Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
bab 32 akhirnya keluar


__ADS_3

Semilir angin seakan mengayunkan dedaunan. Pelan namun pasti, menembus permukaan kulit wajah. Angin semilir itu seakan membawa butir-butir air dingin. Berembun.


Setelah selesai dengan sarapan pagi dan minum obat, Yulvi membujuk Zain untuk keluar rumah dan menikmati indahnya pagi. Dan itu berhasil, Zain mau keluar dengan di temani Yulvi. Dengan hati yang ringan Yulvi mendorong kursi roda Zain menuju taman depan rumah. Bunda Zain melihat itu semua dan dia tersenyum, karena ini luarbiasa Zain yang selama ini mengurung dirinya sekarang akhirnya keluar rumah walau hanya ketaman depan.


" Kak,,,Mau keliling atau kita duduk di situ aja?" Yulvi menawarkan pada Zain


" Duduk aja Ana, aku ga mau kamu cape dorong-dorong aku yang berat ini." Zain menjawab seperti itu karena dia merasa Yulvi nanti lelah.


" Kalau Kakak mau keliling dulu Yulvi kuat kok, Kita jalan-jalan dulu ya liat indahnya taman abis itu kita duduk disana." Yulvi ingin membuat Zain nyaman bersamanya


" Terserah kamu saja."


Mereka berkeliling taman dan melihat indahnya berbagai macam tanaman bunga. Menikmati sejuknya udara pagi, merdunya suara-suara burung yang terbang dan hinggap. Zain merasa tubuhnya segar setelah sekian lama baru keluar dan mendapat udara pagi. Dia jadi memiliki semangat untuk kembali berjalan seperti dahulu.


Yulvi mendorong kursi roda Zain dan berhenti di bangku taman. Yulvi mendudukkan dirinya di kursi dan Zain berada di sebelah bangku taman, jadi seakan mereka duduk bersebelahan. Zain menatap Yulvi tersenyum, lalu mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan mengelapkan ke dahi Yulvi yang berkeringat. Yulvi menatap Zain dengan kaget, karena dia tidak menyangka Zain melakukan itu.


" Kak,,,!"


" Ada apa?" tanya Zain


" Ga usah gitu Kak, sini in sapu tangannya biar Yulvi bersihin sendiri." Yulvi takut ada yang melihat perilaku Zain padanya


" Kenapa, biar aku saja kamu cape Karena membawaku keliling." jawab Zain santai

__ADS_1


" Jangan Kak, ga enak sama yang lain. Aku kan bekerja ini sudah tugas Yulvi." jawab Yulvi


" Kalau kamu tidak bekerja pada Bunda, apa Kamu mau tetap merawatku Ana?"


" Kalau Kakak nyaman dan mau aku akan tetap merawat Kakak." jawab Yulvi dengan sungguh-sungguh.


Zain menanggapinya dengan tersenyum, sekarang dia menemukan belahan hatinya yang datang sendiri dan menemaninya. Zain bertekat untuk sembuh dan akan membahagiakan Yulvi. Ia ingin membawa Yulvi ketempat yang indah dan hidup bersamanya untuk selamanya. Begitu tinggi keinginan Zain sehingga ia ingin pergi ke Dokter meski tidak ada jadwal kontrol.


Yulvi merasa senang karena dia dipertemukan Zain dan sekarang bisa bersamanya meski hanya sebagai pelayannya. Meski antara mereka tidak ada hubungan yang pasti, tetapi diantara mereka mengetahui bahwa mereka saling mencintai. Dua hari lagi Bunda Zain akan kembali ke Indonesia. Bunda melihat Zain dengan Yulvi dia merasa lega bisa meninggalkan Zain dengan orang yang tepat.


" Kita masuk ya Kak, Matahari sudah mulai panas." Yulvi mengajak Zain kembali ke rumah


Zain hanya mengangguk saja. Yulvi mendorong Zain ke dalam rumah, Dia langsung membawa Zain kekamarnya. Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, Pelayan rumah sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


" Kakak mau langsung istirahat atau mau apa dulu, biar Yulvi bantu."


" Iya Kak," jawab Yulvi sambil berjalan ke Nakas untuk menggambil laptop Zain.


" Ini Kak, laptopnya." Yulvi menyerahkan pada Zain


" Aku pamit keluar ya Kak." ijin Yulvi karena dia bingung apa, dia ingin keluar membantu yang lain


" Mau ngapain, bantuin siapa? Kamu disini aja temenin Kakak!" titah Zain karena dia senang ada Yulvi didekatnya.

__ADS_1


" Mau bantuin teman-teman diluar Kak, emang Kakak mau apa biar Yulvi ambilin." Yulvi bingung kalo hanya menunggu Zain dikamarnya dan tidak melakukan apa-apa.


" Ga usah, diem aja di sini temenin Kakak." hanya itu yang Zain ucapkan yang membuat Yulvi bingung.


" Ya udah, Yulvi pijitin aja ya kaki Kakak. Sambil Kak Zain kerjain pekerjaan Kakak." karena bingung Yulvi berjongkok dan bersiap memijit kaki Zain


" Ga usah Ana, sini bangun duduk disini saja kamu!" Zain menyuruh Yulvi duduk di ranjangnya.


" Jangan Kak, Kakak pindah aja dulu ya. Ke tempat tidur bersandar sambil bekerja biar Yulvi pijitin kakinya gampang." Yulvi malah punya ide agar Zain pindah ke ranjang


" Biar disini saja,"


" Ga boleh, punggung Kakak nanti cape terlalu lama duduk di kursi roda. Ayo Yulvi bantu." kekeh Yulvi langsung mengambil laptop dipangkuan Zain dan melakukan posisi untuk memindah Zain ke ranjangnya. Zain hanya menurut karena Yulvi yang sekarang Sosok yang tegas yang ia tahu. Zain senang dengan ketegasan Yulvi yang berarti perhatian yang dituju untuknya.


Yulvi memindahkan Zain ke ranjang dengan posisi bersandar, dia memberikan kembali laptop Zain. Yulvi mengambil kursi di depan meja kerja Zain dan duduk di hadapan kaki Zain siap untuk memijit. Zain hanya menatap apa yang Yulvi kerjakan sambil membuka laptopnya kembali. Kaki kanan Zain masih belum bisa merespon apapun. Itu yang membuat Zain diam-diam membuat janji untuk bertemu Dokter yang lebih ahli agar dia bisa berjalan lagi.


" Udah nyaman belum Kak, posisi duduknya?" tanya Yulvi saat dia akan memijit Zain


" Aku sudah nyaman didekat kamu Ana!" jawab Zain yang tidak nyambung dengan pertanyaan Yulvi, Zain hanya tersenyum melihat respon Yulvi yang kaget dengan jawabannya.


" Udah enak begini, kenapa jadi bengong gitu?" Zain mulai suka menggoda Yulvi


" Aneh aja sama jawaban yang pertama, ya udah sini Yulvi pijitin."

__ADS_1


Yulvi mulai memijit kaki Zain yang sebelah kiri dulu, agar otot-otot nya tidak kaku. Lalu kaki sebelah kanan Zain juga Yulvi pijit, meski Zain tidak merasakan tapi Yulvi tetap melakukannya.


(Duh Jadi pingin dipijitin author juga🤭, tapi sama Zain nanti kalo dah sembuh😅)


__ADS_2