
Berselang beberapa menit setelah kepergian geng Kikan, seorang pemuda dengan lesung di kedua pipinya datang mencari Mega.
"Mega, kita harus bicara!" Pemuda itu adalah Kian. Ia mencari tahu keberadaan Mega dari teman dekat nya, Rena.
Kian menarik tangan Mega. Mega kebetulan saja sudah selesai merias dan tidak terlihat sibuk. Tapi ia enggan untuk bertegur sapa.
"Aku sedang sibuk." sahutnya cuek.
"Kumohon! Beri gue waktu untuk bicara. Setelah ini gue nggak akan mengusik lo lagi. Five menit." Kian menunjukkan kelima jarinya.
Kian menarik tangan Mega. Mega menurut saja saat Kian mengajaknya keluar dari salon.
"Bisa kamu lepaskan tangan ku?" Kian melirik tangannya yang ternyata masih betah menggandeng tangan Mega.
"Maaf," Kian melepas tangannya, terjeda sesaat seolah sedang merangkai kalimat.
"Mama nanyain Lo, mama ingin lo kembali bekerja di rumah gue. Soal tentang keracunan itu ..."
"Ku rasa aku mulai betah dengan tempat kerjaku yang baru ini, dari pada di tempatmu yang bisa mengancam kehidupanku." potong Mega. Kemudian melanjutkan kalimatnya. "Untung saja aku tidak dilaporkan ke polisi. Ini baru kali aku difitnah dalam hidupku. Jika aku berada di sana lebih lama, mungkin saja aku bisa dituduh membunuh orang."
"Mama nggak nuduh lo." sangkal Kian, ia tak ingin hubungan Mega dan mamanya renggang, karena ini satu alasan agar dia bisa lebih dekat dengan Mega.
"Aku sudah menduga itu, memang aku tak bersalah. Apa pun alasannya aku tidak akan kembali bekerja di sana." Mega hendak berbalik tapi Kian menahannya.
"Tunggu!" Kian masih ingin mengobrol.
Mega menoleh, "Bagaimana keadaan nyonya Ida?"
"Mama sudah boleh di bawa pulang. Keracunan yang beliau alami termasuk keracunan ringan."
"Baguslah, maaf aku tidak bisa datang menjenguk. Aku harus kembali bekerja."
Mega mengambil langkah lebar memasuki salon. Jo melihat mereka dan melerai Kian yang hendak mengejar Mega.
"Bisakah kamu menjaga kenyamanan salah satu karyawan baruku di sini?"
"Maaf, tapi aku belum selesai bicara dengannya, aku harus menjelaskan sesuatu padanya." Kian bersikukuh ingin masuk tapi Jo menahan dan menyentuh dadanya.
"Anak muda, aku juga pernah mengalami masa muda sepertimu. Jika aku jadi kamu, aku tidak hanya memberikan rentetan bualan tanpa adanya keseriusan tapi juga sebuah pengorbanan. Disini aku memberikan masukan padamu, jika kamu ingin mendapatkan hati seorang wanita maka jangan hanya mengejarnya saja, buatlah dia mengejarmu dengan suatu alasan kalau kamu itu sangat dibutuhkan olehnya." setelah memberikan sebuah petuah Jo kembali masuk sementara Kian terdiam meresapi ucapan pria yang terlihat berusia 45 tahunan.
Namun pikirannya masih belum mengerti, ia memutuskan pulang setelah panggilan dari teman - temannya yang ingin mengajaknya nongkrong di tempat biasa.
Liam, Beni dan Aris sudah tiba di cafe seperempat jam yang lalu.
"An, wajah Lo lesu banget!" Beni menelisik penampilan Kian yang baru saja tiba. Ia duduk di samping Liam.
Bagaimana Kian tak karuan penampilannya, semalaman ia tak bisa tidur memikirkan Mega yang mendadak pergi tanpa pamit padanya.
"Gue baik." sahut Kian, ia menutupi masalahnya tak ingin semua temannya tahu.
