Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
bab 30 Perdebatan


__ADS_3

" Jangan panggil Tuan, Sekarang keluarlah. Tinggalkan aku sendiri." ucap Zain sedikit tegas


" Maaf Tuan, saya harus memanggil anda apa? Saya harus memastikan Anda memakannya dan meminum obatnya. Ini sudah tanggungjawab saya." jawab Yulvi dengan sedikit ketegasannya.


" Ana...!" akhirnya Zain memanggil nama kesayangan untuk Yulvi


Yulvi mendengar nama itu keluar dari mulut a Zain dia merasa hatinya berdesir hebat dan airmata keluar dengan sendirinya.


" Iya Kak...!" jawab Yulvi lirih


" Pergilah....!" hanya itu yang Zain ucapkan


" Ga mau Kak,...!' Yulvi juga dengan pendiriannya


" Cukup Ana,biarkan aku sendiri. Pergilah...!!!" titah Zain pada Yulvi karena dia ingin menenangkan dirinya


" Tapi Kak, Aku mau tetap disini liat Kakak makan sampai habis dan meminum obatnya." Yulvi masih dengan ketegasannya.


" Terserah, Sinikan makanannya!" ucap Zain menyerah dengan adanya Yulvi di depannya. Yulvi mengambil makanan Zain dan memberikannya. Zain hanya mengaduk-aduk makanannya, merasa tidak ada keinginan untuk makan. Yulvi melihat itu dia ingin menawarkan diri untuk membantu Zain tapi masih sungkan.


" Kak, kenapa Cuma di aduk-aduk. Sini aku bantu! " ucap Yulvi sambil mengambil makanan yang ada di pangkuan Zain. Zain hanya menatap Yulvi dengan kagetnya.


Yulvi mengambil kursi depan meja kerja Zain dan nembawanya menuju depan Zain, dia duduk di depan Zain dan siap menyuapi Zain.


" Ayo Kak, aaaa...buka mulutnya!" titah Yulvi, yang hanya dituruti Zain dengan membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.


Yulvi nenyuapi Zain dengan telaten sampai makanan itu habis, Zain hanya diam dan nenurut sambil menatap Yulvi heran. Karena Yulvi yang liat sekarang, seorang gadis yang tegas dengan pendiriannya. Zain sampai menyerah berdepat dengan Yulvi.


" Sudah Kak, sekarang ini obatnya minum dulu." Yulvi menyiapkan obat Zain dan memberikan pada Zain, Zain hanya menuruti dan meminumnya. Yulvi membereskan bekas alat makan Zain dan akan beranjak meninggalkan Zain ke dapur. Tetapi Zain menahan tangan Yulvi agar tetap berada di depannya.


" Ada apa Kak, Aku mau simpan ini dulu ke dapur?" tanya Yulvi karena dia merasa Zain menahannya

__ADS_1


" Tunggu dulu...," ucapa Zain sambil menahan tangan Yulvi


" Iya Kak, ada apa?" Yulvi kembali bertanya


" Kenapa bisa disini? Apa kabarmu?"


" Aku baik Kak, disini aku niat bekerja. Ada tetanggaku yang menawarkan pekerjaan, saat itu Yulvi juga butuh pekerjaan jadi Yulvi terima. Yulvi juga ga tau, orang yang akan Yulvi rawat itu Kak Zain." jelas Yulvi pada Zain


" Sekarang kamu tau keadaanku, apa kamu akan pergi?" Zain kembali bertanya karena keadaannya yang sudah tidak berdaya


" Kenapa Yulvi harus pergi? Kalau boleh jujur, Yulvi menunggu kabar Kakak selama ini." Yulvi menjawab dengan jujur


" Benarkah? Sekarang apa kamu menyesal dengan keadaan Kakak sekarang, yang sudah tidak bisa apa-apa?" Zain masih dengan ketidak percaya diriannya


" Kenapa Kakak tanya begitu? Yulvi tetep pingin disini rawat Kakak sampai sembuh, jadi Kakak harus tetap semangat kita berjuang bersama." Yulvi menyemangati Zain agar bisa berjalan kembali, dia akan tetap bersama Zain sampai sembuh dan bisa berjalan kembali.


