
Dengan jawaban Bunda Zain, Tante Vivian langsung diam tidak merespon lagi. Entah karena cape atau belum punya kata-kata yang pas untuk ia lontarkan. Mereka semua memasuki kamar yang sudah Yulvi bersihkan, semua sudah disiapkan dengan apik dan rapih. Bunda Zain sudah tau dengan apa yang dipikirkan oleh adik iparnya itu. Dulu ia pun bukan dari kalangan yang berkelas saat menikah dengan ayahnya Zain. Namun dengan besarnya cinta keduanya, mereka bisa bersatu dan kini diterima di keluarga besar. Meski masih ada yang belum sepenuhnya menerima bundanya Zain.
" Ngapain juga aku disini, mending di Indonesia bisa kumpul-kumpul bareng temen. Nyebelin banget sih mama pake ajak-ajak aku segala." gerutu Vian saat sudah didalam kamarnya. Dia memang gadis modern dengan gayanya yang harus serba brandid. Sebenarnya dia malas untuk bekerja, apa lagi ditempat orang meski diperusahaan saudaranya sendiri. Orang tuanya memiliki perusahaan di bidang fashion yang bisa menunjang gaya hidupnya. Maka ia ingin bergabung di perusahaan ayahnya, namun tak di ijinkan. Sang ayah ingin putrinya memiliki pengalaman diluar sebelum ia mengurus perusahaan keluarga.
Semua sudah berkumpul di meja makan dengan hidangan yang Yulvi masak sore tadi. Senyum bunda terlukis di wajahnya karena ia tau semua Yulvi yang melakukanya.
" Kamu yang masak sayang?'' bunda begitu lembutnya pada Yulvi, membuat Vian mendongkap tak percaya menatap tantenya yang biasa dingin bersikap lembut pada orang asing yang hanya pelayan dirumah itu.
" Iya, Alhamdulillah Bu. Semoga bisa dinikmati.Mau saya ambilkan nasinya Bu?" Yulvi pun menjawab dengan lembut dan sopan." Tidak usah, kamu siapkan untuk Zain saja." tolak sang bunda.
" Caper banget jadi orang!" gerutu Vian dengan suara lirih, namun masih terdengar oleh Zain.
" Na..., kamu duduk sini jangan berdiri nanti kakimu sakit siapa yang ngurus aku?" dengan lembutnya Zain bicara dengan Yulvi membuat wajah Yulvi bersemu merah dan mendudukan badannya di kursi sebelah Zain.
" Tenang aja Zain ada Vian, dia juga bisa ngurusin kamu! Jadi ga apa-apa, kalo perempuan ini sakit." dengan PD nya tante Vivian bicara seperti itu.
" Iiiss,,,mama ada-ada aja siapa yang mau ngurus orang lumpuh." Vian selalu menggerutu lirih dan itu bisa didengar oleh Zain.
" Ga usah repot-repot Tante, Zain hanya mau seorang YULVIANA yang mengurus semua keperluan Zain. Jadi terimakasih sebelumnya." Zain menegaskan nama Yulvi pada tantenya karena dia tidak ingin sang kekasih sakit hati.
" Oke, nanti kalo dia tidak bisa mengurusmu bilang Tante. Vian pasti siap kapan pun." jawab Tante Vivian.
__ADS_1
" Sudah-sudah sekarang kita makan, bicara terus kapan makannya. Nanti Zain telat minum obatnya." Bunda yang dari tadi diam akhirnya angkat suara karena adik iparnya itu tidak akan bisa diam.
Akhirnya mereka makan dengan diam tidak ada suara yang keluar dari mulut Vivian maupun anaknya. Yulvi juga ikut makan di meja itu karena bunda Zain telah mengijinkannya, sebenarnya Yulvi merasa canggung meski sudah pernah makan dimeja itu namun hanya berdua dengan Zain. Mendapat lirikan dari Vian dan sorot mata Tante Vivian membuat Yulvi merasa tidak enak untuk menelan makanannya.
Selesai acara makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing karena lelah saat perjalanan. Bunda Zain langsung memutuskan istirahat dikamarnya. Sedangkan Tante Vivian dan Vina juga menempati kamar mereka.