"Gue perhatikan saat mata kuliah pak Teguh, Lo nggak konsen, ada apa?" desak Liam yang juga mengerti perubahan Kian.
"Gue sudah bilang, gue baik - baik saja!" bentaknya yang menunjukkan Kian memang dalam masalah. Tidak biasanya dia bersikap kasar terhadap teman - temannya.
__ADS_1
"Oke, pesanan sudah datang, kita makan siang dulu!" ajak Beni.
Di sela-sela makan, ketiga teman Kian saling mengobrol dan hanya Kian saja yang tak merespon. Hampir dua jam mereka berada di cafe tak terasa hari sudah sore, dan selama itu juga Kian betah diam dan hanya menjawab alakadarnya saat temannya bertanya. Tiba - tiba saja Kian berdiri hingga kursi yang ia duduki bergeser ke belakang. "Sorry, gue harus cabut sekarang!" tanpa banyak omong lagi Kian pergi dan ketiga temannya hanya menatapnya heran.
Selama perjalanan pulang Kian tak habis pikir siapa yang sudah menjebak Mega hingga dia harus meninggalkan pekerjaan lamanya. Semenjak kedatangan Mega dalam keluarganya, ia mulai ketergantungan dengan Mega. Apalagi Mega selalu bisa dalam setiap mata kuliah. Kian lebih mudah mengerti jika Mega yang menjelaskan materi ketimbang dosennya.
Terlalu lama berpikir membuat ia tak merasakan kalau ia sudah berada di depan pagarnya. Seorang sekuriti membuka pintu pagar besi. Mobil Kian memasuki halaman rumahnya.
Deru mesin mobil pun berhenti. Kian mencabut kunci mobil dan memegang handle pintu lalu keluar.
Dari ambang pintu terlihat seorang pria paruh baya dengan tatapan mata menyorot ke arah Kian.
"Cepat masuk, papa ingin bicara denganmu!" Raditya masuk terlebih dahulu barulah ia menyusul.
Di ruang keluarga ternyata sudah ada om Raka. Raditya langsung memulai obrolan setelah Kian ikut bergabung.
"Kian, papa rasa kamu harus secepatnya menikah mengingat usiamu yang sudah menginjak 25 tahun."
Kian terperanjat mendengarnya dan langsung memberontak tak terima. "Pa, usia segitu terbilang masih muda. Aku tak ingin menikah kecuali dengan wanita pilihanku sendiri !"
Raditya adalah sahabat kecil Raka dan hubungan mereka akan semakin erat jika kedua anaknya bersatu.
"Jika belum ingin menikah, kamu dan Kikan bisa tunangan lebih dulu." ujar om Raka menjawab pertanyaan Kian.
"Kikan? Aku tidak mau. Aku punya pilihan sendiri dan kalian berdua tidak berhak memaksaku dalam memilih pasangan hidup!" Kian tak ingin berdebat dengan para orang tua, ia pergi begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kian!" suara Raditya melengking, namun yang punya nama sudah pergi.
"Maafkan atas sikap putraku, Raka, aku akan berusaha membujuk dia."
Setelah kepergian Raka, Raditya menuju kamar Kian dan meminta Kian keluar kamar.
"Perusahaan papa sedang mengalami krisis, om Raka bersedia membantu papa jika kamu mau bersatu dengan Kikan,"
"Kian sudah punya pacar." ujar Kian bohong.
"Putuskan saja pacar kamu itu, papa yakin pacar kamu tidak akan menguntungkan hidupmu. Beda jika kamu tunangan dengan Kikan, hidup kita akan enak. Om Raka itu kaya."
"Cukup Pa! Papa hanya menilai sesuatu itu dengan materi, aku tetap pada keputusanku. Aku tidak ingin menikah dengan Kikan."
...****************...
