
"Kian."
"Kian?" Ayu membola kedua matanya setelah nama Kian terdengar dari mulut Sendy. Segera Ayu menepis sangkaan jika ayah biologisnya adalah suaminya sendiri. Denyut jantung Ayu memompa cepat hanya dengan membayangkan saja. Nyeri di ulu hati mulai menyergap dan rasa sakit yang bertambah itu membuat tubuhnya hampir tak bisa seimbang, jika saja Ayu tak berpegangan pada ranjang pasien sudah pasti ia ambruk sekarang. Salah jika dia tak bertanya sejak dulu siapa ayah Kian ketika Sendy melahirkan nya. Ayu sudah mengganggap Kian adalah darah dagingnya dan tak mempermasalahkan garis keturunannya karena sangking sayangnya. Tapi, seiring bergulirnya waktu kenapa sebuah rahasia besar yang terabaikan itu harus muncul kembali mengudara di telinga saat ini.
Ayu seakan tak sanggup untuk mendengar kelanjutan cerita Sendy.
Sendy masih mencoba untuk bicara dengan sisa nafasnya yang terlihat putus nyambung.
Rembesan air mata pun kini semakin deras dan tak mampu terbendung lagi setelah satu kalimat terlepas dari mulut Sendy. "Mas Raditya adalah ayah Kian,"
Tak pernah terbayangkan selama ini pria yang ia banggakan kesetiaan cintanya ternyata memiliki hubungan sampai mempunyai keturunan dengan adik tiri. Raditya tak terlihat memiliki gelagat aneh selama dia menyimpan rahasia besar ini. Terlupakan jika menyangkut kasih sayang yang Raditya berikan tak tangung - tanggung sama besarnya pada kedua anak - anaknya. Seharusnya Ayu tahu itu.
Mata Sendy pun basah tak kalah dengan milik Ayu, Sendy membuka mulutnya kembali diiringi nafasnya yang memburu. "Maafkan aku, Kak. Kian sudah tahu akan hal ini. Aku rela jika dia tak mengakui aku sebagai ibu kandungnya. Karena, hanya kamu lah wanita yang pantas mendapatkan gelar ibu untuknya."
Ayu membekap mulut nya dengan kedua tangan agar suara tangisannya yang kini pecah tak menimbulkan keributan, mengingat dirinya masih berada di rumah sakit.
.
__ADS_1
"Loh, mama kok nggak ada di kamar?" Kian membuka pintu kamar Ayu hendak meminjam hair driyer dan hanya mendapati bik Asih yang tengah menyapu.
"Ke mana Bik?" tanyanya setelah memastikan Ayu tak ia temukan di dalam kamar.
Bik Asih mengambil nafas panjang sebelum bercerita, "Tadi, Bibik dengar nyonya Ayu bicara dengan pihak rumah sakit. Waktu bibik tanya siapa yang sakit, katanya non Sendy mencoba mau bunuh diri."
"Hah!" Kian pun terlonjak kaget bukan main.
Tak hanya berhenti di situ. Bik Asih juga menirukan kepanikan Ayu saat menerima telepon tadi.
"Kalau tidak salah, rumah sakit Medical Wiyata."
Bik Asih berlalu pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaan lain.
Kian terdiam sejenak. Ia sedang beradu dengan pikirannya. Haruskah menyusul Ayu ke rumah sakit atau pura - pura mengabaikan itu.
Lama berpikir Kian tak bisa mengambil keputusan dan pada akhirnya ia menghubungi Mega untuk ia mintai pendapat.
__ADS_1
"Sejahat apa pun dia, dia tetap orang tua kandungmu. Dan sebelum terlambat, sebaiknya kamu menjenguknya. Aku rasa hanya sekedar menjenguk tidak akan membuatmu rugi."
Mendengar penuturan Mega di telepon membuat Kian menyakinkan dirinya untuk tidak mementingkan ego.
"Baiklah. Temani aku ke sana."
Tut ....
.
Dua puluh lima menit kemudian, Kian dan Mega tiba di sebuah ruangan pasien yang kabarnya ingin bunuh diri lantaran depresi tinggi.
Kian mendorong pintu lalu masuk diikuti Mega.
Ayu dan Sendy menoleh bersamaan.
"Kian!"
__ADS_1