Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Episode 39


__ADS_3

Bik Asih sangat senang pagi ini, pekerjaan di dapur sedikit tertolong dengan hadirnya Mega. Mega membantu mengupas kulit bawang dan mengiris wortel. Aroma masakan Bik Asih tercium di berbagai sudut ruangan.


Ayu yang sedang membersihkan pigura seolah terhipnotis dengan aroma itu.


"Hem, aromanya enak, Bik Asih masak apa ya," Ayu menyudahi pekerjaannya dan berjalan menuju dapur.


Mega memindahkan tumisan dari wajan ke atas piring besar lalu membawanya ke meja makan.


Ayu mengenali sosok itu meski hanya melihat punggungnya. "Mega!" seru Ayu.


Mega menoleh kaget, "Tante Ayu!"


Ayu memeluk Mega dan begitu pula sebaliknya.


Egan menuruni tangga dan menangkap basah keakraban dua wanita itu. Rasa iri pun mulai menyergap. "Andai aku duluan yang mengenal Mega, pasti Mega yang menjadi milikku."


Egan berani menuruni tangga, ia merubah tatanan rambutnya menjadi klimis, memakai kacamata dan masker.


Menyapa Ayu. "Pagi Ma!"


"Pagi Sayang, loh kamu kok!" panik Ayu saat melihat penampilan Egan.


"Iya, aku lagi sedikit flu." Egan pura - pura bersin.


Mega menaikkan sebelah alisnya, sedikit ilfeel juga melihat pria asing itu.


"Siapa dia, Ma?" tunjuk Egan pada Mega.


"Oh, ini Mega, pacarnya Kian. Mega, kenalkan ini anak tante yang pertama namanya, Egan." Ayu memperkenalkan Egan pada Mega.


Mega sedikit kaget saat mendengar nama Egan di sebut. "Egan yang aku kenal, nggak seperti ini. Pasti hanya kebetulan namanya saja yang mirip. " batin Mega.


Egan mengulurkan tangan begitu pula dengan Mega. Keduanya saling berjabat tangan.


Ayu menoleh ke arah Mega. "Kamu pasti pagi - pagi ke sini mau jenguk Kian kan,"


"Iya, Tante. Aku membawakan puding coklat kesukaannya." sahut Mega seraya menunjukkan kotak mika yang ia simpan di atas meja makan.


"Hubungan mereka sangat romantis." batin Egan yang masih menyimak. Sangat berdosa sekali jika dia sampai merusak hubungan Kian dengan Mega. Egan mengingkari janjinya untuk mengusir Mega. Ia harus mempertemukan mereka dan membiarkan mereka meluruskan masalah. "Aku bisa mengantarmu ke kamar Kian. Sepertinya demamnya naik lagi. Ia menggigil tadi."


Ayu sampai kaget mendengar ucapan Egan, "Benarkah, aku akan memanggil dokter untuk memeriksanya!" Ayu bergegas pergi mencari ponselnya di kamar.


"Kasihan sekali, aku ingin menjenguknya!" ujar Mega antusias.


Egan berjalan lebih dulu menaiki tangga disusul Mega.


"Kian. Maaf in aku yang nggak bisa menepati janji." batin Egan.

__ADS_1


Sesampainya di depan kamar Kian, Egan mengetuk pintu. "Kian, ini aku."


"Masuk Kak, pintunya nggak dikunci!" seru Kian dari balik pintu.


Egan menarik handel pintu dan mempersilahkan Mega masuk. Egan menutup pintu lalu menguncinya dari luar, setelah itu ia menuruni tangga, rasa sesak di hati sangat sulit ia sembunyikan. Tapi, ia harus rela untuk mengalah demi sang adik.


"Gimana Kak, Mega udah berhasil kamu usir?" tanya Kian yang memunggungi Mega yang ia kira Egan.


Mega merasa geram mendengarnya. Meletakkan kotak mika diatas meja. Mega berkacak pinggang. "Oh, jadi kamu sembunyi di dalam kamar untuk menghindari kedatanganku. Dan meminta kakakmu untuk mengusirku, hah!"


Kian langsung membalikkan badan memastikan suara itu adalah Mega. "Mega?"


"Kenapa, takut melihatku seperti melihat hantu saja," Mega bersendekap dada.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?"


