
Mega terbangun setelah mendengar alarm dari ponselnya.
Sambil menguap lebar, ia melihat jam menunjuk pukul 05.00 pagi. Mega buru - buru bangun lalu bergegas menuju kamar mandi.
Selesai membenahi diri, Mega keluar kamar.
"Mega, ini barang - barang gue semuanya buat Lo!" Begitu Mega membuka pintu terlihat Sasa membawa semua paper bag miliknya, itu adalah belanjaan dia tempo hari yang ia beli dengan uang Mega.
Loli pun juga sama, ia menunjukkan semua paper bag miliknya.
"Apaan ini?" Mega menerima beberapa paper bag.
"Semua ini adalah barang yang gue beli dengan uang Lo. Gue nggak bisa mengembalikan uang Lo, jadi sebagai gantinya ambil semuanya dari gue." Sasa menyerahkan paper bag.
"Emangnya aku pasar loak, nggak!" tegas Mega membuat Sasa dan Loli tersentak kaget.
"Terus kita harus gimana, Ga, uang Lo udah kita habiskan buat belanja ini semuanya."melas Loli.
Mega sangat menyukai raut wajah mereka yang memelas campur ketakutan.
"Aku nggak perduli bagaimanapun caranya, kalian berdua harus mengembalikan uangku dalam batas waktu yang sudah aku tentukan. Atau jika kalian tidak sanggup mengembalikannya kalian bisa menggantinya dengan hal lain." sengaja Mega menggantung kalimatnya yang berhasil membuat Sasa dan Loli kompak bertanya.
"Apa itu?"
Mega tersenyum lebar, "Mendekam lah di penjara. Dengan begitu aku anggap hutang kalian lunas." setelah mengucapkan itu Mega bergegas pergi.
Sasa dan Loli terlonjak kaget lagi, "Kami nggak mau masuk penjara!" Sasa mengejar langkah Mega.
Mega menghentikan pergerakannya, melihat Sasa mengiba.
"Ku mohon Mega, jangan masukkan kita ke dalam penjara!"
Loli menyusul kakaknya, mengikuti gerakan kakaknya. Berlutut sambil memohon.
Mega tak gentar sedikitpun melihat sikap dua saudara tirinya itu. Mereka pantas mendapatkan pelajaran atas semua perbuatan mereka selama ini. Sering menindas dan selalu meremehkan orang lain.
Mega menarik kakinya lalu berkata dengan tegas. "Kalian takkan bisa lolos dari ancamanku, maka selama ada waktu berusahalah mengembalikan apa yang bukan milik kalian." lalu Mega melanggar pergi mengendarai mobil merahnya.
Sasa dan Loli saling beradu tangis sambil berpelukan.
Sonya datang lalu menghibur mereka, "Kalian mengapa menangis seperti ini, ayo berdiri mama sudah siapkan sarapan untuk kalian,"
Sasa yang masih terisak membuka mulutnya, "Ma, aku nggak mau masuk penjara!"
"Aku juga nggak mau, Ma!" imbuh Loli.
Sonya mengusap punggung kedua putri nya. "Mama akan membantu kalian."
"Sungguh, Ma!"
Sonya mengangguk lalu menggiring kedua putrinya menuju meja makan.
__ADS_1
.
Mega kini sedang duduk sendirian di sebuah cafe TAMANAN, jemarinya masih sibuk mengetik pesan sambil menunggu seseorang untuk ia temui.
Detik berikutnya, ponsel Mega mendapatkan satu notif yang ternyata balasan pesan dari mister Jo.
Mega mengirim pesan untuk izin satu hari tidak masuk kerja pada mister Jo. Dan mister Jo memakluminya.
Mega pagi tadi menyerahkan beberapa bukti pada pihak polisi, sebelumnya Mega meminta pada polisi untuk menyelidiki kebenaran kasus ini.
Pesanan minuman Mega datang. "Ini minuman Anda," ujar pramusaji.
"Terimakasih. Nanti aku pesan makanan setelah temanku datang." ujar Mega.
"Baik." Kemudian pramusaji itu berbalik pergi.
"Mega !" seru seseorang yang membuat Mega mendongak ke arah sumber suara.
Seorang pria berkumis tipis dengan penampilan kaos lengan panjang perpaduan celana jeans, berdiri rapi menatap ke arah Mega.
