
Setelah mendapatkan sedikit pertolongan dari Mega, Kian tak merasakan perih lagi di bagian lengan kirinya yang kini telah di perban.
Acara makan pagi pun berlangsung romantis lantaran Mega menyuapi Kian sampai semua nasi di piring ludes. Sebenernya tak terlalu sakit, tapi mumpung lagi si pacar mau suapin ya nggak nolak aja. So sweet kan ....
"Mau nambah lagi?" Mega menawarkan. Yang ia tahu selama pacaran kontrak, Kian makannya banyak tapi tak jarang tumbuh daging. Terlihat jelas dari tubuhnya yang langsing.
"Tidak, Sayang," satu kata yang sudah mulai Kian lontarkan. Dan ia memastikan akan menjadi kebiasaan kedepannya dengan panggilan sayang. Mendengar kata sayang dari mulut pria yang disukai tentu saja membuat jantung Mega terasa mau copot sangking senangnya. Meski di zaman Mega yang lain kerap mendapatkan panggilan seperti itu dari sang mantan, kesan yang diberikan Kian lebih mendalam dan bermakna.
Kian menahan lembut tangan Mega yang hendak menyiduk nasi untuknya. "Sekarang giliran kamu yang makan!"
Meski tangan kanannya terluka, ia tak ingin terlihat lemah di depan wanita nya.
"Tangan kamu?" Mega mendelik tak percaya dengan yang Kian lakukan. Kian mengambilkan nasi dan beberapa lauk di atas piring Mega tanpa menghiraukan tatapan nanar seorang pacar yang merasa khawatir perihal lengannya yang terluka.
"Nah, sekarang makanlah!" titah Kian dengan senyumnya yang manis. Kian menyodorkan sendok yang penuh dengan nasi ke arah Mega.
Mega masih sama mendelik seperti tadi.
"Jika kamu pelototi terus makanan ini kapan sampainya ke perut. Ayo, makan!"
Mega masih khawatir dengan luka Kian jadi ia merebut sendok yang ada di tangan Kian.
__ADS_1
"Aku bisa makan sendiri Kian, tanganmu masih terluka dan jangan banyak bergerak, oke!"
Mega langsung memasukkan sendok ke dalam mulutnya tanpa mendapatkan komando lagi.
"Baiklah, Sayang, makan yang banyak ya, agar kita bisa cepat bikin anak!" ujar Kian tanpa memperhatikan layangan tatapan nanar seperti kilatan petir menyambar dari sang pacar.
Susah payah Mega menelan makanan yang setengah kasar itu lalu membuka mulutnya, "Jangan asal bicara kamu, nikah aja belum mau membahas anak! Itu tak semudah yang kamu ucapkan."
Kian tak berani berargumen lagi, ia lebih memilih diam dan menyaksikan sang pacar menghabiskan sarapannya.
...
Pagi ini Ayu dikejutkan dengan panggilan asing yang beruntun menghubunginya lantaran tak kunjung mengangkatnya. Ayu pikir itu hanya orang iseng di pagi hari seperti hari - hari yang lalu. Biasanya Ayu akan mengabaikan panggilan itu tapi entah mengapa ada perintah untuk menggerakkan ia mengangkat panggilan itu.
Serentetan keterangan yang Ayu dengarkan dengan baik dari si penelpon membuat tubuhnya mendadak lemas. Yang memanggil nya barusan adalah pihak rumah sakit yang menyampaikan jika saudara tirinya, Sendy masuk rumah sakit lantaran percobaan bunuh diri.
Ayu segera mengambil tas dan tanpa pamit pada Raditya ia berlalu pergi menuju rumah sakit yang menangani Sendy.
Telat sedikit saja jika Sendy tak tertolong sudah pasti hanya tinggal nama saja. Beruntung polisi jaga bergerak cepat menangani tahanan seperti Sendy itu.
Selama perjalanan pikiran Ayu mulai ruwet. Ia belum menemukan titik terang rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi antara Sendy dengan suaminya.
__ADS_1
Ayu berharap bisa mengorek informasi yang lebih akurat dari mulut Sendy sendiri sebelum semuanya terlambat.
Seperempat jam Ayu sudah tiba di rumah sakit dan lansung melihat sendiri keadaaan saudara tirinya itu.
Sendy terlihat rapuh dan lesu. Pipinya yang tirus menunjukkan penampilannya yang semakin tak terurus.
"Sandy," begitu Ayu menyebut kan identitas pasien yang berbalut perban di pergelangan tangannya. Pasien itu mendongak. Setelah cahaya ruangan terkumpul memenuhi semua sisi matanya. Barulah terlihat jelas sosok yang selama ini ingin Sendy temui.
Pasien itu membuka mulutnya. Ia bersusah payah mengumpulkan tenaga agar bisa bicara dan meminta maaf.
"Mbak A-yu," ucapnya terbata.
Ayu masih mampu mendengarnya meski sebuah gerakan bibir yang halus.
Ayu mendekat. Rasa iba bercampur menjadi satu dengan rasa penasarannya atas tindakan yang Sendy ambil.
"Sandy, mengapa kamu ingin bunuh diri. Aku sudah memaafkan mu dan hanya tinggal beberapa tahap saja, kamu akan bebas." Mata Ayu berkaca - kaca, sungguh hatinya tak tega melihat wanita ini lemas tak berdaya.
Sendy berusaha untuk bicara. Dan setelah semua tenaga dan usahanya menguat, ia pun membuka suaranya meski pun masih terdengar lirih.
"Maafkan aku, aku yang seharusnya tidak ada diantara kalian. Hingga dia tumbuh dan lahir dari rahimku. Sungguh, itu adalah perbuatan dosa yang tiada ampun atasku. Mati mungkin lebih baik untukku dari pada aku menanggung malu padamu."
__ADS_1
"Dia? Dia siapa yang kamu maksudkan?"