
"Apakah di salon ini dibutuhkan tenaga kerja? Kalau pun ada saya ingin menawarkan jasa saya untuk bekerja di sini." ujar Mega sopan setelah masuk dan bertemu langsung dengan pemilik salon.
Pria dengan tubuh atletis menelisik penampilan Mega, dari cara make up yang Mega gunakan menarik perhatian pemilik salon untuk langsung menerima Mega. Tapi ia mesti melihat secara langsung dulu bagaimana calon karyawan ini menunjukkan keterampilannya.
"Eum, buktikan kemampuanmu sekarang juga, aku ingin melihat secara langsung hasil karya mu dengan mata kepalaku sendiri, dengan begitu aku bisa mempertimbangkan kamu untuk bekerja di sini!" ujar pemilik salon.
Mega membuka mulutnya tak percaya. "Dengan senang hati Pak! Aku akan mempersembahkan hasil dari jemari emasku pada Anda." suasana hati Mega sangat senang, ia yakin pemilik salon tidak akan kecewa dengan usaha nya. Mega menautkan ke sepuluh jarinya.
"Jangan memanggilku dengan panggilan pak, itu terdengar lebih tua! Panggil aku dengan mister Jo." Jo mengulurkan tangannya.
Mega menyambut hangat tangan itu. "Baik. Aku Mega."
"Oke, Mega, silahkan berkarya!" Jo menunjuk ke arah pelanggan yang baru saja tiba.
Pelanggan pertama Mega adalah seorang wanita dewasa, dari cara berpenampilan wanita itu terlihat jelas kalau dia adalah dari kalangan elit.
Mega menyambut pelanggannya dengan ramah. "Silahkan Nyonya!" Mega menarik kursi dan mempersilahkan duduk.
"Tiga jam lagi aku ada acara kondangan, pastikan aku tampil memukau hari ini. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan teman - temanku." ujar wanita itu tegas, seolah meragukan kemampuan Mega. Pasalnya wanita itu adalah pelanggan setia di salon CANTIKA yang Mega tempati ini. Ely namanya.
"Anda tidak perlu khawatir Nyonya, meski saya baru di sini saya akan memberikan pelayanan terbaik untuk Anda." balas Mega meyakinkan pelanggan.
"Baik. Bisa kita mulai sekarang? Aku tidak ingin membuang waktuku."
Mega mengangguk ramah dan mulai memoles.
Mister Jo menyilangkan kedua tangan dan mengamati Mega dari arah jauh.
Ini kesempatan bagi Mega untuk menunjukkan pada dunia kalau dia adalah seorang MUA dan bukan gadis jelek yang selalu direndahkan.
Sejauh ini Mega menikmati suasana lingkungan dan tubuh yang baru. Meski terkadang berhadapan dengan orang - orang yang menyebalkan, seperti kejadian pagi tadi di kampus, bertemu Kikan yang sok berkuasa.
Mega tidak akan membiarkan siapa pun akan menyakiti dirinya, ia akan memberantas habis orang - orang yang menindasnya.
Termasuk keluarga Kian yang bernama tante Sendy. Mega yakin wanita yang tidak lain adalah adik ipar Raditya itu punya niat jahat terhadap kakaknya, nyonya Ayu.
Mega mengabaikan sejenak pikiran tentang fitnah tanpa bukti yang dituduhkan padanya.
Tak kurang dari sejam saja Mega sudah selesai merias, Ely membelalakkan mata tak percaya dengan pantulan wajahnya di depan cermin.
Sambil membuka mulutnya seolah kesulitan bicara, "A-apakah i-ini aku? Sangat cantik!" Ely tak berhenti memuji kecantikannya.
"Nyonya puas dengan pelayanan yang saya berikan?" Mega mengulas senyum, ia sudah terbiasa menghadapi pelanggan yang modelnya seperti ini.
Ely mengangguk dan sorotan matanya tak lepas dari gambaran wajah nya di cermin.
__ADS_1
Mister Jo datang menghampiri Mega lalu memujinya. "Wah, mahakarya yang luar biasa! Belum pernah sebelumnya aku memiliki karyawan yang bisa make up seperti mu Mega,"
"Bisakah Mister Jo menepati janji, bahwa aku bisa bekerja di sini mulai detik ini juga?" Mega mengingatkan. Meskipun Mega tak berkata demikian sudah pasti ia diterima di salon CANTIKA itu.
Sebelum pergi, Ely memberikan tip lebih dan meminta mister Jo agar saat dirinya datang lagi membiarkan Mega yang meriasnya.
Mega senang di awal ia bekerja sudah mendapatkan kepercayaan dari seorang pelanggan.
Setelah kepergian Ely, di luar sana ia memamerkan wajahnya yang sudah disulap begitu cantik olah Mega, Ely tak lupa juga mengabadikan gambar wajahnya dan mengirimnya ke grup sosialita.
Beberapa karyawan lain terkesima dengan bakat Mega yang sungguh menakjubkan. Mereka tak sungkan bertanya pada Mega agar bisa menjadi seorang makeover.
