Istri Tercinta Pak Dosen

Istri Tercinta Pak Dosen
BAB 24 : Butuh Tempat Curhat


__ADS_3

Rafa saat ini berada di kantor, lebih tepatnya sedang meeting dengan beberapa klien dan beberapa bawahannya. Di saat yang bersamaan, ponselnya menerima sebuah pesan singkat. Tadinya berpikir jika itu adalah pesan dari Zely atau mamanya, tapi ternyata malah info dari bank.


Dahinya berkerut, saat ada info penarikan dari salah satu nomer rekeningnya yang ia berikan pada Zely tadi di rumah sakit.


“Dia mau ngapain?”


Rafa malah bingung sendiri. Zely ada di rumah sakit, bagaimana cara dia menarik uang yang jelas-jelas ini lewat penarikan di mesin atm.


“Kamu bantu jelaskan dulu, ya … saya mau menelepon sebentar,” pintanya pada seksetarisnya.


“Baik, Pak.”


Rafa beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Segera menelepon Zely, tapi sudah dua kali panggilan ia lakukan, dia justru tak menjawab. Mending kalau nomernya tak aktif, ini aktif tapi malah sengaja mengabaikan.


Sekarang mencoba menghubungi mamanya, yang mungkin saja sudah sampai di rumah sakit. Belum juga sempat melakukan panggilan, tapi nama Nanta sudah lebih dulu meneleponnya. Langsung menggeser layar datagr itu.


“Hallo.”


“Zely nggak ada di kamarnya.”


“Maksud lo?”


“Gue barusan mau cek kondisinya, tapi dia nggak ada di ruangannya. Sepertinya pergi, karena baju pasien udah ada di dalam lemari. Padahal tadi suster bilang saat mengantar sarapan dia masih ada,” jelas Nanta.


Padahal Rafa berpikir jika hari ini otaknya akan tenang dan fokus menghadapi kerjaan, tapi ternyata harapannya masih suram. Ini masih pagi dan Zely sudah membuat ulah.


“Mau bikin masalah apalagi sih dia. Sumpah, ya, Nan. Gue pusing banget. Ini juga lagi meeting. Barusan ada pesan info penarikan dari nomer rekening yang tadi gue kasih ke dia. Makanya gue hubungin dia langsung, tapi panggilan telepon gue nggak dijawab.”


“Apa mungkin dia pulang ke rumah?”


“Kalau memang pulang ke rumah, otomatis mama udah kasih tahu lah.”


“Iya juga.”


“Makasih infonya, ya. Nanti kalau ada kabar langsung info ke gue.”


Setelah mengakhiri percakapn dengan Nanta, Rafa berniat kembali menelepon Zely. Hanya saja sebuah pesan diterimanya dari Zely. Langsung membuka dan membaca isi pesan.


“Maaf, aku tadi ambil uang kamu tanpa izin dulu. Jangan khawatir, aku nggak kabur apalagi bunuh diri. Males di rumah sakit. Ini aku lagi di jalan menuju rumah teman.”


Tanduk di atas kepalanya seketika mencuat. Bisa-bisanya dia kabur dari rumah sakit di saat ia sibuk di sini. Jadi, bagaimana caranya akan menyusul. Akhirnya ia membalas pesan dari Zely.


“Andai dekat, andai nggak lagi meeting … udah ku tarik kuping mu balik ke rumah sakit!”


Mengirim pesan balasan.

__ADS_1


Heran, kan … sepertinya dia memang menghindari panggilan telepon darinya. Setiap ia hubungi, malah mengabaikan. Tapi saat pesan, pasti dia balas.


“Kan aku sudah minta maaf. Nanti aku langsung pulang ke rumah saja. Aku nggak mau balik ke rumah sakit. Makanannya nggak enak.”


Hanya menggeleng-geleng dengan raut muka kesal. Dia tetap saja memperkarakan perihal makanan. Padahal jika itu yang dia permasalahkan, kan tingga memberitahukan padanya. Biar ia minta orang untuk mengantar ke rumah sakit.


“Shareloc, setelah meeting ku susul.”


Parah. Pesannya hanya dibaca tanpa membalas.


Rafa kembali masuk ke dalam ruang meeting. Meskipun Zely tak membalas pesannya, setidaknya ia tahu jika dia pergi ke rumah teman. Entah teman mana yang dia maksud. Usai meeting akan ia minta info lebih jelas dari Bella. Wanita paruh baya itu pasti tahu siapa saja teman Zely.


Rafa dengan kekesalannya karena tak mendapatkan balasan pesan dari Zely, sedangkan Zely sendiri baru sampai di rumah Renata.


Mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Maklum saja, ini masih pagi.


Pintu dibuka dari arah dalam. Tampak seorang wanita paruh baya mucul dari balik pintu, menelisik dengan seksama pada gadis yang tengah berdiri dihadapannya.


“Loh, Zelysta?”


