
Mega manggut - manggut sambil mengamati pergerakan Sendy, mencari waktu yang tepat untuk menukar gelas yang sudah ditaburi oleh Sendy. Tinggal mencari cara agar Sendy mau meninggalkan dapur.
Mega ingat kalau Sendy sangat takut dengan cicak. Mata Mega beredar ke sekeliling dinding, didapatinya seekor cicak sedang menunggu mangsanya. Keberadaan cicak mudah dijangkau dan hap ...! Ia berhasil menangkap cicak dan melemparkan ke arah Sendy yang sedang mengaduk gelas.
Suara Sendy melengking, ia berjingkat dan berlari keluar meminta pada bik Asih untuk menyingkirkan cicak itu.
"Kyak, cicak ...! Bik usir cicak ini!" pekik nya ketakutan sambil lari terbirit.
Kesempatan itu Mega lakukan untuk menukar minuman. Mega menyelinap masuk setelah bik Asih pergi membawa sapu. Mega segera menukar gelas tadi yang ditaburi Sendy dan memberinya tanda dengan menutup gelas dengan warna berbeda.
Mega segera mengendap dan pergi dari sana.
Bik Asih tak menemukan persembunyian cicak tadi.
Sendy menarik nafas panjang dan kembali ke dapur. Mengangkat nampan lalu membawanya keluar.
"Nih, minuman segar dingin sudah datang, silahkan diminum!" Sendy meletakkan nampan di atas meja tepatnya di depan Ayu.
Ayu nampak tergiur dengan minuman oranye itu. Sendy menyodorkan gelas pada Ayu, sementara Kian dan Mega mengambil sendiri.
Sendy memastikan Ayu meminum jus oranye itu sampai habis.
Mega mengulas senyum, rasanya ia ingin tertawa sendiri. "Kita lihat siapa yang akan mules!" gumamnya dalam hati.
"Bagaimana Kak Ayu, dengan jus buatanku?" tanya Sendy, ia memastikan obat itu bereaksi.
"Enak, lain kali buat kan aku yang seperti ini ya!" seru Ayu sambil mengangkat gelasnya yang sudah kosong.
"Pasti Kak!" seru Sendy memperlihatkan tangannya membulat membentuk huruf O. Sendy lalu mengambil gelas tepatnya gelas yang sudah di tukar oleh Mega tadi.
Mata Sendy tak luput mengamati perubahan Ayu yang seharusnya merasakan mules di perutnya.
"Aneh, apa aku kurang tadi menaburkan obat pencuci perutnya, seharusnya aku masukkan semua tadi," gumamnya sambil menyeruput minumannya.
Lidah Sendy merasakan asam, "Asem banget, atau hanya aku yang merasakan ini?" Sendy mengamati wajah orang - orang yang begitu ceria menikmati jus itu, lain dengan dirinya. Sendy menjulurkan lidahnya keluar, ia hanya menyeruput beberapa kali.
Beberapa detik kemudian, "Euh, perutku tiba - tiba mules!" Sendy menekan perutnya sambil mengaduh sakit.
"Kenapa Tante?" tanya Mega yang sejak tadi memperhatikan gelagat Sendy.
Mendengar itu Ayu menoleh ke arah Sendy lalu berdiri menghampirinya. "Ada apa dengan perutmu?" tanyanya khawatir.
"Rasanya, aku ingin ...." tak tahan lagi merasakan sesuatu dalam perutnya ingin menerobos keluar, Sendy pun bergegas lari masuk ke dalam toilet. Beberapa detik kemudian Sendy keluar dan membaur lagi bersama Ayu, rasanya ia lega membuang hajat tapi ia merasakan mules lagi yang sangat dan kembali lagi masuk ke toilet.
Mega tak kuasa menahan tawa, tahannya terangkat menutupi mulutnya.
Kian dan Ayu kompak melihat ke arah Mega.
__ADS_1
"Kamu kok malah ketawa sendiri, awas kalau kualat!" Kian menakuti.
Mega menghentikan tawanya. Tangannya merogoh saku tas dan mengeluarkan ponsel. Mega membuka galeri dan menunjukan pada orang - orang. "Tante Sendy membeli obat pencuci perut dengan dosis tinggi."
"Obat pencuci perut? Untuk siapa obat itu ia berikan? " Ayu heran, selama ini Sendy baik - baik saja tak pernah mengeluh sakit.
