
Diana seolah terdiam sejenak saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Zely.
Zely mengumbar senyuman manisnya pada Diana. Jujur, ia tak marah sama sekali jika benar apa yang ia pikirkan kini.
“Mama pasti mikirnya aku cewek yang …”
“Bukan itu yang mama pikirkan,” sanggah Diana langsung. “Tapi lebih tepatnya mama marah dan kesal sama Rafa karena sudah berbuat seperti itu. Kami didik dengan benar, tapi malah melakukan hal … maaf, sebelumnya mama sama papa nggak memahami apa yang terjadi sama kalian berdua. Jadi otomatis mama akui memang menyalahkan kamu maupun Rafa dalam kejadian itu.”
“Sekarang mama masih kesal atau tidak sama aku?”
Diana menggeleng cepat menjawab pertanyaan Zely. Menyentuh lembut kepala gadis yang rasanya seperti memiliki anak gadis jika bersama dia.
”Mungkin awalnya mama salah dalam berpikir. Terlalu menyalahkan kamu dan juga Rafa. Tapi kembali mama sadari, mungkin kamu memang ditakdirkan menjadi menantu kami.”
“Bisakah aku berharap jika mama bersikap padaku layaknya mamaku sendiri, bukan sebagai menantu. Aku menginginkan hal itu, karena rasanya sudah lama sekali mamaku pergi.”
Tersenyum getir dengan air mata yang menetes di pipi. Sudah sekian tahun kejadian itu berlalu, tapi tetap saja hatinya selalu terasa diiris-iris saat mengingatnya. Terkadang berharap saat bangun tidur di pagi hari, kejadian itu hanyalah mimpi buruk. Hanya saja semua adalah nyata yang masih belum sepenuhnya bisa ia terima.
“Kalau mama kesal padaku, jangan ditahan. Kalau ada yang mama nggak suka dariku, bisa langsung katakan. Bukankah seorang ibu akan bersikap seperti itu pada anaknya.”
Zely memang baru beberapa hari hadir dalam keluarganya, tapi entah kenapa gadis ini seakan sukses membuat perubahan dalam keluarganya. Ia yang tadinya hanya memiliki satu anak, sekarang berasa memiliki anak perempuan. Rafa yang biasanya hanya mendekam dengan pekerjaan, sekarang lebih sering ia lihat lalu lalang di depannya.
Menghapus air mata yang membasahi pipi Zely dengan telapak tangannya.
“Manis sekali kamu,” puji Diana.
Ya, bagaimana tak manis, jika dibandingkan dengan teman-teman wanita dari Rafa yang sebelumnya pernah dikenalkan padanya, Zely adalah yang terbaik menurutnya. Jelas, karena gadis ini masih berusia 20 tahun. Bisa dikatakan pemikiran dia pun masih terlalu polos dan masih bersikap layaknya anak muda.
“Kalau Rafa berbuat yang tak baik sama kamu, bilang sama mama, ya. Biar mama …”
“Tukang ngadu.”
Pandangan Diana dan Zely seketika mengarah pada asal sumber suara. Yap, siapa lagi pelakunya kalau bukan sosok yang sedang keduanya bicarakan.
Zely mau mengumpat, tapi niatnya tertahan saat melihat penampilan Rafa yang sudah rapi. Tak mengenakan pakaian tadi lagi yang terlalu formal, sekarang justru terkesan lebih santai.
“Kamu mau kemana?”
__ADS_1
“Sudah ku bilang aku ngajar, kan.”
“Sudah ku bilang kalau aku mau ikut, kan?”
Sebentar lagi kelasnya di mulai, sekarang Zely sedang berniat membuat waktunya terbuang lagi. Meladeni bukanlah hal yang baik, karena semakin diladeni, dia akan semakin menyerang balik.
“Tungguin.”
“Aku bisa telat kalau nungguin kamu dulu, Zel. Kamu mau mandi, dandan, belum lagi kalau kejebak macet. Jadi, endingnya aku nggak usah aja sekalian masuk hari ini.”
Sebenarnya Zely ingin membantah, tapi tiba-tiba ia malah jadi merasa kasihan juga pada Rafa. Benar, sih … beberapa hari dirinya seolah membuat kerjaan dan aktifitas Rafa pasti mengalami perubahan.
“Aku nanti nyusul aja,” ujarnya mengalah.
“Tumben ngalah?” tanya Rafa sampai kaget. Padahal ia sudah menebak kalau Zely akan ngeyel minta ditungguin.