“Iya, Tante. Ini aku,” balas Zely langsung menyambar dan mencium punggung wanita paruh baya bernama Amira yang merupakan mamanya Renata.


“Kamu pulang kapan? Kaget Tante, tiba-tiba kamu nongol di sini,” ungkap Amira.


“Udah dari kemarin, sih, Tante. Lagi nggak enak badan, makanya baru sempat main ke sini,” terang Zely.


Amira mengedarkan pandangannya ke arah luar.


“Kamu ke sini sama siapa?”


“Pake taksi.”


“Yasudah, sana langsung masuk saja, ya. Rena masih di kamar. Nanti kalian langsung sarapan aja, itu sudah disiapin Bibik di meja makan,” jelas Amira pada Zely.


“Makasih, Tan.”


Zely segera masuk dan berjalan menuju ke lantai dua rumah. Salah satu hal yang membuatnya berat saat kuliah ke luar adalah Renata dan Jean. Jujur, ia mendapatkan kasih sayang orang tua bahkan dari kedua orang tua sahabatnya itu.


Perlahan, membuka pintu kamar bercat coklat tua itu. Mengintip dan mencondongkan kepalanya disela pintu yang terbuka, menelisik di mana posisi si pemilik kamar. Tersenyum saat mendapati Rena masih meringkuk di kasur dengan selimut tebal yang menutupi badan hingga hanya menyembulkan bagian kepala dia.


Masuk perlahan tanpa suara. Baru juga berniat untuk menjahili Rena dengan melompat ke atas tempat tidur hingga menimbulkan rasa kaget, tapi niatnya malah diketahui lebih dulu oelh si pemilik kamar.


“Mau ngapain lu, hah?” tanya Rena memutar posisi  tidurnya dan menatap Zely dengan mata menyipit.


“Ish, Rena! Gue kan mau jahilin elu. Kenapa malah bangun, sih.”

__ADS_1


Zely memberengut, tapi tetap saja niat tadi ia lakukan. Bukan hanya melompat ke atas tempat tidur, tapi justru menghimpit Rena dengan badannya dan memeluk sobatnya itu erat.


“Zel, berat woy. Gue gepeng!”


“I miss you sobat gue tersayang dan tercinta.”


Zely malah makin mempererat pelukannya pada Rena yang sudah merasa teraniaya di bawah. Bisa-bisanya dia menghimpitnya dengan santai.


Rena melempar Zely dengan guling ketika dia melepaskannya dari pelukan dan himpitan berat seperti layaknya beban kehidupan.


“Napas gue habis,” keluhnya merasa sesak. Sedangkan Zely malah terkekeh melihat muka tertekan Renata.


“Sorry,” ucap Zely memasang muka polos.


“Kebiasaan,” umpat Rena.


Rena menyambar karet ikatan rambutnya yang ada di nakas, kemudian mengumpulkan rambut sepunggungnya dalam satu genggaman dan mengikatnya jadi satu. Kemudian menatap fokus pada Zely yang duduk berhadap-hadapan dengannya.


“Terjadi sesuatu?”


Zely menggeleng cepat.


“Lo bilang masuk rumah sakit.”


“Gue nggak bisa tidur gara-gara banyak pikiran. Kebanyakan minum, malah overdosis.”


Renata menggeplak kepala Zely dengan komik yang ada di sampingnya. “Zel, lo kalau beneran mau mengakhiri hidup di muka bumi ini, jangan pake cara begituan. Resiko kematian juga masih 50:50. Kalau lo mau, terjun aja dari lantai 50. Nah, dijamin dah … nyampe bawah langsung almarhumah.”


“Ish, sadis banget. Lo nyumpahin gue beneran almarhumah, ya.”


“Kalau nggak beneran berniat, ngapain lo minum obat tidur sampai over begitu.”


“Banyak masalah. Gue nggak bisa tidur.”


Renata malah tertawa mendengar keluhan Zely kali ini. Jujur, sekian tahun kenal, sahabatnya yang satu ini benar-benar minim keluhan hidup. Sekarang tiba-tiba dia mengeluh dengan muka menyedihkan. Gimana ia tak dibuat tertawa.


“Seorang pewaris tahta keluarga Baskara yang selama ini mode aman damai dan sentausa. Tiba-tiba lo sekarang bisa ngeluh. Gue kaget, Zely.”


“Bukan sekedar keluhan, tapi ini benar-benar masalah yang bikin gue kaget dan rasanya berat banget.”


Mata Rena malah fokus pada sweater hodie yang dikenakan oleh Zely saat ini.


“Ini sweater punya siapa? Kok mirip punya cowok.”


Saat kabur dari rumah sakit tadi Zely dengan sengaja memakai sweater milik Rafa yang dia tinggalkan karena memang suasana pagi ini lumayan dingin. Sedangkan ia hanya mengenakan tanktop.

__ADS_1


__ADS_2