
"Loh, Nyonya kenapa Anda tidur di sofa?" tanya bik Asih yang hendak pulang, ia melihat nyonya Raditya meringkuk tidur dengan pulas.
Nyonya Raditya mengerjapkan mata dan bangun.
"Bik Asih, mana Mega Bik?" nyonya Raditya celingukan mencari sosok pembantu baru.
"Sejak tadi saya tidak melihat Mega Nyonya, bukankah dia sudah pulang pagi tadi," ingat bik Asih dan segera pamit.
Tak lama kemudian Kian terlihat menuruni tangga menghampiri mamanya yang hendak bangkit.
"Mega mana Ma, aku mau antar dia pulang?"
"Mana mama tahu, mama baru saja bangun. Pijatan Mega sungguh luar biasa hingga mama tertidur, badan mama pun terasa lebih ringan." Nyonya Raditya ketagihan dengan sentuhan dan layanan Mega.
Kian melihat jam di dinding sudah menunjuk pukul 4 sore. "Dia pasti sudah pulang." gumamnya lalu meninggalkan mamanya. Kian melangkahkan kaki pergi menuju garasi, ia mengambil helm dan kunci motor. Sudah lama semenjak kakinya cidera akibat tabrakan dua tahun lalu ia tak mengendarai motornya. Rasa jera tentu masih membekas tapi ia berusaha menghilangkan rasa jera itu mulai sekarang.
Setelah memanasi mesin motor, Kian melajukan kendaraan roda dua itu membelah keramaian jalan.
Beni, Aris dan Liam sudah berada di cafe tempat biasa mereka nongkrong. Mereka bertiga selalu terlihat bersama sejak berada di bangku SMP.
Sekian menit kemudian Kian datang dan membaur bersama yang lain.
"Tuh Kian sudah datang!" seru Beni sambil menunjuk dengan dagunya.
"Sorry Bro, terlambat, gue tertidur pulas siang tadi!" terang Kian sambil menarik kursi lalu duduk di sebelah Liam. Liam terlihat tak suka dengan kedatangan Kian. Terluka hatinya sudah pasti. Kian sudah beberapa kali mencuri Mega dari nya saat dirinya tengah bersama.
"Eh, lo semua masih ingat nggak ujian mata mata kuliah pak Teguh kemarin?" Aris membuka topik pembicaraan.
"Males gue bahas pak Teguh, udah kiler, susah banget juga memahami materinya." timpal Beni dengan wajah murung.
"Itu karena lo emang udah bego dari sananya," julid Kian.
"Dasar lo anak mama, ngatain gue bego!" umpat Beni tak terima dengan komentar pedas dari Kian. Sendok di depan melayang ke arah Kian. Kian menangkis dengan cekatan.
"Liam, lo diam aja nggak komentar?" protes Aris yang menangkap keganjilan teman satunya ini. Meski Liam pendiam tapi saat membahas pelajaran ia selalu merespon. Semua mata menyorot ke arah Liam.
"Ah, enggak, jika kita belajar serius pasti nggak sesulit yang kita bayangkan." timpal Liam yang merasa diperhatikan oleh gengnya.
"Mega, selain sekarang tambah cantik ternyata otak nya juga encer ya," Aris mengutarakan kekagumannya. "Kalau bisa didekati, aku mau jadi pacarnya." imbuhnya yang membuat dua pasang mata melotot seketika ke arahnya.
Kian dan Liam mengeprak meja dan berkata bersamaan. "Nggak boleh!"
"Kenapa dengan kalian berdua, kompak banget, bercanda lagi, gue kan lagi pdkt sama Loli," Ujar Aris menerima pengertian agar tidak salah paham.
Kian dan Liam saling menyorot, akan ada peperangan batin untuk memperebutkan satu wanita.