"Tante Ayu harus berhati - hati terhadap apa pun yang tante Sendy berikan. Falling ku mengatakan jika dia ingin mencelakai Tante Ayu."
Ayu sangat kaget mendengarnya, "Mencelakaiku? Apa salahku sehingga dia begitu membenciku?"
Mega mengusap lembut bahunya, "Aku tidak tahu Tante, hari mulai gelap aku harus segera pulang."
"Aku akan mengantarmu!" Kian mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja. Mega mengangguk patuh.
Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah Ayu, Mega memasuki mobil. Kian menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.
"Aku ingin mengatakan ini tapi aku tidak yakin," Mega memulai obrolan.
"Bicaralah yang jelas, semakin lama aku bersamamu, kamu selalu bertingkah yang diluar dugaanku. Aku tidak mau jika kamu yang memegang kemudi lagi." Ternyata Kian sangat trauma dengan cara mengemudi Mega yang ugal - ugalan.
Mega tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya sambil menunjukkan dua jari telunjuknya, damai.
"Tante Sendy menyukai papa kamu." ungkap Mega yang langsung mendapatkan sanggahan dari Kian.
"Jangan ngacau kamu. Itu tidak mungkin, mereka masih ada ikatan darah."
Kian hanya diam dan akan mencari bukti kebenaran itu sendiri.
Setahu Kian Sendy masih ada hubungan keluarga dengan papanya.
......................
Pagi ini tidak ada jam revisi makalah skripsi, jadi Mega langsung pergi ke salon. Bis yang ia tumpangi berhenti mendadak karena ban bagian depan meletus. Semua penumpang kaget termasuk Mega.
Seorang pria berteriak minta tolong sambil berlari mengejar orang lain menuruni bus. "Copet ... tolong ...!"
Mega melihat dari kaca jendela. Orang yang mengejar itu perawakannya tinggi, putih dan berjenggot tipis.
Rasa sosial Mega sangat tinggi, ia tidak tegaan dan tergerak hatinya untuk menolong orang lain, ia bangkit dari kursi, melompat turun dari bus.
Ikut berlari mengejar copet itu. Nafasnya memburu bersamaan langkah kakinya yang lebar.
"Nona, kamu mau apa?" tanya pria berjenggot tipis itu.
"Aku melihat ada seseorang yang membutuhkan pertolongan." sahut Mega.
"Apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita sepertimu?" ucap pria itu remeh.
__ADS_1
Mega tersenyum seolah mengabaikan ledekan itu.
Mega melompat lalu menghantam si copet dengan sikutnya tepatnya di bagian punggung.
Si copet terjerembab ke tanah dan menguasai diri untuk bangkit.
Sebelum si copet berhasil kabur lagi, Mega salto dan menghadangnya dari depan.
"Berikan tas itu padaku!" Mega mengayunkan jemarinya.
Si copet mendekap tas itu dan mencoba mencari celah untuk lolos. Mega tahu gerakan mata si pencopet yang hendak kabur.
Bug ... bug ... bug ...!
Terjadilah baku hantam.
Dan Mega berhasil membuat si pencopet itu bertekuk lutut. Mega mendapatkan tas itu.
"Ini punyamu," Mega menyerahkan pada pria yang baru sampai yang tadi ikut mengejar.
Pria berjenggot tipis itu tercengang tak percaya, cewek yang tadi ia remehkan malah berhasil mengalahkan pencopet seorang diri.
"Terimakasih, maaf sudah meremehkan mu tadi!"
"It's oke," Mega membulatkan jemarinya lalu pergi.
"Tunggu!" panggil pria itu.
Mega menghentikan langkah lalu berbalik. Pria itu berjalan mendekati Mega, setelah dekat dia mengulurkan tangannya.
"Namaku Egan, boleh kita berkenalan?"
Mega menatap tangan itu dan menyambutnya dengan seulas senyum.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Mega. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" Mega menunggu pria itu yang sempat berpikir.
"Eh, tidak, tidak ada!"
Kemudian Mega pergi.
Pria itu tak berkedip memandangi bayangan Mega yang sudah menghilang. Rupanya ia langsung jatuh hati padanya.
Deringan ponselnya membuyarkan lamunan Egan.
"Hallo Kak, kamu dimana?"
__ADS_1
"Kian, aku baru saja kecopetan, tapi untungnya ada seorang cewek yang menolongku tadi."