"Seharusnya bukan seperti itu pertanyaannya. Kakak kamu bilang, kamu demam tinggi dan menggigil. Nyatanya kamu baik - baik saja seperti tidak sakit,"


"Aku memang sudah sembuh. Kamu sudah melihat keadaanku. Sekarang kamu boleh pergi." sungut Kian.


"Kamu mengusirku?" Mega kecewa dengan sikap Kian yang tak menyambut kedatangannya.


"Kalau iya, kamu mau apa?"


Mega tak menjawab dan memilih diam.


Mega ikut panik dan menghampiri Kian, "Benarkah?" Mega memastikan sendiri jika pintu itu terkunci. "Iya, terkunci." Mega mundur ke belakang.


Kian memperhatikan Mega dan baru sadar saat Mega mengambil ancang - ancang hendak menendang pintu.


"Apa yang ingin kamu lakukan!" pekik Kian seraya menarik tubuh Mega yang hampir saja menjebol pintu itu.


"Katanya kamu mau keluar, aku sedang berusaha membuka pintu untukmu."


"Tapi bukan dengan cara merusak pintu kamarku." Kian melepas tangannya saat yakin Mega tak mengulangi aksinya.


Mega membenahi penampilannya.


Keduanya membisu dan saling menjaga ego masing - masing.


Terdengar suara perut Kian yang keroncongan membuat Mega menoleh.


"Kamu lapar?"


"Tidak."


Kemudian mereka kembali terdiam.

__ADS_1


Bunyi itu terdengar lagi dan bahkan semakin panjang. Kian menekan perutnya dengan menutupi rasa malunya.


Tangan Mega terulur menyerah kan kotak mika yang ia taruh tadi. "Nih, aku bawakan puding untukmu!"


Kian memperhatikan kotak itu, "Enggak mau!" tolaknya.


"Ini kan puding kesukaanmu, benar kamu nggak mau? Baiklah, mubazir jika dibuang. Aku habiskan sendiri saja." Mega membuka kotak itu, mengedarkan pandang mencari tempat duduk. Sebuah kursi kayu berada di sudut ruangan. Mega berjalan ke arah sana. Duduk dan menikmati puding buatannya.


"Hem, enak banget! Lumer dan bikin nagih." Lidah Mega mengitari mulut. Sengaja Mega menggoda Kian yang memperhatikan ke arahnya.


Kian tak sanggup lagi menahan rasa laparnya. Ia mengambil langkah lebar menghampiri Mega. Merebut kotak itu dari tangan Mega. "Kamu bilang, ini untukku."


Akhirnya godaan Mega berhasil juga, Kian menyantap puding itu dengan lahap.


Mega tersenyum simpul. Kian seperti anak kecil saja.


Setelah puding itu habis, rasa lapar pun hilang.


"Gimana, enak kan, mau lagi?" tawar Mega.


"Enggak enak." sahut Kian jutek.


"Kalau nggak enak kenapa bisa habis?"


Kian tak menyahut dan memilih memalingkan wajah.


"Kemarin, aku mengirimi mu pesan tapi kenapa tak dibalas?"


"Aku sakit."


"Terus, kenapa tuh wajah manyun begitu. Nggak suka kah jika aku datang?"


Kian geram mendengar pertanyaan Mega yang berbelit - belit, ia pun menetap Mega dan berkata dengan lantang. "Aku sedang marah padamu."


Mega menyelami ucapan Kian barusan. Marah? Salah apakah dia?


"Semenjak kita pacaran, kamu nggak pernah menerima perlakuan romantis yang aku berikan. Dan selalu menolak setiap kali aku ajak jalan. Dengan alasan, sibuk lah. Oke, aku hargai profesi kamu dan memberi kelonggaran untuk tidak mengganggu kamu lagi. Tapi, diluar kesemuanya itu, kamu malah asyik dan menikmati kebersamaan dengan pria lain."


Mega membulatkan mata tak terima dengan tuduhan yang Kian tujukan.


"Pria lain, siapa?"


"Sok bego kamu. Kemarin saat kamu menerima panggilan terakhir dariku. Aku melihat sendiri kamu makan siang dengan pria di restoran."


Mega baru nggeh, saat itu Mega dan Egan sedang makan siang. Mega menghormati kecemburuan Kian, karena ia tahu Kian sangat mencintainya.


Mega hendak berucap ingin menyangkal tuduhan itu tapi keduluan Kian.

__ADS_1


"Jika kebersamaan kita sudah tidak bisa dilanjutkan. Aku rela untuk mengakhiri hubungan yang tidak jelas ini."


__ADS_2