
Mega mengerlingkan mata mengingat sosok pria yang menyapanya.
"Eum, maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Mega seraya mengingat wajah pria yang sangat mirip dengan seseorang.
"Aku Egan, seseorang yang pernah kamu tolong dari kecopetan tempo hari."
Mega menepuk jidatnya sambil tersenyum, "Oh iya, aku baru ingat, maaf daya ingatanku tak begitu kuat mengenai seseorang."
Rasanya bahagia sekali Egan bisa bertemu lagi dengan Mega, cewek yang sudah membuatnya tak bisa tidur semenjak beberapa hari lalu.
Mega tak banyak merespon, hanya menjawab sekenanya saja ketika Egan melontarkan pertanyaan ringan seputar dirinya. Mega melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia harus segera tiba di tempat pernikahan salah satu pelanggan.
"Mega!" panggil Egan tatkala Mega terlihat sedang buru - buru ingin pergi.
"Ya?"
"Apa kamu punya waktu sebentar, bagaimana kalau kita minum atau makan di suatu tempat?" tawar Egan yang sebenarnya ingin berlama - lama ngobrol dengan Mega. Bagi Egan, Mega adalah cewek sempurna yang patut untuk ia dekati.
"Maaf Kak Egan, aku sedang terburu - buru, aku harus merias seseorang yang hari ini akan menikah."
"Kamu seorang MUA?" Tebak Egan.
Mega mengangguk dan hendak melangkah pergi, ia tahu jika Egan kecewa dengan sikapnya. Mega berbalik dan berkata, "Bagaimana kalau besok sore, sepertinya aku ada waktu untuk menerima tawaran Kakak?"
Egan kembali berseri wajahnya, "Baiklah. Boleh aku meminta nomor ponselmu?"
Mega mengangguk sebagai jawaban, lalu memberikan ponselnya agar Egan bisa mengetik nomornya.
"Ini, aku akan menghubungi mu untuk memberi tahu tempat kita minum nanti."
Kemudian Mega segera menghilang dari pandangan Egan.
Egan tak lagi melanjutkan joging, ia memutuskan untuk kembali pulang.
Sesampainya di rumah, Egan bergegas mandi dan bergabung bersama yang lain untuk sarapan bersama.
Egan memandangi ponselnya dan senyum - senyum sendiri.
Kian menegurnya, "Kak Egan, kenapa?" tanya Kian seraya menunjuk dengan dagunya.
"Kamu ingat dengan ceritaku tempo hari saat ada cewek yang menghajar pencopet?"
"Ya, apa Kakak bertemu dengan cewek itu?" tebak Kian.
"Tebakanmu benar, Adikku! Pagi tadi kita bertemu dan aku mendapatkan nomor ponselnya.
"Wah, itu bagus, bisa menjadi awal hubungan kalian!"
"Kamu mendukungku, Adikku?"
"Tentu saja Kak!"
Kian senang jika kakaknya menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, dengan begitu ia tak perlu cepat - cepat menerima permintaan ayahnya untuk segera menikah.
Selesai sarapan, Kian menuju teras. Kian tak tahu jika Mega sedang ada job pagi ini, kebetulan hari ini hari Minggu, Kian berencana ingin pergi ke rumah Mega. Kian menghubungi nomor Mega untuk memberi tahu agar dirinya bersiap.
__ADS_1
Namun ponsel Mega tak terdengar ada sahutan ketika Kian menghubungi nomornya.
Kian mematikan ponsel lalu mendesah panjang. Hal itu diketahui oleh Egan.
"Ada apa Kian? Wajahmu terlihat suntuk begitu,"
"Nomor pacarku sulit dihubungi." sahut Kian tetap dengan ekspresi wajahnya yang murung.
Egan menepuk bahu adiknya dan menghiburnya, "Tenang, mungkin pacar kamu sedang sibuk. Bagaimana kalau kita pergi ke cafe, aku sudah lama tidak berkeliling denganmu."
Kian tak menolak ajakan kakaknya.
......................
Sesampainya di cafe tempat biasa Kian nongkrong, ternyata di sana ada Aris, Beni dan Liam.
Mereka berdua bergabung di meja yang sama.
Ketiga sahabat Kian menyalami kakak Kian, dan bertegur sapa. Obrolan hangat pun terjadi.