" Ana,,,!" panggil Zain sambil menatap Yulvi


" Maaf sudah buat kamu khawatir, apa kamu mau dampingi aku untuk berjuang bisa kembali berjalan?"


" Yulvi akan selalu mendampingi Kakak, apa aku boleh mendampingi Kakak?"


" Aku tidak berdaya Ana, apa kamu tidak ingin pergi dari sini. Carilah pekerjaan yang lebih layak untukmu, tidak usah mmerawat manusia tidak berdaya ini." ucap Zain


" Kenapa Kakak begitu, Ini pekerjaan yang Yulvi pilih. Yulvi akan selalu disini untuk Kakak jika di Ijinkan." jawab Yulvi dengan sedikit tegas


" Kalau itu keputusanmu, Kakak tidak akan menghalanginya. Tapi tolong jangan jadikan Kakak beban untukmu Ana!"


" Aku justru bersyukur bisa bertemu Kakak, sekarang Yulvi sendiri Kak. Yulvi sudah tidak punya siapa-siapa lagi." ucap Yulvi dengan raut wajah sedikit murung.


" Maaf kan Kakak, tidak ada di sampingmu saat-saat kamu terpuruk. Ayah sudah bahagia Ana, sudah bersatu dengan Ibu." lirih Zain karena begitu menyesal tidak bisa menjadi sandaran untuk Yulvi

__ADS_1


" Kak Zain tau kalo Ayah sudah pergi?" tanya Yulvi heran karena dia belum sempat bercerita


" Aku tau semuanya tentangmu, kecuali kedatangan mu kehadapnku saat ini." itu yang Zain ucapkan adalah kejujuran


" Kenapa Kakak tidak pernah hubungi Yulvi?"


" Aku tidak berani dengan keadaanku saat ini Ana, aku begitu rapuh dan tidak berdaya."


" Aku sangat terpuruk Kak saat itu, andai Kakak mau menghubungi ku saja itu sudah sangat menghiburku dikala itu."


" Aku tidak mau memberikan harapan yang akupun tidak bisa berharap dengan keadaan ku saat ini " ucap Zain dengan lirih


" Kakak harus semangat, Yulvi akan disini bersama Kak Zain."


Mereka berbincang sampai tidak ingat waktu yang sekarang hampir pukul 10 malam, Yulvi belum kembali ke dapur dan Bunda Zain meninggalkan mereka untuk saling berbicara. Yulvi sampai kaget saat melihat jam yang hampir menunjukan pukul 10 malam.


" Ya Allah, sudah hampir jam 10 Kak. Sekarang Kak Zain harus istirahat, aku keluar ya Kak!" pamit Yulvi


" Aku sudah terbiasa tidur larut malam, tidak usah khawatir seperti itu.'' dengan santainya Zain menanggapi kekhawatiran Yulvi


" Jangan seperti itu Kak, tidak sehat tidur terlalu larut. Sekarang Kakak harus istirahat."


Ucap Yulvi dengan tegasnya, lalu mendorong kursi roda Zain menuju ranjang Zain.


" Aku bisa sendiri Ana..., Kau pergilah!" Zain mengusir Yulvi karena dia merasa malu jika harus Yulvi yang membantunya berbaring di ranjangnya


" Tidak Kak, ayo Yulvi bantu." Yulvi membungkukkan badannya, dan mulai membantu Zain untuk berpindah ketempat tidurnya.


Deg Deg Deg,...


Irama Jantung mereka bersautan saat mereka dalam posisi yang begitu dekat.

__ADS_1


(*A**pa mereka akan menjadi semakin dekat*)


__ADS_2