Hanya Zain dan Yulvi yang masih diruangan tengah karena Zain ingin bersantai sambil menonton televisi. Sebenarnya Yulvi ingin membantu Dwi dan lainnya untuk membersihkan dapur tapi Zain tidak mengijinkan.
" Kak, mau duduk di sofa tidak biar enakan nonton TV nya?" Yulvi merasa kasihan pada Zain karena selalu berada dikursi roda. Jadi ia menawarkan apakah Zain ingin duduk di sofa.
" Ga papa, nanti kamu cape dari tadi sudah dorong kursi roda ini dengan beban badanku yang berat." tolak Zain
" Ga cape kak, ayo Yulvi bantu!" tanpa meminta persetujuan Zain Yulvi langsung membantu mengangkat badan Zain dan memindahkan ke sofa.
" Sudah kita nonton lagi acaranya, ga perlu kata maaf kak." Yulvi langsung duduk sebelah Zain tapi sedikit berjarak.
" Nih kamu saja yang pilih acaranya!" Zain memberi remote tv ke Yulvi agar dia yang menentukan acara apa yang akan diliat.
" Kak Zain mau liat acara apa? " Yulvi malah menanyakan kembali pada Zain.
" Terserah kamu saja!"
__ADS_1
Sedangkan Tante Vivian didalam kamarnya belum bisa memejamkan matanya. Dia sedang memikirkan bagaimana cara membuat Yulvi pergi dari Zain. Dia tidak suka Yulvi yang dari kalangan rendahan apa lagi tidak jelas asal usulnya.
" Aku heran dengan kak Zoe, dapat istri udah dari kalangan rendahan sekarang mau dapat menantu juga ga jelas asal usulnya. Kayanya aku harus cari cara buat pisahin mereka, paling tidak Vian bisa kerja sama Zain. Nanti sambil cari calon yang sepadan buat Zain. Ya kayanya seperti itu." Didalam kamar Tante Vivian memikirkan bagaimana cara memisahkan Zain dan Yulvi.
" Hai sayang, kamu lagi apa? Aku bete tau disini!" ucap Vian disambungan telefon dengan kekasihnya yang di Indonesia.
" Bete kenapa? Bukanya enak disana bisa liburan?" Dino pacar Vian menjawab dengan santainya. Karena sebenarnya ia tidak begitu mencintai Vian, hanya saja dia suka Vian yang royal dan bisa memberikan apa yang ia inginkan.
" Bosan ga ada kamu, disini adanya cowo lumpuh. Liburan gimana aku disuruh kerja sama dia, sebelum banget kan?" dengan manjanya Vian bicara lewat sambungan ponselnya.
" Sabar sayang kalo aku ada waktu akan kesana, kamu turutin aja kemauan orangtuamu dulu aku juga sedang berusaha biar jadi sukses diusahaku ini. Biar orangtua mu merestui kita." Dion begitu pandai membuat Vian menurut padanya, karena dia tau Vian sangat mencintainya.
" Heem, iya deh. Kamu juga disana jangan tergoda sama cewe lain ya.Awas loh!" acaman Vian pada kekasihnya
" Gimana mau tergoda sama yang lain udah punya kamu yang paket komplit. Udah istirahat sana, Love you sayang!" dengan kata-kata cinta Dion selalu membuat Vian luluh.
" Love you to, bay! jawab Vian dengan mematikan ponselnya.
Sedangkan Zain baru saja diantar Yulvi kekamarnya untuk istirahat. Semua Yulvi siapkan dari minum obat dan Zain bisa tidur dengan posisi yang nyaman.
" Selamat malam ana, mimpi indah!" ucapan Zain sebelum Yulvi melangkah keluar kamarnya.
__ADS_1
" Malam kak, mimpi indah juga." Yulvi menjawab dengan wajah yang masih malu dan pipi yang bersemu merah.
" Pasti, semoga ada kamu dimimpi nanti!" lanjut Zain dengan senyumannya, dan Yulvi hanya mengangguk dan melangkah keluar kamar.