
Sudah satu bulan setelah penuturan ayah Zain yang menyetujui hubungan mereka. Sekarang mereka melakukan kegiatan sehari-harinya begitu sibuk. Zain dengan pekerjaan di kantornya dan terapi yang ia jalankan. Sedangkan Yulvi tetap merawat dan menjaga Zain serta dia mendaftarkan kuliah di salah satu Universitas di Singapura. Mereka lakukan itu dengan bahagia karena melakukan bersama-sama demi hubungan mereka.
Yulvi menikmati hari-harinya, Zain yang mulai di sibukan dengan pekerjaan kantornya dia masih tetap memperhatikan Yulvi dengan membantunya dalam tugas kuliah Yulvi.
" Ana, temani aku sebentar!" karena Zain menghentikan langkah Yulvi saat akan keluar kamar, Yulvi pun membalikan badannya dan duduk di sisi ranjang Zain.
Malam itu Yulvi memasuki kamar Zain untuk menyediakan air minum di nakas kamar Zain.
" Ada apa? Mau aku ambilkan sesuatu," Zain tidak menginginkan apapun dia hanya ingin berbincang dengan Yulvi.
" Hmmm, besok ada jadwal kuliah ga? Kalo ga bisa temenin Zain di kantor?" Zain bukan menginginkan sesuatu tapi menginginkan Yulvi untuk bersamanya saat di kantor. Karena esok ada pertemuan antar devisi, dia tidak begitu percaya diri dengan keadaannya saat ini. Maka dia ingin di temani Yulvi.
" Ada tapi sore hari, biasanya juga aku antar sampai kantor kan. Disana kan sudah ada pak Nicho, kenapa Yulvi harus nemenin kak Zain?
'' Sebenernya besok ada pertemuan antar devisi tiap bagian. Aku kurang percaya diri dengan keadaanku yang seperti ini. Mau ya temenin Zain besok? Dengan gaya memelasnya dan alasannya, Zain yakin Yulvi akan menemaninya.
__ADS_1
" Terus besok aku ngapain di sana, kan ga ngerti apa-apa?" Yulvi ingin menemani Zain tapi dia tau disana bukan tempatnya saat ini, karena tidak ada yang bisa ia kerjakan disana.
" Kamu cukup disamping Zain dan jangan kemana-mana. Pokoknya jangan tinggalin aku besok. Tidak perlu mengerjakan apapun!" jelas Zain dengan tegasnya." Kamu pasti sibuk, nanti terganggu kalo aku disana.
" Justru dengan adanya Ana disana, Zain pasti jadi semangat kerjanya." Banyak banget ya alesan Zain padahal dia pingin Yulvi bersamanya terus.
" Ya udah besok Yulvi temenin, tapi kalo Yulvi mengganggu pekerjaan kak Zain ngomong ya! Sekarang kak Zain istirahat besok biar kerjanya semangat." Zain menuruti ucapan Yulvi, dengan ia membaringkan tubuhnya lalu Yulvi menyelimutinya sampai dada Zain.
" Terimakasih, selamat tidur!" Ucap Zain sebelum memejamkan matanya, yang hanya dijawab dengan senyum manis oleh Yulvi.
Setelah keluar dari kamar Zain, Yulvi menuju dapur untuk membawa minum ke kamarnya. Dia juga akan beristirahat karena dia tau hari esok pasti akan melelahkan.
" Sekarang sudah siap, waktunya sarapan terus baru berangkat!" Yulvi berbicara seperti itu setelah memasangkan dasi pada Zain lalu mendorong kursi rodanya untuk menuju ruang makan.
Setelah sampai meja makan, Yulvi menyiapkan sarapan untuk Zain dan dia akan beranjak ke dapur untuk karena diapun akan makan. Namun sebelum melangkah ke dapur Zain sudah memanggilnya.
__ADS_1
" Ana..., kamu mau kemana?" Tanya Zain, padahal dia tau jawabannya. " Mau ke belakang, nanti kalo sudah selesai panggil aja Yulvi." jelas Yulvi meski Zain sudah mengetahuinya.
" Duduk sini saja, temenin aku makan biar kalo udah selesai kita bisa langsung berangkat." Entah kenapa Zain ingin selalu dekat dengan Yulvi. " Kan tinggal panggil aja kalo udah selesai, Yulvi di belakang aja ya sarapannya kak Zain di sini saja." Yulvi tidak enak dengan rekan-rekannya yang sesama bekerja di rumah Zain.
" Sudah sini saja, kalo mau dibelakang aku juga ikut makan disana!" Zain mengancam, membuat Yulvi mau tidak mau harus nurut.
" Hmmm, ya sudah." Dengan enggannya Yulvi duduk di kursi samping Zain. Meski sering makan bersama tapi Yulvi masih merasa tidak nyaman. Karena setatus mereka masih antara tuan dan pelayannya. Meski teman-teman Yulvi tidak mempermasalahkan kedekatannya dengan Tuan mereka. Asal bos mereka baik dan gajinya memuaskan mereka akan enjoy saja.
Setelah sampai di kantor, Yulvi biasa saja karena sudah terbiasa mengantar Zain sampai kantor dan dia akan kembali pulang. Namun kali ini harus berlama-lama dengan Zain di kantornya. Saat rapat akan di mulai, Zain meminta seseorang untuk menyiapkan satu kursi untuk Yulvi duduk di sebelahnya. Sebenarnya ada kejutan yang akan Zain berikan untuk Yulvi, yang tidak ada satupun yang mengetahuinya termasuk Nicho.
Semua peserta rapat sudah berkumpul, dan tinggal Zain memasuki ruangan itu. Dengan Yulvi yang membantunya mendorong kursi rodanya sedangkan Nicho berjalan dibelakang mereka. Nicho pun heran melihat teman sekaligus bos nya itu membawa Yulvi kectempat rapat. Namun dia tidak menanyakannya karena waktu rapat yang sudah sangat mepet. Toh nantinya dia juga akan tau, itu yang Nicho pikirkan.
Tadinya Yulvi akan berdiri saja namun Zain memintanya duduk disebelahnya dengan kursi yang sudah disediakan. Peserta rapat pun menatapnya dengan penuh heran dan tatapan selidik karena belum ada yang mengenal gadis berkerudung peach di sebelah Zain.
" Kamu duduk sini saja! Bentar lagi rapat akan dimulai, jangan pergi kemana-mana." itu pesan Zain untuk Yulvi yang hanya dituruti saja dengan duduk dan memberi senyumannya pada para peserta rapat.
__ADS_1
" Ok, apa sudah bisa dimulai?" tanya Zain pada peserta rapat.
Zain menoleh ke arah Yulvi dan membisikan sesuatu padanya" Kita berjuang bersama." itu kata yang Zain ucapkan dan hanya senyuman dan anggukan yang Yulvi lakukan.