"Mega incaran gue ya, dan lo Kian, lo kan udah ada Kikan buat apa dekatin Mega juga. Satu wanita kurang, hah!" Liam mulai berani bertindak tegas, selama ini dia diam saja jika Kian selalu mengatai Mega jelek.
"Lo suka sama Mega, gue kira lo anti, sorry Bro, mendingan kita bersaing deh secara sehat buat dapetin Mega." Kian menantang Liam. Meski Liam lebih pintar ketimbang dirinya, Kian yakin Mega bakal jatuh kepelukannya secara dia terlalu tampan untuk ditolak.
__ADS_1
"Oke, siapa takut!" keduanya pun bersalaman.
Keesokan harinya.
Sonya mengomel sendiri setelah dikerjai oleh anak tirinya ketika memasak untuk membuatkan sarapan.
Kebetulan Mega melintas dan Sonya melihat dia. "Berhenti kamu anak sialan!"
Mega menoleh. "Apa yang barusan Mama katakan, Mama sudah bosan tinggal di rumahku?" Mega mengingatkan kalau rumah yang Sonya tempati ini adalah masih hak Mega.
Sonya mendelik seharusnya ia memarahi Mega, tapi mendengar ancaman itu lagi Sonya berkilah. "Maksud mama, eum, kenapa kamu mengerjai mama kemarin? Padahal mama tulus meminta bantuanmu untuk mengajari mama bermake up."
"Loh, siapa yang nggak serius Ma, aku sudah memberikan trik dan memang sesuai dengan yang aku lakukan. Mama ingat, Mama dulu memerintahkan aku untuk selalu bersih - bersih rumah setiap hari, dan Mama bisa lihat sendiri kan hasilnya, jari emasku terbentuk dan bisa lincah bergerak di atas wajah setiap orang." terang Mega panjang lebar.
Mau menyangkal pasti Mega akan mengancam akan mengusirnya dari rumah ini.
"Apakah pekerjaan Mama sudah beres, jika masih ingin berlanjut langkah berikutnya adalah ...."
"Kamu pasti mengerjai aku lagi kan?"
"Kalau Mama enggak mau ya sudah." Mega meninggalkan Sonya yang merasa geram dengannya.
Mega sudah bersiap untuk bekerja menjadi pembantu, pekerjaan ini meski melelahkan tapi Mega menjalaninya dengan senang hati, terlebih majikannya selalu bersikap baik padanya.
Saat Mega menjemur pakaian di kediaman Raditya, Kian menyapanya. "Mega!"
Mega menoleh, "Apa, aku sedang sibuk!" sahutnya cuek.
"Kamu budeg ya, aku sedang sibuk!" Sentak Mega, Kian malah menahan tawa melihat Mega ketika marah yang malah sangat menggemaskan baginya. Kian beranjak menemui ibunya dan meminta agar pekerjaan Mega dikurangi hari ini dan mempengaruhi mamanya agar menyuruh Mega mengajarinya.
Ketika Mega menyetrika pakaian, nyonya Raditya menyuruhnya untuk menunda pekerjaan tersebut dan meminta Mega ke ruang utama. Mega yang patuh pun berjalan ke sana. Betapa terkejutnya dia melihat Kian yang sok tampan itu sedang terlihat membaca buku.
"Kamu salah minum obat?"
"Obat apaan, gue kan nggak sakit!" kilah Kian sambil menutup buku.
"Terus, buat apa semua buku ini?" Mega menunjuk beberapa tumpukan buku di atas meja.
Nyonya Raditya datang, "Mega, Kian bilang kamu anak yang pintar, tolong ajari Kian biar pintar seperti kamu ya," pinta nya sambil menyentuh bahu Mega dengan lembut.
"Iya, Nyonya!" sahut singkat Mega yang langsung membaur dengan Kian di atas sofa.
"Jadi, pekerjaan ku terhenti karena kamu yang meminta mamamu buat aku ajarin kamu belajar ?"
"Yap, betul sekali!"