Zely sudah berbaik hati mengalah dan sekarang Rafa malah meledeknya. Ini orang sepertinya dikasih hati minta dihantam kayaknya.
“Ya ampun, ini migrain mama bisa kumat kalau kalau kalian berdua berantem terus dari pagi, siang … kebayang kalau malam juga,” keluh Diana seolah dihadapkan pada adegan bakun hantam antara Rafa dan Zely yang tak kenal waktu.
“Sekarang gimana, masuk kamar juga masih belum dapat izin?” tanya Zely pada Rafa. Hanya memastikan, daripada kejadian tadi terulang lagi.
“Aku tungguin, tapi jalan lama. Kalau lama, aku tinggal.”
Zely tersenyum sumringah saat mendegar perkataan Rafa. Barusan nyebelin, sekarang bikin melting. Meskipun terkesan masih ada ancaman, tapi setidaknya dia mau menunggu.
“Baiklah,” girangnya.
Zely langsung bergegas berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ya, kemana lagi kalau bukan kamar. Kamar Rafa lebih tepatnya. Entahlah, ia pun bingung. Karena posisinya di rumah ini masih meragukan.
Sampai di dalam kamar, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma khas Rafa. Indera penciumannya beberapa hari ini seolah terus disuguhi oleh makhluk yang satu itu, otomatis ia bisa menebak kehadiran dia dalam mata terpejam sekalipun.
Seperti apa yang ada dalam pikirannya, Rafa itu cowok simple. Terlihat jelas dari isi dan model kamar dia yang lebih terkesan minimalist. Cowok yang jarang menempati kamar dan lebih banyak berada di ruang kerja.
Zely mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan segera menuju kamar mandi. Ribet memang, bahkan untuk menanggalkan pakaiannya saja rasanya butuh waktu karena satu tangannya masih sakit. Pokoknya apa-apa hanya bisa menggunakan satu tangan.
“Zel, cepetan dong!”
__ADS_1
Zely keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan sebuah handuk yang melilit badannya.
Rafa yang awalnya ingin mengomel, tiba-tiba terdiam. Ketika sadar, langsung balik badan saat dihadapkan pada penampilan Zely yang keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk.
“Zel, bisa nggak, sih, jangan membuatku merasa melakukan kesalahan lagi? Cukup malam itu, jangan lagi.”
Zely dengan sengaja melempar Rafa yang memunggunginya dengan satu handuk yang tadinya berniat ia gunakan untuk mengeringkan rambut.
“Gimana mau pake baju, tanganku sakit. Make handuk dengan satu tangan aja susah.”
“Kenapa buka baju bisa, tapi sekarang nggak bisa makenya.”
“Makanya aku lama. Tadi juga susah bukanya,” berengut Zely.
Rafa malah gregetan sendiri dengan sikap Zely yang menurutnya terlalu nekad berhadapan dengannya. Mau balik badan takut khilaf. Kemarin dijebak dalam satu kamar. Kalau sampai kejadian lagi, ini bukan jebakan namanya, tapi justru godaan berkedok khilaf.
“Aku panggil mama aja kalau gitu buat bantuin kamu. Bentar,” ujar Rafa langsung berlalu dari sana keluar dari kamar.
Sampai di luar kamar, Rafa menarik napasnya dalam-dalam sambil mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba jadi tak karuan. Bisa-bisanya ia berekasi separah ini pada Zely yang tadinya bahkan tak membuatnya merasakan apa-apa.
“Gue mulai gila,” gumamnya segera turun menemui mamanya untuk membantu Zely.
Sampai di bawah, lanjut menuju ke arah teras samping. Karena tadi mamanya ada di sana sambil membaca buku.
“Ma!”
“Apa, sih, Raf … teriak-teriak gitu. Sikap kalem mu lenyap kemana, hem?”
“Mama bantuin aku, ya.”
‘Ngapain?”
“Bukan aku, sih … lebih tepatnya mama bantuin Zely, ya, di kamar,” pintanya dengan sedikit memohon.
“Zely kenapa? Jangan bilang kalau kamau bikin dia luka lagi. Rafa, kamu …”
“Bukan, Ma,” timpal Rafa menyanggah saat dirinya dikira melakukan hal yang buruk lagi. “Tapi, mama bantuin Zely mengenakan pakaiannya, ya. Tangannya sakit, jadinya nggak bisa make sendiri.”
__ADS_1