Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
Bab 38 Ayah Zain Datang


__ADS_3

Mentari pagi masih menyembunyikan sinarnya, mendung di pagi hari tidak membuat orang untuk bermalas-malasan bangun pagi. Sudah dua Minggu lebih Yulvi merawat Zain dan Bunda Zain masih di Indonesia belum datang lagi. Mereka lalui hari dengan kegembiraan bersama, Zain pun mendapat perawatan dan mengobatan yang terbaik. Ada sedikit kemajuan yang Zain rasakan, Dia sangat bersyukur meski sedikit saja rasanya sudah luar biasa.


Dengan riang Yulvi memasak untuk sarapan mereka semua, dia menyiapkan makanan di meja. Ya sekarang Zain suka makan di meja makan dapur bersama Yulvi, kadang bersama pelayan lainnya juga.


' Hmmm, sudah semua. Tinggal panggil Kak Zain.' Gumam Yulvi saat menyiapkan masakannya.


Dengan riang Yulvi menuju kamar Zain untuk memanggilnya. Begitu bahagia hari-hari yang ia lalui dengan Zain, meski sudah tidak punya siapa-siapa dengan bertemu Zain menjadi kebahagian yang luar biasa untuk Yulvi.


Tok


Tok


Tok


Yulvi mengetuk pintu kamar Zain. Langsung membukanya, karena tidak dikunci dia langsung membukanya. Sudah terbiasa bagi Yulvi memasuki kamar Zain bila tidak terkunci, itu menandakan Zain mengijinkannya masuk.


" Kak, sarapan dulu. Mau disini atau mau di luar? tanya Yulvi Zain ingin makan dimana


" Boleh disini saja, pekerjaanku masih banyak." jawab Zain.


" Ok Kak, Yulvi ambil dulu ya. Tunggu sebentar." Yulvi kembali berjalan keluar untuk menyiapkan sarapan Zain di kamar.


" Iya, terimakasih Ana." jawab Zain sambil tersenyum ke arah Yulvi


Dengan anggukan saja Yulvi menjawabnya, dia kembali berjalan keluar kamar. Menyiapkan satu piring nasi goreng dengan topingnya dan segelas teh hangat menu favorit sarapan mereka.


Dengan senyum mengembang Zain melihat Yulvi kembali masuk dan membawa nampan berisi sarapan untuknya. Yulvi mendekat pada Zain dan siap untuk menyuapi Zain. Sudah tidak canggung lagi, karena setiap makan di dalam kamar Zain selalu minta disuapi oleh Yulvi.

__ADS_1


" Enak,,," sambil mengunyah Zain memuji masakan Yulvi. Dan hanya tersenyum Yulvi menanggapinya.


" Sekarang ini adalah makanan favorit ku, semua masakan yang kamu masak pasti selalu enak." puji Zain jujur.


" Kak Zain bisa saja, semua masakan pasti enak Kak." dengan bersemu merah dipipi Yulvi menjawabnya karena malu dipuji Zain


" Ga semua cuma dari tanganmu saja yang enak. Jadi jangan pernah tinggalin aku,entah apa yang terjadi nanti. Kuatkan aku, dan selalu disampingku." Begitu takutnya Zain bila Yulvi meninggalkannya.


" Iya Kak, In syaa Allah Yulvi selalu disamping Kak Zain." jawaban Yulvi yang Zain harapkan.


Setelah makanan Zain habis Yulvi pamit ke dapur untuk membersihkannya, dia juga akan makan bersama teman-temannya di dapur. Zain. mengijinkan karena dia tau Yulvi akan makan bersama, Zain kembali mengerjakan pekerjaannya yang begitu banya dan menguras tenaga. Sungguh Zain ingin kembali menangani kantor dengan bisa berjalan kembali. Meski dengan keadaan sekarang Zain pun bisa dengan di bantu Yulvi, tapi Zain ingin melakukannya bila sudah bisa berjalan.


Di dapur Yulvi makan bersama teman-temanya begitu bahagia dan santai Untuk saling bertukar cerita.


" Yulvi, dulu kamu pernah punya pacar ga? tanya Dwi sambil mengunyah makanannya.


" Mm,,, Belum pernah pacaran Mba. Kalo teman dekat cowo ada sih, tapi cuma temen kok." Jawab Yulvi


'' Iya sih, dia pernah nyatain perasaannya sama Yulvi tapi aku ga bisa terima lah ga punya perasaan yang lebih." jawab Yulvi santai.