Sudah hampir seminggu an lebih ini Kian jadi pendiam baik di rumah maupun di kampus. Terkadang ia lebih memilih mengurung diri di kamar ketimbang nongkrong di cafe. Hubungan dengan Mega pun semakin renggang, bahkan saling bertegur sapa pun sudah tak pernah lagi. Mega sangat sulit didekati. Ia selalu menghilang sebelum kuliah usai. Heran nya Mega selalu unggul dari siapapun saat ada tes dadakan dari dosen.
"An, kalau lo ada waktu yuk party, sore nanti sepupu gue dateng." Beni memberi tahu.
"Sepupu Lo cewek atau cowok?" tanya Aris penasaran, pasalnya Beni tak pernah cerita punya sepupu cewek.
"Cewek lah,"
"Gue nggak bisa janji." Kian pun memisahkan diri menuju parkiran.
Ponsel Mega sangat sulit dihubungi, Kian jenuh di rumah terus apa lagi papanya bersekongkol dengan mamanya ingin mempercepat acara tunangan diri nya dengan Kikan.
__ADS_1
Kian mengambil kunci mobilnya lalu melesat pergi menuju rumah Beni.
Semua temannya senang dan menyambut Kian. Beni memperkenalkan Sesil pada Kian.
Sepertinya Sesil langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Sesil mengajak ngobrol dan ditengah obrolan ada satu yang menarik bagi Kian.
Sesil merasa Kian tertarik juga padanya.
"Lo juga seorang MUA?" Kian sangat antusias apalagi hal ini berkaitan dengan aktivitas Mega sekarang.
Sesil mengangguk senang akhirnya Kian menanggapi obrolannya dengan serius.
"Tiga hari lagi aku akan mengikuti lomba make up artis di kota X, dan aku sudah mendapatkan formulir untuk mendaftar." terang Sesil, ia beranjak dari duduk nya tak lama kemudian kembali dengan membawa selembar kertas di tangan.
Kian mengamati dan membaca sekilas formulir yang diperlihatkan Sisil.
"Dari mana Lo bisa mendapatkan formulir ini?" Kian memindai bola matanya ke bagian pojok kertas, tertera nomor WA disana.
"Itu mudah bagiku,"
Kian mengeluarkan ponsel dan segera mencatat contak person tersebut.
Kian buru - buru pergi, padahal acara party belum sepenuhnya selesai.
Kian menghubungi seseorang di seberang sana dan meminta formulir lomba.
Keesokan paginya, dengan gairah semangat yang membara Kian berangkat ke kampus. Ia menemui Mega usai buyaran kampus.
"Mega, ada yang ingin gue omongin sama Lo!"
"Sorry, aku terlambat dan harus buru - buru!"
Tak ingin menyiakan kesempatan ini Kian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan langsung memberikan pada Mega.
Mata Mega membulat sempurna, cahaya kebahagian datang menerpanya. "Lomba make up artis?"
Kian mengambil paksa kertas itu dari tangan Mega. Mega berusaha merebut kembali.
"Gue bisa memberikan formulir lomba ini ke Lo, tapi ada syaratnya,"
"Syarat? Syarat apa yang kamu maksudkan?"
"Lo harus jadi pacar gue!"
"Uwek!" Mega muntah udara. "Aku nggak sudi, apalagi jadi pacar kamu yang sok kegantengan itu!"
"Lebih tepatnya pacar pura-pura gue. Oke terserah. Lomba itu kurang 2 hari lagi dan jika Lo nggak berminat mengikuti lomba ini, gue sobek aja," Tangan Kian sudah siap merobek kertas itu.
"Tunggu. Aku mau."
Mendengar itu Kian tersenyum menang.
Kian mengeluarkan perjanjian hitam diatas putih. Rupanya dia sudah menyiapkan segala kemungkian.
__ADS_1
"Selama jadi pacar pura-pura gue, Lo nggak boleh jatuh cinta sama gue!" Padahal Kian berharap lebih, tapi ia sudah terlanjur memegang janji untuk tidak menyukai Mega.
"Oke. Setuju!"