Jalan Takdir Cinta

Jalan Takdir Cinta
Bab 33 Yulvi tertidur


__ADS_3

Zain menikmati pijitan Yulvi dikakinya, meski kaki kanannya belum merespon tapi menikmatinya. Sesekali dia melirik Yulvi yang sedang memijitnya dengan serius. Zain mengerjakan pekerjaan nya sedikit tidak fokus karena melihat ada Yulvi di depannya. Sudah 30 menit Yulvi memijit Zain, tangan nya merasa lelah tapi mau berhenti dia merasa tidak enak dengan Zain. Sedangkan Zain sengaja membiarkan Yulvi karena kalau Yulvi berhenti dia pasti akan keluar kamarnya.


Mata Yulvi terasa berat dan mengantuk, tapi dia masih tetap menggerakkan tangannya untuk memijat Zain. Meski sekali-sekali dia memejamkan matanya, Zain melihat itu hanya tersenyum. Dia ingin Yulvi sampai kapan Yulvi kuat dengan kantuknya. Yulvi tidak kuat dengan kantuknya, dia pun menjatuhkan kepalanya di kaki Zain dan tertidur. Zain hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia membiarkan Yulvi tidur seperti itu karena dia tidak bisa memindahkan Yulvi. Mau membangunkan nya juga merasa kasihan.


'Ana,,, bisa-bisanya kamu tertidur. Andai aku bisa mengangkat mu akan ku pindahkan kamu disisiku ini.' Zain bergumam sambil menatap wajah Yulvi yang tertidur di kakinya.


Sudah mau satu jam Yulvi tertidur tapi Zain masih tetap membangunkannya. Bunda Zain masuk ke kamar Zain karena jam makan siang sebentar lagi. Dia akan menanyakan anaknya mau makan apa, tapi dia dikejutkan dengan Yulvi yang tidur di kaki anaknya. Sedangkan Zain masih tetap fokus dengan laptopnya.


'' Nak, kenapa Yulvi tidur seperti ini?" tanya bunda setelah melihat Yulvi benar-benar tertidur


" Ga apa-apa Bund, dia mungkin terlalu cape sudah membawa Zain keluar dan lanjut memijit kaki Zain. Kasihan kalau di bangunkan." Zain menjelaskan pada Bundanya.


" Ya sudah, tapi kasihan juga tidur seperti itu nanti badannya sakit. Bunda bangunkan saja ya!" Bunda melihat posisi Yulvi tidak nyaman


" Iya Bunda, "


Bunda membangunkan Yulvi dengan mengusap punggung Yulvi dengan lembut sambil memanggil namanya. Zain melihat itu tersenyum, apakah nanti ibunya akan setuju jika ia ingin bersanding dengan Yulvi. Suatu hari nanti ia akan mengutarakan pada Bundanya.


" Yulviiii..." panggil Bunda membangunkan Yulvi


Serasa ada yang memanggil namanya Yulvi mengerjapkan matanya dan membuka perlahan. Saat matanya terbuka, dia samar-samar melihat kearah Zain yang tersenyum padanya. Dia langsung membolakan matanya dan menegakan tubuhnya. Lalu menoleh kebelakang begitu terkejutnya Yulvi yang langsung berdiri dan menyapa Bundanya Zain. Melihat itu Zain serasa ingin tertawa tapi dia menahannya karena ada sang Bunda.


" Aduh, Ibu maaf sekali saya tertidur disini." Yulvi berucap sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Bunda Zain dengan muka datar menatap Yulvi yang sedang ketakutan. Dia ingin tau alasan apa yang akan Yulvi berikan padanya.


" Maaf Bu, tadi saya sedang memijat kaki Tuan, tidak sengaja tertidur." Yulvi kembali menjelaskan karena Bundanya Zain hanya menatapnya.


" Bund, jangan menatap seperti itu nanti dia takut ke Bunda." ucap Zain yang melihat Bundanya juga sedang mengerjai Yulvi karena dia tau sifat bundanya tidak akan marah tanpa sebab


" Ya sudah lanjutkan saja tugas mu, buatkan makan siang untuk putraku!" Bunda akhirnya menyuruh Yulvi untuk membuat makanan untuk Zain.

__ADS_1


" Maaf, apa ada yang ingin Tuan inginkan nanti Yulvi insyaAllah buatkan?" tanya Yulvi dengan sopan.


