
Sudah hari Minggu, memang tak terasa waktu. Bunda akan pulang ke Indonesia di pagi ini. Zain sudah ada yang menjaga dan Bunda bisa kembali dengan hati yang lega. Yulvi mendapat begitu banyak pesan oleh Bunda agar Yulvi menjaga Zain untuknya.
Bunda pergi tanpa Zain mengantarnya ke Bandara, Zain hanya mengantar sampai teras rumah. Itu pun Yulvi yang membantu Zain, setelah mobil yang membawa Bunda Zain pergi. Yulvi akan membawa Zain masuk kembali tapi Zain mencegahnya, dia menyentuh tangan Yulvi.
" Ada apa Kak?" Yulvi merasa ada yang Zain inginkan.
" Aku ingin nasi goreng buatan mu, tadi aku hanya minum susu." Sebenarnya dari bangun tidur dia ingin nasi goreng yang dibuat Yulvi, tapi dia enggan meminta saat ada Bundanya.
" Ok, tapi Yulvi antar Kakak ke kamar dulu ya."
" Bawa aku ke Dapur, aku akan menunggumu disana, juga mungkin ada yang bisa ku bantu."
alasan Zain padahal dia ingin selalu dekat dengan Yulvi.
" Tidak usah Kak, aku antar kekamar saja biar bisa istirahat." Kekeh Yulvi karena tidak mau membuat Zain menunggunya memasak
" Bawa aku ke dapur Ana, Aku bosan harus di kamar terus."
" Ya udah, cuma liatin aja ya, ga usah ikut bantu masak." Yulvi akhirnya membawa Zain bersamanya. Dia menyiapkan bahan yang dibutuhkan untuk nasi goreng. Zain melihat Yulvi seakan sudah biasa dengan masak memasak. Bertambah kagum Zain pada Yulvi, Yulvi merupakan pasangan yang ideal bila berjodoh dengannya. Tapi dia begitu tidak cocok untuk Yulvi yang sempurna, itu Yang ada di hati Zain saat menatap Yulvi.
Tidak perlu waktu lama untuk membuat nasi goreng, karena itu menu yang simpel dan sering ia buat. Yulvi menyajikan satu piring nasi goreng dengan toping yang biasa Zain inginkan hanya ceplok telor dan irisan timun. Yulvi akan membawa piring itu ke meja makan tapi Zain menolaknya. Dia ingin memakainya dimeja dapur saja, tempat para pelayan makan bersama. Sebenarnya Yulvi ingin menolak karena tidak enak dengan teman-temannya. Zain tidak mau di bantah, dia ingin makan di sana bersama Yulvi dan anehnya dia juga meminta Yulvi menyiuapinya.
__ADS_1
" Sudah duduk sini, suapin ya!" pinta Zain sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Apa sih Kak, yang sakit kak kakinya kenapa selalu minta disuapin. Kalo ada yang juga ga enak." tolak Yulvi
" Iya tapi sekarang kamu kan pelayan pribadiku jadi harus patuh sama perintahku, ga usah ga enak sama yang lain kan emang itu tugasmu." jelas Zain karena buka makan dari tangan Yulvi dia merasa nafsu makannya bertambah.
Dengan pasrah akhirnya Yulvi menyuapi Zain, yang kadang di sela Zain balik menyuapi Yulvi. Yulvi hanya bisa menerima semua perlakuan Zain dengan diam. Karena menolak pun tidak akan bisa. Nasi goreng satu piring telah habis, seakan makan satu piring berdua. Zain merasa bahagia saat ini, meski keadaan kaki nya belum ada kemajuan. Dengan adanya Yulvi di sisinya sudah membuatnya begitu bahagia.
Setelah selesai, Yulvi mengantarkan Zain kembali ke kamarnya. Yulvi di ijinkan neninggalkannya untuk membantu yang lain di luar. Sedangkan Zain melakukan pekerjaannya di atas ranjang seperti biasa.
Malam harinya, setelah Yulvi selesai dengan kegiatanya. Dia menyiapkan makan malam Zain. Lalu mengantarkan kekamar Zain, Merasa ada yang aneh karena tidak biasanya Zain sudah tidur pada jam saat ini. Biasanya dia masih fokus pada laptopnya saat Yulvi masuk untuk mengantar makan malam. Yulvi pun mendekat ke ranjang Zain dan berniat membangunkannya.
" Kakak kenapa?" tanya Yulvi sambil mengecek kondisi Zain dengan menempelkan tangannya ke dahi Zain. Yulvi melihat Zain menggigil, ternyata saat Yulvi cek Zain mengalami Demam.
" Kak panas sekali, Kakak demam kenapa ga pangil Yulvi dari tadi." Yulvi berbicara dengan nada khawatir dan langsung keluar kamar untuk menyiapkan air untuk menggompres Zain.
Zain terlihat lemah, mungkin karena dia terlalu cape dan badannya kurang fit. Tadinya Zain berniat esok hari dia akan pergi ke dokter yang sudah ia janjikan. Dengan kondisi badannya saat ini Zain akhirnya mengurungkannya.
Yulvi datang dengan mebawa alat kompresnya, dan obat untuk Zain.
" Maaf Kak , ucap Yulvi sambil meletakan kain di dahi Zain.
__ADS_1
" Hmmm..." respon yang Zain berikan karena terlalu lemah.
" Kak, buka mata dulu. Makan dulu ya terus minum obat biar demamnya cepat turun." titah Yulvi karena Zain memejamkan matanya.
Zain hanya menggelengkan kepalanya, menolak perintah Yulvi untuk makan.
" Sebentar aja Kak,'' bujuk Yulvi sambil mengusap tangan Zain, dan di sambut Zain dengan langsung menggenggam tangan Yulvi. Yulvi ingin menarik tangannya tapi merasakan tangan Zain begitu dingin dia akhirnya membiarkannya.
" Biarkan Kakak istirahat sebentar kamu disini jangan pergi." pinta Zain dengan tetap memegang tangan Yulvi. Zain ingin memulihkan tenaganya, karena sangat lemas dengan tidur sebentar Mungin akan membaik. Itu yang diharapkan Zain.
" Iya Kak, Yulvi ga kemana-mana.'' jawab Yulvi dengan memandang Zain yang lemah. Tak di sangka air mata tanpa permisi melewati pipinya. Yulvi segera menghapusnya, karena dia tidak mau Zain melihatnya.
Zain tertidur, Yulvi setia menunggu Zain dan selalu Menganti kain untuk mengkompres. Dia berharap esok pagi Zain sudah baik-baik saja. Kantuk pun datang, Yulvi tak bisa melawan yang akhirnya dia pun tertidur berbantal kedua tangan mereka.
Begitu nyenyak mereka tertidur, Zain juga begitu nyenyak dengan kain yang tetap menempel di dahinya. Yulvi merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya, Dia menggerakkan badan dan membuka mata. Yulvi tersadar dia tertidur di kamar Zain. Yulvi langsung mengecek keadaan Zain, akhirnya demamnya sudah turun Yulvi pun bersyukur.
Merasa ada yang nenyentuhnya Zain membuka matanya, ternyata wajah Yulvi yang i tatap. Zain merasa kasihan karena Yulvi harus tidur di kursi pasti badanya sakit semua.
" Kenapa ga tidur sebelah Kakak saja, badanmu pasti sakit semua " ucap Zain dan membuat Yulvi mematung mendengarnya.
(Maksud Zain Tidur satu ranjang🤔, oh no pasti Yulvi menolaknya🤭)
__ADS_1