Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
Bab 42 Jawaban Ana(Yulvi)


__ADS_3

Dengan menatap Zain, Yulvi mencoba untuk memberi jawabannya. Zain dengan serius menunggu apa yang akan Yulvi ucapkan. Kini Yulvi akan jujur dengan apa yang ia rasakan. Ia akan mencoba dan bersama Zain semampunya.


" Mmmm,,, Kak terimakasih karena sudah ingin bersama Yulvi. Yulvi sebenarnya ga pantas untuk kak Zain, masih ada yang lebih dari Yulvi. Aku hanya gadis kampung,seorang pelayan dan Yatim piatu.'' Yulvi berhenti berbicara untuk menjedanya, Zain masih tetap setia mendengarkan jawaban Yulvi


'' Kalo boleh jujur, Yulvi juga sayang kak Zain. Yulvi juga ingin bersama kak Zain untuk selamanya. Apa Yulvi pantas kak bersanding dengan kak Zain, bagaimana dengan keluarga kak Zain?'' ucapan Yulvi diakhiri dengan pertanyaan yang sudah Zain pikirkan jawabannya.


" Kamu pantas untuk ku Ana, justru aku yang lemah untuk mu. Kita coba saling melengkapi, apa kamu mau bersama dengan ku? Untuk masalah keluarga besarku, kamu ga usah khawatir kita hadapi bersama." tegas Zain menjelaskan ke Yulvi.


" In syaa Allah Yulvi akan bersama kak Zain, hingga kak Zain tidak menginginkan Yulvi lagi." lanjut Yulvi


'' Heiiii,,,kenapa bilang seperti itu? Aku akan slalu menyayangi mu, hingga akhir hayatku." ucap Zain sambil mengusap punggung tangan Yulvi yang tidak lepas dari genggamannya.


Yulvi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap Zain. Mereka sesaat diam saling menatap dalam diam. Menyelami perasaan mereka yang begitu dalam.


Setelah selesai berbincang Yulvi keluar karena Nicho datang ke kamar Zain untung membicarakan pekerjaan. Zain sudah berniat untuk menjalankan perusahaan orangtuanya yang ada di negara itu.


Nicho menjelaskan semua apa yang harus Zain lakukan saat ini, Nicho kembali bertugas untuk mendampingi Zain dalam urusan bekerja.


Nicho menjelaskan semua yang harus Zain lakukan termasuk jadwal rutin Zain untuk melakukan terapi kakinya. Zain sudah sangat percaya pada Nicho, karena dia juga mengalami kecelakaan bersamanya.


" Bos,,, Apa kalian akan menikah dekat-dekat ini?" tanya Nicko karena sudah melihat begitu dekat mereka berdua.


" Itu yang ku inginkan, tapi kau tau sendiri keadaanku sekarang. Aku juga ingin memantaskan Yulvi untuk keluargaku." Zain menjelaskan ke Nicho.


" Kau juga atur jadwal pengobatan ku jangan sampai bentrok dengan pekerjaan kita. Aku juga ingin cepat sembuh." lanjut Zain memerintah pada Nicho supaya tidak mengganggu jadwal pengobatannya.

__ADS_1


Sedangkan di dapur Yulvi sedang sibuk membuatkan kopi untuk mereka berdua. Saat Yulvi mengaduk kopi di gelas, seseorang menghampirinya.


" Kopi untuk Zain yang mana?" tanya Wilona yang muncul tiba-tiba di sebelah Yulvi


" Eh, maaf Nona ada apa ya?" tanya Yulvi sopan meski merasa kaget.


" Mana kopi buat Zain?" tanya Wilona dengan sinisnya


" Biar saya saja nona, ini pekerjaan saya. Silahkan Nina tunggu saja di ruang tamu." Yulvi tidak menjawab apa yang di tanyakan Wilona namun dia meminta Wilona untuk kembali duduk dengan kata-kata yang sopan.


" Kamu tuli ya, aku tanya mana kopi Zain!" tanya Wilona dengan nada tinggi.


" Maaf Nona untuk apa ya, biar saya saja yang antarkan kopinya." jawab Yulvi dengan tegas dan tenang.


" Loe itu cuma pelayan jadi jangan bantah, cukup jawab dan nurutin aja!" Wilona tak kalah tegasnya


Dengan mengambil paksa Wilona membawa kopi Zain & Nicho menuju ke kamar Zain." Banyak omong." gerutu Wilona sambil melangkah ke kamar Zain.


" Hurf...Yulvi membuang udara dengan mulutnya. Sambil mengikuti langkah kaki Wilona, dia tidak ingin Zain di dekati oleh wanita itu.


" Loe kenapa ikutin, disini saja!" titah Wilona pada Yulvi.


" Saya tidak mau nona, nanti tuan Zain pasti menanyakannya kenapananda yang membawa minumnya." jawab Yulvi sambil tetap mengikuti Wilona


Saat mereka berdua masuk kamar Zain, mereka sedang fokus dengan pembicaraan tentang pekerjaan jadi menatap kedua perempuan yang masuk dengan suasana wajah yang berbeda.

__ADS_1


" Zain ini kopi untukmu." dengan gaya centilnya Wilona meletakan kopi itu di meja.


" Hmmm, kenapa Loe yang bawa? Siapa yang buat kopinya?" tanya Zain karena dia tidak ingin Wilona yang membuatkannya.


" Itu Ana yang buat kak," sela Yulvi menjawabnya sebelum di akui oleh wanita centil itu,dia tidak ingin kopinya tidak di minum oleh Zain karena dia tau Zain sangat menyukai buatannya.


" Ya sudah, kalian berdua keluar lah! Kami sedang bekerja," usir Zain pada mereka sebenarnya dia ingin Yulvi berada dekat dengannya tapi ada Wilona pasti juga ingin tetap di kamarnya maka ia mengusir mereka berdua.


" Baik ka, ada yang di inginkan lagi biar Ana buatkan." ucap Yulvi


" Ga usa cukup, kamu istirahat saja dulu. Sini sebentar!" Zain menyuruh Yulvi mendekat. Yulvi berjalan mendekat ke kursi Zain.


Zain mengambil tangan Yulvi dan mengecup punggungnya.


" Cup,...pergilah istirahat dikamarmu. Sekarang aku mau bekerja dulu." ucap Zain sambil menatap Yulvi


Yulvi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Loe juga pergilah Wil, kami sedang bekerja. Kalau mau pulang minta antar saja sama supir, Nicho sedang sibuk dengan ku." titah Zain pada Wilona.


" Tapi aku masih ingin di sini Zain." ucap Wilona dengan tampang memelas.


" Keluarlah!!!" hanya satu kata yang Zain ucapkan dengan nada tegas, karena dia sudah tidak ingin di ganggu.


Yulvi pun berjalan keluar dari kamar Zain dan menuju kamarnya untuk istirahat dia hanya menuruti perkataan Zain. Sedangkan Wilona keluar dengan menghentakan kakinya dan muka yang begitu kesal.

__ADS_1


Maaf banget terlalu lama baru Up 🙏,,, Mak author terlalu sibuk di dunia nyata🤭. Jangan tinggalin kisah Zain ya, Insyaa Allah aku usahain Up terus meski ga tiap hari.🤗🤗🤗


__ADS_2