Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
Bab 40 Di ajak makan bersama


__ADS_3

Dengan rasa gugup dan tidak fokus Yulvi mencoba tenang dan memasak dengan bumbu-bumbu yang ia buat. Mencoba menyunggingkan senyuman saat ia menatap Zain yang memperhatikannya. Zain masih setia menunggu Yulvi yang memasak. Andai dia bisa membantu tapi Yulvi melarangnya, maka dia hanya memandang Yulvi yang sibuk dengan kuali dibdepan kompor.


" Kak, aku antar kekamar ya. Yulvi udah beres ko, tinggal sajiin di meja makan." karena sudah selesai Yulvi menawarkan Zain kekamarnya agar Yulvi leluasa menyiapkan dan menyicipi masakannya.


" Aku baru mau cicipin masakan mu, gimana rasanya biar ga ngecewain calon mertua." goda Zain, sambil memberi mata genitnya. Dan itu berhasil membuat Yulvi malu, kenapa menyebut calon mertua sedangkan dia dan Zain belum ada apa-apa.


" Kak Zain mau coba, nih aku ambilkan." untuk menghilangkan rasa malunya Yulvi menggambilkan sedikit opor menggunakan mangkok kecil. Zain mencobanya, ternyata rasanya begitu nikmat sampai Zain tidak sadar menghabiskannya. Yulvi mengangkat ujung bibirnya melihat Zain yang melahap masakannya. " Gimana rasanya kak? tanya Yulvi setelah melihat mangkoknya kosong.


" Enak, kamu memang terbaik Ana." puji Zain jujur.


" Benar ya, ga kurang apa gitu manis asin atau apa? Biar Yulvi tambahin."


" Sudah pas." jawab Zain sambil memberi jempolnya untuk Yulvi.


Zain di antar Yulvi kekamarnya untuk istirahat sejenak, sedangkan Yulvi menyiapkan makanan di meja makannya. Setelah sudah membereskan dapur dan menyiapkan semua masakan di meja makan, Yulvi membersihkan dirinya dan menuju kamar Zain. Saat akan memasuki kamar Zain, Yulvi di panggil oleh Ayah Zain.


'' Yulvi,,,!" sebelum mengetuk pintu kamar Zain Yulvi di panggil ayah Zain.


" Iya Tuan," Yulvi menjawab sambil menundukan badannya sedikit sebagai bentuk hormatnya.


" Mau memanggil Zain, untuk makan siang?" tanya ayah Zain.


" Iya Tuan, sudah waktunya makan siang. Saya sudah siapkan dimeja makan." Yulvi menjawab dengan tenang.

__ADS_1


" Biar saya yang memanggil Zain, kamu selesaikan pekerjaanmu saja!" perintah sang ayah Zain.


" Baik Tuan, saya permisi." setelah mengucapkan itu Yulvi kembali ke dapur untuk membuat minuman yang segar untuk mereka nikmati setelah makan siang.


" Ana...,! Zain mengira yang memasuki kamarnya Yulvi, padahal Ayahnya.


" Ini Ayah Zain, begitu mengharapkan dia yang menghampirimu." Ayahnya memasuki kamar Zain sambil mengatakan itu.


" Eh Ayah," Zain memutarkan kursi rodanya mengarah ke pintu. " Bukan yah, biasanya dia memanggil Zain untuk makan siang." Zain menjelaskan pada ayahnya.


" Tadi dia sudah di depan pintu, tapi ayah suruh dia bereskan masakannya saja. Karena Ayah ingin ke kamarmu."


" Ok, ayo kita makan siang dulu yah. Ana sudah memasak kesukaan ayah, Opor Ayam." dengan semangat Zain mengajak ayahnya.


" Aku sudah lapar yah," jawab Zain berkelit, padahal dia kangen dengan masakan Yulvi karena selalu nikmat dilidahnya.


" Ayo, ayah bantu ke meja makan." Dengan pelan-pelan ayah Zain mendorong kursi roda Zain ke meja makan.


Sesampainya di meja makan Ayah takjub dengan menu yang tersaji di meja, karena semua makanan yang ia sukai. 'Pasti Zain yang menyuruh Yulvi memasaknya, bisa juga itu anak.' gumam ayah dalam hati.


Ayah Zain duduk di kursi utama, sedangkan Zain duduk di sisinya. Hanya mereka berdua yang akan menikmati makan siang itu. Yulvi datang untuk menuangkan air minum untuk mereka. Semua pelayan masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing hanya Yulvi yang melayani mereka berdua.


" Silahkan Tuan!" Yulvi mempersilahkan setelah menuangkan air, dan akan kembali ke dapur namun ayah Zain memanggilnya.

__ADS_1


" Kamu mau kemana?" tanya ayah Zain datar.


" Saya akan kebelakang Tuan." jawab Yulvi sedikit menunduk karena merasa sedikit takut.


" Duduk...!" satu kata keluar dari mulut ayah Zain. Yulvi bingung apa maksudnya.


" Ya Tuan,,," cuma itu yang Yulvi ucapkan.


" Duduk saya bilang, makanlah bersama!" Dengan nada tegas tetapi ayah mengajak yulvi untuk makan bersama.


" Tidak, terimakasih Tuan!" Yulvi menolak secara halus, karena dia tidak enak harus satu meja dengan majikannya.


" Kamu menolak perintah saya, ok Zain suruh dia duduk!" Zain langsung menatap ayahnya dan Yulvi bergantian. Yulvi menatap Zain untuk mendapat jawaban, dan hanya anggukan yang Zain berikan. Yulvi pun akhirnya duduk di dekat Zain.


" Makanlah...!" titah Ayah Zain.


" Mau saya ambilkan Kak!" tidak sengaja Yulvi memanggil Zain dengan sebutan Kak saat akan membantu Zain mengambil opor.


" Kak??" Ayah Zain penasaran dengan panggilan Yulvi untuk Zain.


" Itu Zain yang minta Yah, supaya kita tidak canggung!" Zain membantu Yulvi untuk menjawabnya sebelum sang Ayah bertanya kembali.


Akhirnya mereka makan bersama dalam keheningan hanya suara sendok dan piring yang bersautan. Ayah Zain menikmati masakan Yulvi yang pas menurutnya. Yulvi makan dengan tegang dan susah untuk menikmatinya, karena harus makan dengan kedua orang yang masih belum dekat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2