Mereka berdua mengobrol dengan santainya sampai tidak tau ada yang mendengarkan, disamping pintu dapur Zain duduk di kursi rodanya. Mendengarkan jawaban Yulvi membuat Zain tenang, tetapi dengan itu dia yakin yang menyukai Yulvi tidaklah sedikit. Buktinya Dokter Lim saja memandang Yulvi penuh damba. Tekad Zain bertambah keras untuk segera sembuh. Zain memutar kursi rodanya ke arah ruang tamu,agar saat Yulvi keluar tidak melihatnya.


" Assalamu'alaikum..." Dari arah pintu terdengar suara salam dan seseorang masuk kerumah.


" Wa'alaikumsalam...," Zain menjawab salam itu dan dia tau kalo itu suara Ayahnya. Zain bertanya-tanya ada apa Ayahnya datang tanpa memberitahukannya.


" Apa kabar Nak?" sang Ayah datang dan menanyakan kabar Zain. Mereka saling berpelukan untuk sesaat.

__ADS_1


" Alhamdulillah Zain baik Yah, Ayah bagaimana kabarnya? Kenapa datang ga kasih kabar?" sambil menjawab Zain juga bertanya pada Ayahnya.


" Emang perlu kasih tau kamu dulu, Ayah ada kerjaan sekalian mau istirahat dulu pulang kesini dari pada ke hotel." Jawab Ayah santai


" Semua kerjaan baik-baik saja kan Yah?" Zain khawatir karena terlalu banyak yang ayahnya kendalikan.


'' Tenang Nak, semua lancar tapi begitu melelahkan untuk Ayah. Kamu harus cepat sembuh biar bantu Ayah langsung. Kenapa ga sekarang saja kamu turun Nak, tidak apa-apa pakai kursi roda jalanin yang disini saja." Ayah menawarkan pada Zain karena dia juga kewalahan dengan semua pekerjaannya


" Zain juga ingin sembuh Yah, Nanti Zain pikirkan dulu untuk perusahaan yang disini." Saat mereka mengobrol bersama di kursi tamu Yulvi keluar karena mendengar seperti ada yang sedang berbicara.


" Permisi Tuan, mau dibuatkan minuman apa?" Yulvi sedikit membungkukkan badannya dan memberi senyum pada Ayah Zain.


" Siapa dia Nak?" tanya Ayah pada Zain, karena sang Ayah baru melihatnya. Namun dia tau istrinya memberitahu bahwa Zain memiliki Asisten pribadi.


" Dia asisten pribadiku Yah, yang Bunda Carikan buat Zain." Jawab Zain


" Siapa namamu?" tanya Ayah Zain pada Yulvi sambil menelisik penampilan Yulvi dari atas kebawah, yang menggunakan pakaian tertutup walau di luar Negri. Biasanya pelayan yang di Indonesia tertutup maka akan mengubah penampilannya saat bekerja di Luar Negri.


Yulvi yang mendapat pertanyaan dan seperti diperhatikan oleh Ayah Zain sedikit tegang. " Saya Yulviana Tuan." jawab Yulvi dengan suara bergetar.


" Ok, saya Ayah Zain. Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik dan merawat anak saya sampai bisa berjalan lagi." Jawaban sekaligus perintah dari Ayah Zain sama persis seperti Ibunda Zain inginkan.


" Baik Tuan, In Syaa Allah saya akan bekerja semampu saya." kali ini Yulvi menjawab dengan tenang, karena itu juga harapannya bahwa ingin Zain kembali bisa berjalan.


" Sudah Ayah, jangan membuatnya takut. Ana buatkan kami minum, Ayah buatkan kopi saja tapi lest sugar Aku yang biasa saja." Sela Zain untuk meloloskan Yulvi dari segala pertanyaan Ayahnya.


" Emang Ayah serem bisa buat dia takut, ya sudah buatkan kami minum." Ayah sedikit bergurau meski dengan wajah datar dan nada yang dingin.

__ADS_1


Anak dan Ayah memiliki sifat yang tidak jauh berbeda, membuat Yulvi yang baru melihat Ayah Zain sedikit takut. Yulvi akhirnya Pamit dan menuju dapur untuk membuatkan minum.


Selamat Tahun Baru untuk semua Reader, semoga kita semua dalam lindunganNya. Jangan lupa ya,like,komen & vote 🙏🙏🙏 Makasih atas semua dukungan kalian.🥰🤗


__ADS_2