"Kak Egan," Mega mengulas senyum lalu mempersilahkan Egan duduk.
Semalam Mega mengirim balasan pesan pada Egan tentang di mana dan kapan ia harus bertemu. Mega memilih di cafe ini untuk bertemu, selain dekat dengan rumah sakit di mana Ayu di rawat. Rencananya setelah menemui Egan, Mega akan langsung menjenguk Ayu.
Egan menarik kursi lalu duduk. "Kamu sudah lama menungguku?"
"Tidak. Aku hanya pesan minuman saja untuk diriku."
.
Egan sangat senang bisa mengobrol banyak dengan Mega, sayangnya perjumpaan Egan dengan Mega harus berakhir.
Mega yang mengawali perpisahan itu. "Maaf, Kak Egan, aku sedang ada janji dengan temanku,"
"Baiklah. Nanti kita sambung lagi obrolan kita." Egan rasanya masih berat untuk berpisah.
Mega pergi lebih dulu meninggalkan Egan.
Di rumah sakit Medical Wiyata, terlihat Ayu sudah bisa makan dan minum sendiri. Mega mengetuk pintu kamar di mana Ayu di rawat sebelum masuk.
Terlihat hanya ada Kian di sana yang menunggu Ayu.
"Mega, syukurlah kamu sudah datang!" seru Kian bahagia. Satu hari tak jumpa rasa setahun saja.
Mega memeluk Ayu dan menanyakan kabar Ayu.
"Tante baik." sahut Ayu yang merasa bahagia dijenguk oleh calon menantu.
Untung saja Raditya sedang tak ada di ruangan itu, jika terlihat Mega sudah pastilah Raditya bakal mengusirnya.
"Kamu lama sekali tak berkunjung ke rumah tante?"
__ADS_1
"Iya Tante, saya sekarang bekerja di sebuah salon kecantikan jadi tidak banyak waktu senggang."
"Oh, begitu,"
Tak lama kemudian seorang perawat datang membawa obat.
Mega membantu meminumkan obat itu. Setelah meminum obat, Ayu terlihat mengantuk.
Kian mengajak Mega keluar ruangan.
"Mama butuh istirahat, kita keluar yuk!"
Mega mengangguk patuh dan mengekor Kian.
Ada sebuah bangku kecil di taman rumah sakit.
"Sepertinya tempat itu sangat cocok buat kita ngobrol, kita kesana yuk!" Kian reflek menarik tangan Mega. Anehnya Mega tak menolak atas sikap Kian barusan.
Mereka duduk berdampingan.
"Makasih ya, kamu udah menyempatkan waktu buat aku untuk datang ke sini, padahal kamu sangat sibuk." Kian memulai obrolan.
"Nggak masalah kok. Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Mega mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah ia gandakan tadi.
Kian menjejer semua foto itu. Bola matanya membulat sempurna.
"Aku nggak menyangka jika tante Sendy begitu benci pada mama hingga ingin melenyapkan mama."
"Aku juga sudah melaporkan kasus ini pada polisi, tapi ..." Kian menjeda kalimatnya.
Melihat raut muka Kian yang berubah membuat Mega mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Kian bahwa dirinya juga baru dari kantor polisi.
"Tapi kenapa, Kian?" Mega penasaran dengan kalimat yang akan Kian lontarkan. Seharusnya jika kasus ini sudah dilaporkan pijak berwajib pastilah akan menjadi kemenangan, tapi mengapa Kian malah terlihat sedih.
"Papa menyangkal saat aku menyampaikan kalau tante Sendy adalah dalang dari setiap kali mama keracunan."
Raditya tak mempercayai Kian? Hm, ada sesuatu yang harus di gali di sini.
"Jika sudah ada bukti pasti papa kamu akan percaya." Mega menghibur Kian.
Detik berikutnya, ponsel Kian berdering ternyata itu dari rumah.
"Ya Bik, ada apa?"
"Gawat Den Kian, banyak polisi datang dan memaksa masuk ke rumah. Saya takut, Den!"
"Baik Bik. Aku akan segera pulang." Kian mematikan panggilan.
Kecemasan Kian membuat Mega bertanya. "Apa yang terjadi?"
"Polisi datang, pasti mereka akan menginterogasi tante Sendy. Aku tidak boleh melewatkan ini." Kian bergegas pergi.
__ADS_1
"Aku ikut !"