" Buatkan saja makanan yang lezat untuk putraku, agar dia cepat sembuh." Bukan Zain tapi Bundanya yang menjawab.


" Baik Bu, saya permisi." Yulvi berucap sambil keluar dari kamar Zain dan memukul kepalanya karena mersa ceroboh kenapa bisa tertidur. Dia merasa sangat malu dan tidak enak karena baru saja bekerja tapi tertidur.


Bunda duduk menggantikan Yulvi yang pergi, Ia menatap Zain curiga. Sedangkan yang ditatap hanya datar dan kembali fokus pad pekerjaannya. Setelah beberapa menit merasa diperhatikan Zain menatap Bundanya.


" Kenapa Bund?" Zain bertanya


" Ada yang aneh, kenapa begitu cepat anak bunda cocok dengan orang baru." Bunda memancing Zain apa akan bercerita dengannya


" Aneh kenapa Bund?" Zain malah balik bertanya ke Bundanya, karena menurut dia biasa-biasa saja.


" Ya kamu, sudah bisa dekat sama pelayan kamu gitu. Kamu suka sama dia, jadi cocok sama pelayan baru mu itu. Dulu aja ga mau di cariin pelayan sekarang cepat baget deketnya." terang Bunda karena Zain tak kunjung cerita tetang perasaannya.


" Syukurlah, Bunda jadi lega. Ya sudah Bunda tinggal ya. Mau sesuatu ga, nanti Bunda kasih tau Yulvi."


" Ga ada Bund, Zain masih kerjain ini dulu."


" Ya sudah," Bunda Zain keluar dan menuju dapur melihat Yulvi sedang menyiapkan masakan. Bunda melihat dan mengeceknya, apa yang sedang Yulvi masak.


" Kamu sedang buat apa?"


" Saya hanya masak sayur sop sama goreng ayam Bu."


" Ya sudah saya tinggal ya, jangan lupa obat untuk Zain."


" Iya Bu,"

__ADS_1


Aroma masakan Yulvi terasa nikmat, semua teman-teman Yulvi menuju dapur karena waktu istirahat sebentar lagi. Mencium harum masakan Yulvi mereka juga ingin merasakannya.


" Kamu masak apa Yul?" tanya Dwi


" Bikin sayur sop, goreng ayam sama sambel tomat kasih terasi sedikit Mba. Kalian juga boleh makan, Yulvi masak banyak Mba."


" Yeyyy, makan enak nih. Dah lama aku pingin sambel terasi loh." datang Sri yang menyahutinya


" Boleh Mba, aku ambil sedikit buat Tuan Zain sisanya kita makan bersama nanti." Yulvi menyiapkan Nasi beserta lauk nya. Lalu membawanya ke kamar Zain karena waktu makan siang tlah tiba.


Saat masuk ke kamar Zain, Yulvi melihat Zain masih fokus dengan laptopnya. Sudah tiga jam lebih Zain berkutat dengan pekerjaannya.


" Makan dulu Kak, nanti lanjut lagi kerjaannya." titah Yulvi


'' Bentar Ana, Sedikit lagi selesai. Kamu duduk dulu sini." ucap Zain sambil menepuk pinggir Ranjangnya.


Yulvi menaroh makanan ke atas nakas dan mengambil kursi kembali ke sisi Zain. Zain melirik ke arah Yulvi yang sedang membawa kursi untuk duduk. Padahal dia ingin Yulvi duduk di ranjangnya, agar dekat dengannya.


" Kan aku nyuruh kamu disini, kenapa ambil kursi?" tanya Zain sambil menatap Yulvi


" Ga enak Kak, di sini aja. Mau aku suapin lagi, Kakak lanjutin aja kerjanya." tawar Yulvi pada Zain


" Boleh..." dengan senang hati Zain menerimanya.


Makanan untuk Zain, Yulvi ambil dan ia mulai menyuapkan pada Zain. Seakan sudah terbiasa Yulvi sudah tidak malu dengan posisi mereka yang selalu berdekatan.


" Enak...Mmmm!" Zain memuji masakan Yulvi, serta menikmati suapan dari Yulvi.


(Ada yang mau disuapin ga nih🤔🤭)

__ADS_1


__ADS_2