"Eh, gimana kasus Kikan?" tanya Beni di tengah obrolan. Pertanyakan itu ia lontarkan pada Kian.
"Setelah dia masuk penjara, gue enggak pernah lagi tahu kabarnya." sahut Kian sekedar saja, karena ia memang tak tahu.
Egan yang merasa pernah ada hubungan dengan Kikan langsung bereaksi. "Kikan masuk penjara? Kok bisa?"
Aris yang menjawab dan menceritakan kronologi kejadiannya. Egan manggut - manggut mendengarnya, dan berniat akan membesuk Kikan nanti.
Mereka berlima berada di cafe hingga sore. Egan sudah merasa lelah, ia mengajak Kian pulang.
"Hei Sayang!" sapa Kian yang membuat Egan sedikit iri mendengarnya.
Mega menceritakan kalau pagi hingga sore tadi dirinya begitu sibuk.
"Ya, aku memaklumi kamu kok, tapi aku mau ganti ruginya."
"Kian, aku kan tak melakukan kesalahan padamu, untuk apa aku harus mengganti rugi padamu," protes Mega di ujung sana.
Kian terkekeh, "Bagaimana kalau pertemuan kita ganti esok hari, kamu nggak ada jadwal rias kan,"
Mega masih menimbang ajakan Kian,mengingat dirinya ada janji besok dengan Egan.
"Eum, baiklah."
"Sampai ketemu besok Sayang!" Kian mengakhiri panggilan Mega.
Egan menggoda adiknya, "Cieh yang udah punya cewek, seneng banget ya!"
Kian tersenyum tipis lalu menyalakan mesin. "Dia luar biasa, aku nggak pernah menemukan cewek sehebat dirinya sebelumnya. Selain pandai merias dia juga jago berkelahi." terang Kian singkat cerita.
Egan merasa ada kesamaan dengan cewek yang baru - baru ini ia kenal, tapi Egan menepis kecurigaan itu.
"Siapa nama cewek kamu?" tanya Egan.
Saat Kian akan menjawab, tiba - tiba saja ponselnya berdering, itu panggilan dari Raditya.
__ADS_1
Kian segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, Pa, kami sedang perjalanan pulang, ada apa?"
"Segera ke rumah sakit Medical Wiyata, mama kamu keracunan!" terang Raditya dari arah seberang.
Kian memekik kaget, "Apa! Bagaimana bisa Pa?"
"Nanti papa ceritakan, cepat kamu kesini!"
"Baik Pa."
Egan melihat ekspresi kekhawatiran di wajah adiknya.
"Ada apa, Kian?"
"Mama masuk rumah sakit. Kita harus putar arah menuju rumah sakit Medical Wiyata."
"Mama sakit apa, perasaan pagi tadi mama baik - baik aja kok?"
"Keracunan."
Kian memutar arah dan tancap gas menuju rumah sakit dimana Ayu di rawat.
Kian kepikiran dengan ucapan Mega tempo hari mengenai tante Sendy. Kian menghubungi nomor rumah. Bik Atun yang menerima panggilan.
"Bik, dimana tante Sendy ?"
"Belum tahu Den, sepertinya masih ada di dalam kamar, ada apa Den?"
"Tolong Bik Atun awasi pergerakan tante Sendy, jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi aku!"
"Baik Den."
Kian mematikan ponselnya.
Egan tak mengerti pun bertanya.
"Ada apa lagi?"
"Aku mencurigai tante Sendy di balik kasus ini."
"Dia pernah tertangkap basah hampir mencelakai mama waktu itu, untung saja berbalik padanya." terang Kian.
Egan hanya menyimak saja, belum tahu kebenaran pastinya.
Kian terlihat sibuk, Kian mengetik pesan dan mengirim pada Mega. Memberi kabar jika mamanya keracunan makanan.
Mega yang baru saja tiba di rumah membaca pesan Kian. Mega ikut prihatin atas apa yang terjadi pada Ayu, majikannya dulu.
Mega menarik handel pintu dan memasuki rumah.
Suasana rumah begitu sepi. Ia tak melihat sosok Sonya yang selalu mengomel setiap kali ia pulang.
Mega menemukan kondisi kamarnya yang berantakan, Mega bergegas memasuki kamarnya.
__ADS_1