
Dengan kata-kata yang Zain bisikan membuat Yulvi sedikit tenang dan bisa mengangkat kepalanya untuk melihat peserta rapat yang ada di ruangan itu. Zain memulai rapat dengan tenang dan sesekali ia menoleh ke Yulvi hanya untuk memberikan senyumannya. Meski dia menggunakan kursi roda tetap tidak mengurangi kewibawaannya. Sungguh mereka sudah terlihat seperti pasangan suami istri yang serasi. Yang satu berparas ganteng dan memiliki wibawa dan yang perempuan memiliki wajah ayu, bukan cantik ya tapi ayu dan elegan dengan penampilian dan pembawaan dirinya. Sekilas peserta rapat berbisik, menanyakan siapa yang ada di sisi Bos mereka.
" Mereka serasi sekali ya, kaya suami istri." ucap salah satu peserta rapat.
" Hussttt, diem. Nanti bos denger. Tapi bener sih mereka itu cocok." udah ngingetin temennya tapi sendirinya komen, ya dia itu Nina asisten Nicho. Nina bertugas membantu Nicho untuk mengetahui jadwal proyek dan semua keadaan kantor.
Saat mereka saling berbisik Nicho menatap pada Nina dengan penuh tanya, apa yang sedang mereka obrolkan. Kira-kira itu lah pertanyaan yang bisa dibaca dari sorot mata Nicho. Sedangkan orang yang mereka obrolkan, Zain dan Yulvi terlihat sangat santai Zain juga memimpin rapat dengan begitu tenang.
" Ok, apa semua sudah paham? Silahkan, presentasikan hasil kerja kalian!" Setelah menjelaskan tujuan rapat itu, Zain. mempersilahkan setiap devisi untuk melaporkan hasil kerja mereka.
Setiap anggota rapat mempresentasikan laporannya masing-masing. Zain menyimak dengan penuh teliti dimana yang harus dievaluasi dan mana yang sudah bagus. Semua tidak luput dari perhatian Yulvi, dia memandang Zain yang begitu serius dalam bekerja. Yulvi yakin laki-laki yang disebelahnya adalah seseorang yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Meski dalam keadaan Zain yang saat ini dia tetap bekerja dengan profesional. Setelah semua selesai dengan presentasinya, Zain memberi penilainya. Ada yang harus diperbaiki dan ada yang harus di pertahankan.
" Ok, terimakasih atas presentasinya. Saya sudah melihat dan mendengar semua. Ada beberapa yang harus kalian perbaiki dari segi promosi dan Waktu penyelesaian proyek nanti saya evaluasi lagi dengan sekretaris saya Ok, untuk rapat hari ini cukup, sebelumnya bila kalian bertanya-tanya siapa yang berada di sebelah saya. Jangan menduga-duga karena dia CALON ISTRI saya jangan berpikiran jelek dengan wanita yang ada di samping saya ini. Sekali lagi terimakasih waktunya, Rapat hari ini kita tutup." Zain mengakhiri rapatnya, juga menjelaskan siapa Yulvi baginya. Agar karyawannya tidak berbicara yang macam-macam nantinya.
__ADS_1
Setelah rapat selesai, satu persatu keluar dari ruangan rapat. Hanya menyisakan Zain,Yulvi dan Nicho. Yulvi ingin bertanya tapi ia tahan, karena dia paham Zain dan Nicho akan membahas pekerjaan.
" Nich, kamu urus kekurangan tadi ya. Nanti aku cek semua, sekarang aku ingin istirahat di ruangan ku dulu. Aku merasa lelah." Zain berkata jujur, tubuhnya seperti sangat lelah. Kaki kanannya merasakan sedikit nyeri tapi masih dia tutupi tidak berbicara pada Yulvi.
" Ok, pergilah istirahat. Ini biar aku yang urus." Nicho tau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
" Kak Zain kenapa, apa ada yang sakit. Ayo istirahat, tapi minum obat dulu." Nada bicara Yulvi begitu khawatir. " Aku ga apa-apa Ana, hanya lelah. Ayo kita keruanganku." jawab Zain membuat Yulvi tenang.
Mereka menuju ruangan Zain, Yulvi lansung membawa Zain keruangan pribadinya. Ruangan itu berupa kamar tidur yang biasa Zain gunakan untuk beristirahat. Yulvi membantu Zain untuk tidur diranjang, lalu menyiapkan obat untuk Zain.
'' Udah jadi kewajiban Yulvi kak, buat jagain kak Zain. Jadi sekarang ayo istirahat, nanti Yulvi bangunkan 1jam lagi." Yulvi meminta Zain untuk tidur karena melihat muka Zain yang sedikit pucat. " Kamu mau kemana?'' Tanya Zain saat melihat Yulvi akan keluar ruangan itu.
" Mau keluar, biar kak Zain bisa istirahat.'' tidak mungkin kan kalo mereka berdua diruangan itu.
__ADS_1
(author: boleh lah kan keadaan tidak baik-baik sajaš¤)
(Yulvi: modus itu mah)
" Kamu sini saja ana. Kamu juga istirahat, pasti lelah sudah mendorong kursi rodaku yang membawa badanku yang begitu berat." Mendengar itu Yulvi, menjadi mengerutkan alis matanya yang heran. Bagaimana ia istirahat di ruangan itu yang hanya ada satu bad? kira-kira itu yang difikirkan Yulvi.
" Saya di luar saja ya kak, ga enak dengan yang lain." jawab Yulvi dengan lirih.
" Ga apa-apa, aku pingi kamu di sini. Nanti kalo perlu sesuatu aku bingung panggil kamunya. Sini duduk sebelah ku." Dengan kata-kata yang Zain berikan akhirnya Yulvi pun duduk di sisi ranjang.
" Sini kamu nyandar di sini!" Zain memberikan bantal dan membuat Yulvi bersandar pada kepala ranjang, sedangkan Zain tetap disebelah Yulvi dengan tidur terlentang.
" Apa ngga apa-apa kak?" Yulvi merasa tidak nyaman. " Udah kita istirahat sebentar aja trus nanti kita pulang." tegas Zain dengan mata terpejam karena merasa lelah. Yulvi hanya memandang Zain dengan penuh kagum, karena bisa dekat dengan lelaki yang begitu baik dan tulus. Dia berjanji dalam hatinya akan selalu mendampingi Zain bagaimanapun keadaannya. Dengkuran halus terdengar dari Zain menandakan ia sudah tertidur, Yulvi pun ikut memejamkan matanya dengan posisi duduk bersandar.
__ADS_1
Satu jam sudah mereka tertidur, Zain pelan-pelan membukakan matanya. Dan yang pertama ia pandang adalah Yulvi yang terlelap dengan menutup matanya, dia tau posisi Yulvi begitu tidak nyaman. Tapi dia bisa apa untuk menggerakkan kakinya saja susah, Dia hanya meraih tangan Yulvi dan menggenggamnya. Sedangkan Yulvi masih terlelap meski tangannya di genggam oleh Zain. Zain hanya tersenyum sambil memandang wajah gadis itu.