Mega senang punya teman baru. Ia pun tak pelit ilmu dan berbagi dengan teman barunya.
"Aku akan mencoba pada pelanggan kelima, terimakasih Mega kamu mau berbagi tips padaku!" ujar Keysa.
"Tak masalah, semoga berhasil!"
Keysa menyambut pelanggan yang baru saja masuk.
Mister Jo tak salah menerima Mega di tempat itu. Dan benar saja, salon yang biasanya sepi pelanggan ini pun mendadak membludak setelah Mega viral.
Sekitar pukul 7 sore, Mega baru tiba di rumah. Ia sengaja mematikan ponsel agar saat dirinya bekerja tidak terganggu.
"Hallo, Mega Lo ada di mana sekarang?"
"Aku di rumah." sahut Mega dingin.
Sebenarnya Kian tadi sudah bolak - balik ke rumah Mega. Kata Loly, Mega belum pulang.
"Syukurlah, gue sangat mengkhawatirkan Lo sejak kemarin! Lo kemana saja tadi, ponsel Lo sangat sulit dihubungi?"
"Aku kerja di tempat baru. Sudah ya, aku capek. Aku baru saja tiba dan ingin segera tidur!" pangkas Mega dan segera mematikan ponselnya. Biar saja dikatai tak sopan, toh Kian kan bukan majikannya sekarang. Mega sudah pensiun jadi seorang made.
Kian hampir saja membuka mulutnya tapi ponselnya sudah terlanjur terputus secara sepihak. Kian menarik nafasnya panjang. Ia ingin menjelaskan dan meminta maaf besok.
Mega memasuki rumah. Terlihat ibu tiri dan dua saudara tirinya tengah menikmati makan malam.
"Dari mana saja kamu, kelayapan nggak jelas!" hardik Sonya.
Mega berjalan melewati meja makan dengan lesu. Meletakkan tiga gelas cup di atas meja tepatnya di depan mereka bertiga.
"Diamlah! Aku capek." lalu pergi begitu saja.
Sasa hafal betul hanya melihat kemasan yang baru saja dibawa Mega. Sontak dirinya mengambil cup itu. "Es krim mixue!" serunya.
__ADS_1
Loli tak mau kalah dan berebut es krim.
Sonya menyebik dan melanjutkan makannya.
Keesokan harinya, Kian memburu waktu agar bisa menemui Mega di rumahnya. Tapi Mega sudah pergi. Kian memutar haluan ke kampus.
Mega bekerja paruh waktu dan menyampaikan ke mister Jo kalau dirinya masih kuliah. Mister Jo tak masalah. Menerima kedatangan Mega kapan pun.
Di kampus pun Kian sangat sulit ingin mengajak Mega bicara. Pak Teguh sangat tidak suka keributan saat jam mata kuliah nya.
Kian berusaha mengirim sms, namun tak mendapatkan respon. Ia geram dan mencoba menghubungi Mega.
"Kian!" hardik pak Teguh.
Kian gelagapan dan kembali fokus pada materi kuliah.
Saat jam pulang pun, Kian berusaha mengejar Mega tapi terhalang Liam.
Kikan memperhatikan Mega dari jauh yang terlihat buru-buru pergi.
Kikan geram melihat Mega begitu cepat tenar di media sosial. Kikan dan kawan - kawan mendatangi salon CANTIKA sepulang dari kampus.
Dan benar saja, Kikan melihat Mega begitu asyik merias hingga tak menyadari kedatangannya.
Kikan mendekat, menyambar gunting yang berada di meja rias. Kikan membuat kekacauan dengan memotong rambutnya sendiri agar Mega di pecat dari tempat kerjanya. Mister Jo tahu kejadian yang sebenarnya dan segera menghampiri mereka.
Kikan menarik tangan Mega dan meletakkan gunting di telapak tangannya. Mega termangu sejenak.
"Dia bekerja tidak becus, pecat dia!" hardik Kikan begitu tahu mister Jo datang.
"Dia karyawanku, dan aku lebih percaya dia." ujar mister Jo.
"Kamu! Aku pelanggan setia di salon ini, tapi kamu malah membela karyawan baru ini!" Kikan mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah mister Jo.
Jo menurunkan jari telunjuk itu. "Pelankan suaramu Nona, sangat tidak pantas berteriak di depan orang yang usianya lebih tua darimu."
Kikan merasa geram, "Aku bisa saja menutup salon ini." ancamnya berharap Jo memecat Mega.
"Silahkan jika itu membuat mu senang, tapi aku tidak takut walaupun aku tahu siapa kamu! Dan aku tidak segan melaporkan kalian bertiga karena telah membuat kekacauan di tempat ku!" Jo sudah hilang kesabaran meladeni Kikan. Sebelumnya Kikan sudah pernah membuat onar juga karena pelayanan yang tidak memuaskan. Jo terpaksa memecat salah satu karyawannya.
Dua teman Kikan merasa takut, "Kikan, lebih baik kita pergi saja!"
"Benar, kita cari cara lain untuk mengerjai gadis jelek itu."
Kikan terpaksa pergi dengan membawa rasa malu.
__ADS_1