Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
bab 31 Bunda memantau


__ADS_3

Yulvi membantu Zain untuk berpindah ke tempat tidur. Tangan Yulvi mencoba mengangkat tubuh Zain dengan menggapit Ketiak Zain dengan posisi seperti merangkul Zain. Keadaan seperti itu membuat Zain begitu dekat dan jantung mereka berdetak begitu cepat.


" Pelan-pelan Kak," dengan mencoba tenang Yulvi mendudukkan Zain di tempat tidur


" Sudah Ana, Aku bisa sendiri!" ucap Zain karena merasa malu tapi Yulvi tidak memperhatikan ucapan Zain dia melakukan dengan perlahan membaringkan Zain dan menyelimuti tubuh Zain sampai ke dadanya.


" Sudah, sekarang Kakak istirahat. Besok sehabis subuh aku kesini lagi,ada yang Kakak butuhkan biar Yulvi siapkan." tanya Yulvi sebelum meninggalkan Zain.


" Ga ada, terimakasih ya. Kamu pergilah istirahat juga. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini jadi jangan khawatir ya." Zain menjawab dengan tenangnya


" Yulvi tinggal dulu ya, selamat tidur Kak!" Yulvi mengucapkan sambil meninggalkan Zain


" Selamat tidur juga, mimpi indah ya!'' ucap Zain dengan tersenyum.


Yulvi keluar kamar Zain, menuju dapur disana sudah sepi tidak ada siapapun. Dia membersihkan bekas makan Zain dan menyimpannya dengan rapih. Yulvi pergi kekamarnya dan istirahat.


Keesokan paginya, Yulvi terbangun karena alarm ponselnya. Dia bergegas bangun langsung mandi dan menjalankan kewajibannya. Selesai itu semua, Yulvi kembali menuju kamar Zain. Sebelum masuk dia sudah mendengar lantunan ayat suci yang dibaca Zain, Yulvi merasa sangat tenang mendengarnya. Yulvi mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar Zain, Dia berputar arah dan menuju dapur. Disana sudah ada Sri dan Dwi, Bunda Zain juga sudah disana. Yulvi merasa malu karena terlambat bergabung dengan mereka.


" Maaf Ibu, saya terlambat." Yulvi berucap saat sampai depan Bunda Zain yang sedang menyiapkan sarapan.


" Tidak apa-apa Yulvi, tugas kamu hanya menemani Zain dan menyiapkan segala keperluannya." jawab Bunda


" Tadi saya mendengar sedang mengaji, jadi saya kesini belum melihat keadaannya."


" Tidak apa-apa, setiap pagi memang itu kegiatannya sekarang. Dulu dia sering olahraga pagi tapi sekarang dia tidak bisa melakukannya." sang Bunda menjelaskan


" Apa Tuan Zain, Suka olahraga Bu? Nanti saya bantu olahraga yang ringan untuk menggerakkan otot-otot kakinya juga." usul Yulvi


" Dia suka olahraga hampir setiap pagi joging di sekitar rumah saja dulu waktu di Indonesia. Sekarang keadaanny semua berubah, semoga kamu bisa membantu Zain dan dia segera pulih." itu harapan Bunda


" Aamiin..., InsyaAllah saya akan berusaha semampu saya Bu!" jawab Yulvi

__ADS_1


" Ini kamu siapain sarapannya Zain, coba kamu buatkan terserah kamu mungkin dia bisa berselera makan. Dia susah makan pagi, apalagi obatnya harus dia minum sesudah makan." Bunda menyuruh Yulvi sambil mengetes nya apa Yulvi bisa memberikan apa yang Zain inginkan.


" Baik Bu, apa boleh saya membuat nasi goreng untuk Tuan?"


" Boleh, ya sudah saya tinggal ke kmar Zain dulu ya. Kamu buatkan dulu sarapannya."


Bunda pergi meninggalkan Yulvi untuk memasak Nasigoreng untuk Zain, Yulvi menyiapkan semua bahan-bahan nasi goreng yang ia perlukan. Dia ingin Zain mengingat kenangan dulu dia pernah memakan nasi goreng buatan Yulvi.


