
Melihat AL yg hanya tercengang sang Bunda berkata lagi.
“ Kau diam, apakah itu artinya kamu setuju dengan keputusan Bunda Fi.” Itulah lanjut sang Bunda.
“ Nggak Bun, aku sama sekali tidak setuju.” Tegas nya.
“ Bun, aku bisa cari pasangan sendiri.” sambung AL lagi.
“ Fi, dari dulu kamu selalu berkata begitu, namun nyatanya sampai sekarang kamu belum pernah mengenalkan seorang wanitapun pada Ayah dan Bunda.”
AL menghela nafas kasar mendengar perkataan Ibu nya.
“ Bun, Aku butuh waktu.” Tutur AL dengan nada putus asa.
“ Tapi aku mohon sama Bunda, Bunda gak perlu lah jodoh jodohin aku segala, kek orang yg gak laku aja aku nya, Lagian ini bukan zaman siti nurbaya Bun.” Tambah AL.
“ Lah terus Bunda harus apa coba, kamu jangan kan mau nikah, pacar aja sampai sekarang tak punya.” Tutur sang Bunda setengah meledek.
“ Iya, aku emang gak punya pacar.” sahut AL
“ Namun bukan berarti aku tak mencintai seseorang Bun.” Tambah nya.
Ibu nya tersenyum tipis mendengar perkataan putra nya, tujuan Ibu nya berbicara demikian adalah ingin mengetahui apa yg ada di benak putra nya itu.
“ Benarkah, kamu mencintai seseorang?.” Tanya Ibu nya dengan reaksi yg seolah biasa saja.
“ Iya Bun, dari dulu hingga sekarang aku hanya mencintai nya Bun, aku gak mau siapapun selain Dia.” AL mulai curhat nih kek nya.
“ Kenapa gak kamu ajak nikah aja dia.”
Lagi lagi AL menghela nafas kasar.
“ Kenapa Fi, apa yg membuat kamu seolah tak suka saat Bunda memintamu menikah? apakah gadis itu masih sekolah?.”
“ Gak Bun, tapi masalahnya.”
“ Apa masalah nya Fi, ceritalah siapa tau Bunda bisa ngasih solusi.”
“ Masalah nya, sepertinya dia tak menyukaiku Bun.”
Ibu nya langsung tertawa mendengar nya.
__ADS_1
AL menatap sang Bunda dengan pandangan heran.
“ Apanya yg lucu Bun.” tanya AL sedikit kesal.
“ Fi, fi, kamu itu sudah dewasa loh, tapi buat nyatain perasaan sama perempuan aja kamu tak berani.” Ejek sang Bunda.
“ Apa kamu takut di tolak?.” Sambung sang Bunda lagi.
AL menggelengkan kepala nya.
“ Terus apa kendala nya yg membuat kamu jadi sepengecut ini.” Tanya Ibu nya.
“ Restu kalian.” sahut AL datar.
“ Aku takut Ayah & Bunda tak akan merestui hubungan kami, aku nggak mau hal itu sampai terjadi.” sambung AL.
“ Apapun keputusan yg kamu ambil, Ayah & Bunda akan selalu dukung kamu nak.” Sambil berkata sang Bunda menepuk pelan bahu putra nya, untuk memberi nya semangat & juga dukungan.
“ Terimakasih Bun.” AL meraih telapak tangan sang Bunda dan mengecup nya.
“ Bun, Aku mau cerita tentang Dia, aku harap Bunda tak berubah fikiran setelah aku menceritakan mengapa aku belum berani untuk menyatakan perasaan.” AL mulai berbicara serius.
“ Dia hanya seorang gadis sederhana.”
“ Fi, Bunda tak pernah menilai orang dari status sosial nya atau dari kalangan mana dia berasal.” sang Ibu menyela.
“ Iya aku tau Bun.” sahut AL.
“ Tapi itu bukan lah point pentingnya Bun.”
“ Lalu?.” Tanya sang Bunda tak sabar.
“ Dia mengidap penyakit yg sangat parah, bahkan bisa merenggut hidup nya.” AL mulai berterus terang.
“ Innalillahi, Sakit apa dia Fi?.” Sang Bunda mulai penasaran.
“ Leokimia stadium 3, dia adalah pasien yg aku temui di rumah sakit tadi pagi Bun.”
Sang Bunda menghela nafas panjang.
“ Kamu baru bertemu dengan nya sekali tapi kamu sudah menyukai nya meskipun kamu tau dia dalam keadaan sakit.” Tutur sang Bunda.
__ADS_1
“ Apakah sakit & sehat nya jadi masalah bagi Ayah & Bunda.” Tanya AL dengan nada kecewa.
“ Fi, coba realistis nak, dengan penyakit yg dideritanya itu kemungkinan dia buat bertahan hidup juga tak akan lama lagi.”
“ Bun plish, jangan bicara yg tak ingin aku dengar, aku tau dia sakit parah, tetapi aku yakin jika Tuhan ingin aku & dia bersama maka Dia pasti akan sembuh, aku akan melakukan apapun semampu ku untuk menyembuhkan Bun.” Sambil berkata demikian mata nya mulai berkaca kaca.
Sang Bunda menyadari bahwa Putra nya itu begitu mencintai gadis itu, itulah mengapa AL menjadi sangat emosional.
“ Maafkan Bunda, Bunda tak bermaksud menyakiti perasaan mu ataupun memandang rendah gadis itu, tetapi Bunda hanya tak ingin kamu menderita Fi.”
“ Apa maksud Bunda.” Tanya AL tak mengerti
“ Kamu akan sangat terluka nanti nya, jika suatu saat terjadi hal yg tidak kita ingin kan pada gadis itu, kamu pasti akan hancur Fi, & hal itu yg tak Bunda ingin kan, Bunda ingin kamu bahagia nak.”
“ Aku mengerti Bun, dan aku paham apa maksud perkataan Bunda, tapi perasaan tak bisa di bohongi Bun, aku hanya mencintai dia, hanya dia, meskipun aku tau keadaan nya sangat parah, tapi aku tetap mencintai nya Bun.” Tegas AL.
“ Kalau begitu perjuangkan lah.” sang Ayah menyela dari ambang pintu, ternyata sejak tadi dia mendengar percakapan antara Ibu dan Anak itu.
“ Ayah.” tutur AL & Sang Bunda bersamaan.
Sang Ayah menghampiri mereka.
“ Siapa nama gadis itu?.” Tanya sang Ayah kemudian.
“ Ayah.” sang Bunda menyela dia tak ingin suami nya salah mengambil keputusan.
“ Bun, cobalah berfikir dari sudut pandang putra mu, jika Alfi tetap mencintai nya meskipun dia tengah sakit parah Ayah yakin dia bukan lah gadis sembarangan, Ayah yakin putra ku tak mungkin salah menilai seseorang.” AL merasa lega mendengar penuturan sang Ayah, sementara Sang Bunda hanya bisa terdiam.
“ Katakanlah Fi, siapa nama nya?.”
“ Kinara Yah.”
“ Oh Kinara ya, nama nya bagus.” sahut sang Ayah.
“ Ayah yakin dia pasti gadis yg cantik.”
AL hanya tersenyum mendengar nya.
“ Eits tunggu tunggu.” Tutur sang Ayah sambil seolah mengingat ngingat sesuatu.
Ada apakah gerangan?.
__ADS_1