Mega mendesah kesal, dengan terpaksa Mega mengikuti kemauan Kian.
Disela Mega menerangkan materi kuliah pak Teguh yang amat sulit itu, Kian mencuri pandang. Pria berhidung mancung itu mengagumi kepintaran yang dimiliki gadis yang dulunya jelek.
__ADS_1
"Woi, denger nggak dengan yang aku terangkan tadi!" Sentak Mega merasa diperhatikan.
Kian mengerjap tertangkap basah. "I-iya, gue paham kok!"
Hampir dua jam kebersamaan Kian dan Mega di ruang utama membuat keduanya terlihat akrab, meski terkadang ulah Kian membuat Mega jengah.
"Udah hampir sore, gue antar lo pulang!" Kian beranjak yang diikuti Mega.
"Aku punya dua kaki, nggak perlu kamu antar aku bakal sampai di rumah dengan selamat."
"Gaya lo sombong amat, gue nggak peduli pokoknya gue anterin lo atau lo mau gue laporkan ke mama?"
"Ih, dasar anak mama!" umpat Mega yang akhirnya terpaksa lagi mengikuti kemauan Kian.
Ketika sampai di depan rumah Mega dan keduanya masih berada di dalam mobil.
"Gue boleh ikut masuk nggak?"
"Eis, apaan sih, awas ya kalau kamu berani masuk!" ancam Mega sambil menunjukkan bogem.
"Galak banget, kan gue mau silaturahmi."
"Nggak boleh!"
"Kalau culik kamu boleh?"goda Kian yang membuat Mega sontak menendang kakinya dan buru-buru membuka pintu mobil.
Kian mengaduh kesakitan.
"Buruan pulang!" teriak Mega. Mega tak ingin menambah masalah apa lagi menghadapi Sasa yang terobsesi dengan Kian jika ketahuan pulang diantar Kian.
Kian pun patuh dan segera menghilang dari pandangan Mega.
Mega memasuki rumah dengan perasaan yang was-was. Padahal ini rumah sendiri tapi ia merasa ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengintai dirinya.
Sesampai di kamar Mega segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Mega merebahkan diri di atas kasur sambil memandang langit - langit kamarnya.
Terbesit dalam benaknya untuk membeli CCTV, Mega membuka aplikasi toko online untuk memesan beberapa CCTV.
Beberapa hari berikutnya, paket pesanan Mega datang. Kebetulan si penerima adalah Mega sendiri.
Sonya dan kedua anaknya tak sedang berada di rumah. Ketiga wanita itu sedang belanja ke mall menghabiskan sebagian harta peninggalan ayah nya.
Mega yang pada dasarnya selain seorang MUA dia juga pandai dalam beberapa bidang termasuk TIK. Mega memasang sendiri CCTV dan menghubungkan beberapa kabel ke kamarnya.
...****************...
Hari ini pak Teguh akan mengadakan ujian. Sasa dan Loli bersepakat mengerjai Mega agar tak bisa masuk kuliah. Kedua gadis itu menyelinap masuk ke dalam kamar Mega. Mereka berdua menaburkan bubuk gatal ke make up Mega.
Mega yang baru saja selesai mandi langsung berganti baju, tak lupa juga ia menyalakan monitor untuk melihat rekaman CCTV semalam. Mega tersenyum tipis saat melihat rekaman yang terjadi barusan. Mega mengendap diam - diam lalu mengganti make up itu dengan milik Sasa dan Loli. Sebelum berangkat kuliah, mereka berdua merasakan gatal di seluruh wajah dan tak jadi mengikuti ujian pak Teguh.
__ADS_1
"Ma, wajah ku gatal-gatal!" pekik Sasa yang diikuti Loli. Mereka berdua sibuk menggaruk wajah masing - masing.
"Nah, senjata makan tuan kan, makanya jangan meremehkan aku sekarang!" batin Mega sambil melenggang begitu saja melewati mereka.