantu di keluarga kami,” tambah Diana. “Asalkan kamu tenang dan nyaman, itu sudah lebih dari cukup, Nak. Semua juga butuh proses, kan. Bikin kue aja butuh proses dari tepung, nggak langsung jadi kue dalam satu tarikan napas.”
“Jadi, aku beneran udah nikah sama Rafa?”
Sejujurnya ia masih tak percaya dengan semua ini, meskipun semua orang di sini mengatakan begitu. Tadi saat mau tidur statusnya masih gadis. Pas bangun malah udah ada tambahan status lagi jadi istrinya Rafa.
“Zel, kamu masih lapar nggak?” tanya Rafa.
“Kan udah makan tadi,” responnya.
“Berarti bukan efek perut lapar yang bikin kamu masih eror, tapi memang otakmu kecil. Haruskah kamu ku ajak flashback ke sekian menit yang lalu hingga percaya jika kita udah nikah?”
“Pake apa? Kantong doraemon?” Zely memberengut saat Rafa memulai kembali adegan baku hantam dengannya.
Hesty sampai mau melempar Rafa dengan hels di kakinya, saking kesal dengan sikap ponakannya yang satu ini. Biasanya dia mode kalem, bahkan bisa dikatakan bicara paling yang perlu-perlu saja, hingga bikin gregetan kalau diajak ngobrol. Lah, ini kenapa malah jadi berubah drastis begini kalau sama Zely.
Pak penghulu menghampiri Malik. “Maaf Pak Malik, ini bisa lanjut untuk segera ditandatangani sama pihak pengantin wanita? Jadi, biar semuanya beres.”
Tadi berhubung Zely tidur, Rafa melarang untuk membangunkan dia. Saat selesai ijab kabul, otomatis proses tanda tangan buku nikah, jadinya ditunda hingga Zely bangun.
“Bisa, Pak. Silakan. Saya sampai lupa,” ungkap Malik merasa tak enak.
Untung saja jadwal Pak penghulu tak terlalu sibuk hari ini, hingga saat Rafa menunda untuk proses tanda tangan pun beliau setujui.
Laki-laki paruh baya itu menyodorkan sebuah buku berukuran tak sampai selebar telapak tangan dewasa ke arah Zely, lengkap dengan sebuah pulpen.
“Silakan pengantin wanita tolong tanda tangan di sini,” pintanya pada Zely.
Tak mengerti apapun, kali ini Zely hanya menurut saja dengan apa yang diperintahkan padanya. Disuruh tanda tangan, yasudah langsung melakukan hal itu.
Setelah ini entah apalagi yang akan terjadi dengan alur kehidupannya. Zely kepikiran dengan kuliahnya yang bahkan belum ada kejelasan sama sekali. Kemarin pulang juga karena minta izin beberapa hari. Setelah izin itu berakhir, ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Jangan bilang kalau kamu masih memikirkan pernikahan yang kamu anggap nggak jelas,” ujar Rafa saat mendapati Zely yang hanya diam sedari tadi. Seolah-olah fisik dia berada di sini, tapi pikiran entah kemana-mana.
__ADS_1
Baru mengenal dalam hitungan jam, tapi bisa ia pastikan jika Zely adalah tipe gadis cerewet dan tak bisa diam. Diamnya hanya saat tidur doang. Tetapi kali ini tampak berbeda.
“Kamu kehabisan daya?” tanya Rafa lagi.
Rafa meletakkan ponselnya di meja dan beranjak dari posisi duduk, saat pertanyaan kedua darinya tak mendapatkan respon dari gadis itu.
Berjalan menghampiri dan duduk dihadapan dia yang masih mode bengong.
“Zely!”
Zely langsung terlonjak kaget saat Rafa memanggilnya dengan nada tinggi tepat di depannya. Untung saja ia tak sedang memegang pisau, efek kaget bisa saja tangannya reflek menusuk cowok ini dengan benda tajam itu.
“Kamu sengaja mau bikin kuping ku budek, ya,” umpatnya.
“Astaga! Harusnya kamu sadar dong, Zel. Daritadi aku panggil nggak nyahut. Ku pikir kamu kesambet setan yang ada di rumah sakit ini.”
“Enak saja,” berengut Zely.
“Jadi?”
“Kuliah ku gimana?”
“Kamu kuliah?”
“Kamu pikir aku anak SD?” Menyipitkan matanya menatap Rafa.
“Mirip,” sahutnya pelan.
“Trus gimana?”
“Nanti dipikirkan lagi.”
“Nantinya kapan? Aku cuman minta izin beberapa hari doang buat pulang. Tapi apa yang terjadi? Kamu memberikan sambutan dengan sebuah masalah yang …”
“Heh, jangan menyalahkan aku terus,” sanggah Rafa akan tuduhan Zely yang sampai detik ini masih saja dia berikan. “Kita di sini sama-sama korban. Sesama korban dilarang saling tuduh.”
Zely memutar bola matanya jengah dengan semua balasan Rafa.
Lagi, Zely kembali ke mode diam. Rafa sampai berpikir, ini lama-lama kalau dibiarkan dia bisa stress beneran kayaknya. Masa iya baru nikah dengannya udah stress.
“Kalau gitu kamu pindah kuliah di sini saja,”
__ADS_1