
Saat makan siang, ada seseorang datang tidak di undang. Dia masuk bersama Asisten Zain yang sudah kembali sehat. Ya Nicho sudah sehat kembali, dia bisa datang ke Singapur dengan seseorang yang dari dulu menaruh hati pada Zain. Sebenarnya Nicho tidak ingin membawanya tetapi perempuan itu memaksa. Dengan kedatangan mereka Zain antara suka dan tidak suka, suka karena teman sekaligus asistennya sudah sehat kembali sedangkan orang yang di bawa asistennya itu Zain merasa tidak suka.
Wilona dia adalah teman kuliah Zain dan juga Nicho, dia sudah menyukai Zain sejak pertama mereka berkenalan. Namun Zain tidak tertarik sedikitpun padanya, meski ia memiliki tubuh bagus bak gitar spanyol dan wajah cantik bak model. Zain sama sekali tidak meliriknya, berbeda dengan Yulvi yang hanya gadis sederhana dengan pakaian yang tertutup dan wajah ayu natural. Zain begitu mencintai Yulvi.
"Assalamu'alaikum, every body." Nicho masuk sambil mengucapkan salam, dan langsung menghampiri Zain di meja makan. Dia tidak begitu kaget dengan keberadaan Yulvi karena Bunda Zain mengetahui Yulvi darinya.
" Wa'alaikum salam,,," jawab mereka serempak. Yulvi begitu canggung dengan keadaan sekarang, karena dia orang luar dan seorang pelayan duduk di meja makan bersama Tuannya.
" Hai, Zain gimana kabarnya?" Tanya Wilona sambil bersalaman yang dilanjutkan mencium pipi kanan dan kiri Zain, dan membuat Yulvi memalingkan wajahnya.
" Baik, ada apa kemari?" Jawab Zain singkat dan menanyakan keperluan Wilona, karena Zain tidak menyukainya apa lagi sekarang ada Ayah dan yang paling penting ada Yulvi di hadapannya.
" Kok gitu sih Zain, aku kan mau jengukin kamu!" jawab Wilona dengan nada manja.
" Hai, Om apa kabar?" karena tidak mendapat respon Zain, Wilona menyapa Ayah Zain. Nicho menyaksikan itu hanya tersenyum geli, melihat tingkah Wilona.
" Baik, gimana denganmu?" jawab ayah Zain
" Baik juga om, ini siapa Om?" tanya Wilona sambil menunjuk Yulvi, dengan itu membuat Yulvi bingung.
" Dia,..." Zain akan menjawabnya.
__ADS_1
" Dia, yang merawat Zain dan menemani Zain untuk melakukan semua kebutuhan Zain." sebelum Zain menjawab Sang Ayah sudah melanjutkan jawabannya.
" Oooh, pelayan Zain gitu ya Om?" jawaban Wilona sungguh membuat Yulvi tersadar lalu dia akan berdiri dari duduknya namun tertahan oleh genggaman Zain.
" Dia, Calon pasangan hidupku!" jawab Zain datar sambil menatap muka Yulvi, ucapan Zain membuat semua orang terkejut apalagi Yulvi yang jantungnya hampir lepas karena terlalu kencang berdetak.
Semua orang membolakan matanya menatap Zain, sedangkan Zain terlihat santai dan melanjutkan makannya.
" Bercandanya ga lucu Zain!" ucap Wilona tidak percaya, karena wanita sebelah Zain terlihat begitu biasa saja tidak ada yang spesial.
" Terserah mau percaya atau tidak, Aku sudah selesai. Ana antar aku kekamar, Yah kita kekamar dulu. Nich, nanti kau temui aku di kamarku saja." lanjut Zain dan berpamitan menuju kamarnya.
Yulvi hanya menuruti saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia mendorong kursi roda Zain kedalam kamarnya. Dengan segala rasa yang ia rasakan sekarang atas ucapan Zain, Yulvi mencoba mengganggap itu semua hanya gurauan Zain saja untuk menghindari wanita itu.
" Ana...," Akhirnya Zain memutuskan memanggilnya, sebelum Yulvi keluar kamarnya.
'' Iya Kak," Yulvi menjawab tanpa menatap wajah Zain.
" Kamu kenapa, ga suka dengan ucapanku tadi?"
" Hah,,," Yulvi mengangkat kepalanya dan menatap Zain yang begitu muram wajahnya.
__ADS_1
" Yulvi tau, kak Zain hanya ingin menghindari perempuan itu kan? Yulvi ga apa-apa kok, sekarang kak Zain istirahat saja. Ada yang di inginkan tidak tadi aku ambilkan." Yulvi menjawab dengan begitu tenang.
" Aku butuh kamu disini." jawaban Zain membuat Yulvi menatap Zain kembali.
" Ucapanku tadi bukan hanya untuk menghindari Wilona, itu semua jujur apa yang aku inginkan Ana." jawab Zain tegas dan dengan tenang menatap Yulvi.
" Apa kamu bersedia menemaniku hingga tua bersama?" tanya Zain sambil mengambil tangan Yulvi yang berdiri di hadapannya.
" Maksud kak Zain apa?" Yulvi masih tidak percaya dan merasa ini semua hanya bercanda.
" Sini duduk dulu," Zain menepuk sisi ranjangnya dan meminta Yulvi duduk disisinya. Yulvi hanya menurutinya dan duduk di sisi ranjang Zain.
"Aku memang tidak sempurna tapi bolehkah aku mengharap wanita sempurna sepertimu mendampingiku untuk selamanya", dengan penuh keyakinan Zain mengungkapkan keinginannya pada Yulvi. Mereka masih dengan diam dan mata saling mengunci satusama lain, Yulvi tidak tau apa yang akan ia jawab. Jujur dia bahagia karena dia juga mencintai Zain, namun siapakah dia yang dianggap sempurna oleh Zain hanyalah seorang pelayan dan anak yatim piatu.
Apakah, Yulvi akan menerimanya. Zain masih menunggu kata yang akan terucap dari bibir Yulvi tapi begitu lama Yulvi masih terdiam.
" Ana.,." akhirnya Zain kembali memanggil Yulvi.
" Mmm, Iya kak." hanya itu yang keluar dari mulut Yulvi
'' Kenapa diam saja, aku mau jawabanmu Ana! Zain menegaskan pada Yulvi.
__ADS_1
Yulvi menatap Zain dan memikirkan apa yang akan ia ucapkan pada Zain, jujur ia ingin menjawab Iya namun dengan dirinya yang seperti sekarang merasa tidak pantas untuk Zain apa lagi masuk ke dalam keluarga Zain. Masih dengan kebingungannya, Zain tetap menahan tangan Yulvi dalam genggamankan.
Hayooo,apa jawaban Yulvi???