
“ Ini mengenai mengenai biaya operasi nya Kinara.” Tutur AL.
“ Iya tapi kami belum bisa mendapatkan uang dengan jumlah yg segitu banyak nya, Dok.” Jelas Ayah nya Kinara.
“ Karna itulah saya memanggil Bapak kemari, masalah biaya operasi Kinara, biarkan saya membayar nya.” AL mulai bicara terus terang.
“ Tidak Dok, ini bukan lah tanggung jawab Dokter, tetapi ini kewajiban kami sebagai orang tua.”: Tolak Ayah nya Kinara halus.
“ Saya mengerti Pak, akan tetapi kalau Kinara tidak segera operasi, aku takut hal hal yg tidak kita inginkan terjadi.” AL mencoba untuk membujuk Ayah Kinara.
“ Atau jika memang Bapak merasa tak mau menerima bantuan saya secara cuma cuma, maka Bapak bisa menganggap nya sebagai pinjaman, nanti kalau Bapak punya uang, maka Bapak bisa mengembalikan nya.” Tambah AL lagi.
Ayah nya Kinara terdiam sejenak.
“Kinara pasti akan marah jika dia tau saya terima bantuan dari Dokter.” Tutur Ayah nya Kinara tetap kekeh.
“ Kinara memang pasti marah, tetapi itu jika dia mengetahui nya, kalau dia tak tahu makan dia tak akan marah.” Jelas AL masih membujuk.
“ Tetapi saya tak mungkin merahasia kan hal ini dari nya, cepat atau lambat Kinara akan mengetahui nya, dan saat itu saya tak bisa mengelak.” Tegas Ayah nya Kinara.
AL mengambil nafas dalam, apa yg di katakan oleh Ayah nya Kinara memang benar ada nya.
__ADS_1
“ Semua nya ada di tangan Bapak, Bapak lebih memilih menerima kemarahan Kinara, atau justru memilih kehilangan Kinara untuk selama nya.” Hanya ini cara yg terakhir yg bisa di lakukan AL untuk meyakin kan Ayah nya Kinara.
Ayah nya Kinara tercekat, sungguh ini benar benar membuat nya dilema.
Karna tak ada tanggapan apapun dari Ayah nya Kinara, AL mencoba berkata lagi.
“ Dan aku yakin, Bapak pasti tak akan mau kehilangan Kinara bukan.” Ujar AL.
“ Baiklah, saya akan pertimbangkan penawaran Dokter.” Akhir nya begitu Ayah nya Kinara menanggapi.
“ Saya tunggu jawaban Bapak secepat nya.” Sahut AL.
Ayah nya Kinara mengangguk.
“ Silahkan Pak.” Sahut AL pelan.
“ Mengapa Dokter begitu baik pada kami, Dokter bahkan tak sungkan untuk mengeluarkan biaya yg tak sedikit dan semua itu hanya demi seorang pasien?.” Itu Tanya Ayah nya Kinara.
AL mengambil nafas dalam.
“ Saya rasa Bapak sudah mengetahui jawaban nya.” Sahut AL seadanya.
__ADS_1
“ Saya tau, sudah kewajiban seorang Dokter menolong pasien nya, namun kalau tentang biaya maka itu bukan lah tanggung jawab dari seorang Dokter.”
AL terdiam, rasa nya tak mungkin dia mengatakan kalau dia melakukan semua ini semata semata karna dia mencintai Kinara.
Melihat tak ada tanggapan dari AL, Ayah nya Kinara mulai berkata lagi, dia mengerti pasti lah ada suatu hal yg tak mungkin bisa AL kata kan.
“ Baiklah jika kau tak ingin menjawab nya, Bapak mengerti itu.” Ayah nya Kinara berkata sambil menepuk pelan pundak AL.
“ Aku mencintai mu putri mu.” Akhir nya AL berkata terus terang. Tak masalah bagi nya untuk berkata terus terang, mungkin dengan cara ini juga, Ayah nya Kinara bisa mengerti kecemasan serta yg ke khawatiran yg ia rasakan, sebab AL yakin mereka pasti merasakan apa yg dia rasakan.
“ Kenapa harus Kinara, Kau tau kan Kinara itu seperti apa, Kau seorang Dokter, sehat, tampan, mapan, dan berasal dari keluarga yg berada, sangat bertolak belakang dengan putriku.” Ujar Ayah nya Kinara.
“ Karna perasaan tak bisa memilih dan tak bisa di paksakan Pak.” sahut AL dengan santay nya
Ayah nya Kinara hanya mengangguk anggukan kepala nya.
“ Terimakasih Dok, atas perhatian & kepedulian Dokter terhadap putri saya, Kinara sungguh beruntung karna dia memiliki mu dalam hidup nya.” Tutur Ayah nya Kinara sambil tersenyum arief.
“ Ya sudah, Saya pamit pulang dulu, secepat nya saya akan memberikan keputusan.”
AL mengangguk.
__ADS_1
Ayah nya Kinara pun berlalu dan bergerak untuk pulang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ayah Kinara terus saja berfikir, apakah langkah yg harus dia ambil.