Izinkan Aku Mencintaimu.

Izinkan Aku Mencintaimu.
KEMOTERAPI.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit Pertamina Prabumulih, jantung Kinara tiada henti henti nya berdebar debar, ini adalah pertama kali nya dia akan menjalankan kemoterapi.


“ Bismillahirrahmanirrahim.” ucap Kinara dalam hati sambil terus menelusuri koridor rumah sakit menuju ruangan dimana dia akan melakukan kemoterapi.


Karna sudah di jadwal kan, Kinara tak perlu menunggu lama atau pun mengambil nomor antrian.


Dengan perasaan cemas dan gugup Kinara di dampingi oleh sang Kakak masuk keruangan tersebut.


Disana Dokter AL dan beberapa Dokter serta suster lain nya telah menunggu.


“ Maaf kami terlambat.” Tutur Henky kakak nya Kinara rendah hati.


“ Silahkan masuk.” ujar Dokter AL.


Kinara dan sang kakak telah duduk dengan tenang.


“ Bisa kita mulai sekarang Dok?.” Tanya suster Anggi asisten Dokter AL.


“ Ara apa kau siap?.” Tanya AL lembut, selembut tatapan mata nya.


Kinara mengangguk ragu ragu, terus terang saja dia sangat takut dan juga gugup.


AL menyadari perasaan Kinara tidak lah tenang.


“ Jangan takut, aku bersamamu.” sebuah pesan chatt di kirim oleh AL pada Kinara untuk menyemangati nya.


Mendengar ada notifikasi di ponsel nya, Kinara pun melihat ponsel nya sebentar.

__ADS_1


Begitu dia membaca pesan chatt nya, ada rasa tenang di dalam hati nya, perkataan AL berhasil membuat nya bersemangat.


Kinara tak membalas pesan chatt yg di kirim oleh AL, sebagai gantinya dia menatap AL yg saat itu sudah berdiri di dekat brankar dimana Kinara akan berbaring dan melakukan kemoterapi.


AL menyadari dan mungkin mengerti arti tatapan Kinara, Hingga dia tersenyum sambil mengangguk pelan.


Kinara berdiri dan mulai berbaring diatas brankar, kemudian setelah semua nya siap, kemoterapi pun segera di lakukan.


Dan Alhamdulillah semua nya berjalan lancar, tubuh Kinara pun merespon dengan baik.


Untuk beberapa saat Kinara sengaja di berikan obat bius agar dia bisa beristirahat total, dan obat bisa bekerja dengan maksimal.


AL menarik nafas panjang, ia sedikit merasa lega lantaran kemoterapi nya berjalan lancar, dia hanya memikirkan satu hal, yaitu efek dari kemoterapi tersebut akan sangat mempengaruhi Kinara.


30 menit kemudian, Kinara mulai membuka mata nya, Yg pertama kali dia lihat adalah AL yg masih setia berada di ruangan itu bersama sang kakak dan 1 suster lain nya.


Kinara mencoba untuk duduk, di bantu oleh suster Anggi


“ Aku sedikit merasa ringan Dok.” Sahut Kinara lemas.


“ Artinya obat yg kita berikan di terima dengan baik oleh tubuh mu.” Jelas AL.


Kinara tak begitu mendengar perjelasan AL, karna dia mulai merasa gelisah, antara rasa ingin muntah dan rasa yg benar benar tak enak di perut nya., karna itulah ia merasa sangat gelisah.


Keringatpun mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh nya.


“ Ara ada apa?.” Henky sang Kakak yg menyadari kegelisahan Kinara mulai bertanya.

__ADS_1


Kinara hanya menggelengkan kepala nya, sekuat tenaga dia menahan rasa ingin muntah itu.


AL paham betul apa yg di rasakan Kinara, oleh sebab itu dia meminta suster Anggi untuk membantu agar Kinara bisa bangun dan berdiri.


Tepat setelah kaki nya menapak diatas keramik ruangan tersebut, Kinara benar benar tak kuasa menahan nya lagi, hingga langsung saja semua isi perut nya keluar tanpa sisa. Untung Dokter AL dan Suster Anggi telah bersiap dengan semua itu.


Kinara memuntahkan semua isi perut nya, sampai cairan berwarna kebiruan keluar dari mulut nya.


Demgan sabar dan telaten AL membantu membersihkan sisa sisa muntah yg ada di tubuh Kinara, bahkan tanpa rasa jijik sedikitpun, iya itu memang tugas seorang Dokter, akan tetapi biasa nya kalau masalah membersihkan pasien itu bukan lah suatu tugas Dokter kan.


Tetapi AL melakukan hal itu atas kemauan nya sendiri karna ia ingin merawat Kinara sebaik mungkin.


Suster Anggi yg menyaksikan hal itupun sempat bingung, baru kali ini ia melihat AL sampai begitu terhadap pasien.


“ Sekarang apakah kau masih merasa gelisah?.” Tanya AL sambil mendudukan Kinara diatas brankar.


Kinara hanya menggelengkan kepala.


“ Mual dan muntah adalah efek dari kemoterapi yg kau jalani, jadi aku harap kelak kamu tak merasa bingung jika kita melakukan kemoterapi yg kedua nanti.” Jelas AL penuh pengertian.


“ Baik Dok.” Kinara bicara dengan nada suara yg sedikit bergetar mungkin karna kondisi nya yg sedikit lemas.


“ Dan masih ada 1 lagi yg akan kau alami akibat kemoterapi, yaitu rambut mu pasti akan mulai rontok, itu adalah efek dari bahan kimia yg di masukan kedalam tubuh mu.” Tambah AL.


Kinara mengangguk dengan Air mata yg mulai mengalir di pipi nya. Dia sudah membayangkan jika suatu saat dia sudah tak memeiliki rambut lagi.


AL merasa sedih melihat Kinara yg mulai meneteskan air mata, akan tetapi dia tak bisa berbuat apapun, oleh karna itulah dia memilih keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


“ Istirahat lah Ara, 15 menit kemudian baru kau boleh pulang.” Usai berkata demikian, AL langsung keluar dari ruangan itu, dengan perasaan yg tak bisa di jelaskan.


__ADS_2