" Sayang...," Bunda memasuki kamar Zain tanpa mengetuk pintu karena dia sudah tau jam segini Zain sedang diam dekat jendela kac dengan memandang keluar.


" Iya Bunda?" jawab Zain


" Bagaimana, kamu cocok dengan orang pilihan Bunda untuk menjadi pelayan pribadimu?" tanya Bunda


" Hmmm,..." hanya itu jawaban Zain


" Apa kamu ingin ganti orang kalo mau nanti Bunda Carikan sebelum Bunda pulang?" tanya Bunda untuk memancing bagaimana reaksi Zain.


" Oh,,,kamu sudah cocok sama Yulvi?"


" Mmmm ...iya Bunda. Jangan khawatir Bunda, Zain juga sudah terbiasa melakukan semua sendiri."


" Ya sudah, semoga kamu bisa seperti dulu lagi ya. Bunda kangen Zain yang dulu." Bunda berharap banyak pada Yulvi agar Zain bisa berjalan kembali.


" Aamiin, semoga saja Zain bisa kembali lagi seperti dulu."


'' Kamu harus tetap semangat Sayang!" Bunda selalu memberi semangat untuk Zain


'' Iya Bunda...,"


" Ya sudah, Bunda kemuar ya. Ga ada yang kamu inginkan, nanti Bunda ambilkan. Sebentar lagi Yulvi bawa sarapan kamu."

__ADS_1


" Ga ada Bund, makasih. Zain mau lanjutkan pekerjaan Zain." jawab Zain pada Bundanya


" Ok,Bunda turun ya!" ucap Bunda sambil melangkah keluar kamar Zain.


Saat menuruni tangga Bunda berpapasan dengan Yulvi, dia mencium harum masakan yang dibawa Yulvi. Bunda tersenyum mekar di bibirnya, ia merasa tidak salah membawa Yulvi ke depan Zain. Dia tau apa yang anaknya inginkan. Saat berpapasan Yulvi juga menyunggingkan senyumnya.


" Permisi Bu, saya membawa sarapan untuk Tuan Zain." Yulvi menunjukan kesopanannya saat berpapasan


" Iya, pastikan dia makan dan meminum obatnya." jawab Bunda dengan sedikit tegas


" Siap Ibu." Yulvi melanjutkan langkahnya menuju kamar Zain.


Zain sedang melakukan pekerjaan nya dengan Laptop yang ia pangku. Saat ada yang mengetuk pintu Zain tidak mendengar karena terlalu fokus. Yulvi mencoba membuka pintu kamar Zain sedikit dan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum,..." Yulvi mengucap salam sambil mengetuk pintu lagi


" Wa'alaikumsalam, Masuk saja." jawab Zain singkat. Yulvi masuk kamar Zain dengan membawa sarapan nasi goreng yang ia masak.


'' Apa yang kamu bawa?" lanjut Zain bertanya karena dia nencium aroma yang begitu sedap.


" Nasi goreng Kak, Kakak makan ya! Ini Yulvi yang buat untuk Kakak." Yulvi manaroh Nasi goreng itu di atas meja.


" Mau Yulvi bantu makannya Kak, Kakak sedang sibuk ya." Yulvi menawarkan bantuan karena dia melihat Zain begitu serius dengan laptopnya.


" Boleh, suapin aku sekarang. Aku masih melanjutkan pekerjaan." ucap Zain dengan arah mata tetap pada laptopnya. Yulvi mengambil kursi dan duduk di depan Zain. Ia siap untuk menyuapi Zain


" Ini Kak, Aaaa buka mulutnya." Zain mengangkat wajahnya dan sedikit tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan dari Yulvi.


Di depan pintu kamar Zain, ada Bunda yang berdiri dan melihat apa yang Yulvi lakukan untuk Zain. Bunda merasa bahagia melihat sedikit senyum dari wajah Zain yang selama ini sudah tidak ia lihat lagi. Bunda kembali ke kamarnya setelah memantau apa yang Yulvi lakukan untuk Zain.


Masih slow ya alurnya, mau konflik berat apa ringan ya bagusnya?🤔 ada yang mau komen kah?

__ADS_1


__ADS_2