
Mega dan Kian keluar dari tempat kompetisi satu jam yang lalu. Kian menyarankan agar segera menyimpan uangnya ke bank. Mega setuju dan pergi ke bank terdekat.
Sementara Sesil kalah dalam kompetisi itu, meskipun demikan dia sangat lapang dada dan menemui Mega. Sesil memanggil Mega yang hendak memasuki mobil. Mengulurkan tangan dan mengucapkan maaf.
"Aku berpikir akulah yang menjadi pemenang di acara kompetisi ini, nyatanya kemenangan itu tidak berpihak padaku. Selamat atas kemenangan kamu!"
Mega tersenyum, "Aku lihat kamu juga hebat tadi, hanya saja kamu kurang sedikit memberikan riasan di akhir tadi. Tapi tidak apa - apa, kemenangan itu tidak hanya bisa di cari di sini, mungkin kamu bisa mengikuti di event - event lain. Tetap semangat!"
Sesil tak merasa sakit hati mendengar ucapan Mega, justru dari situ ia mulai memutuskan untuk menjadi teman Mega.
Sesil pulang lebih dulu, sopir keluarga Beni datang menjemputnya.
Kian membukakan pintu, "Aku tahu kamu pasti sangat lelah. Jadi jangan melarang ku untuk berbuat baik padamu. Percayalah, membukakan pintu bukanlah hal yang berat,"
Mendengar itu, Mega jadi tertawa lebar. Ternyata pacar kontraknya ini diam - diam punya bakat jadi pelawak juga.
Kian tersenyum simpul melihat Mega tertawa lepas. "Makan dulu yuk, kamu pasti laper kan?" semenjak itu Kian merubah panggilan lo gue jadi aku kamu. Mega mengangguk, ide untuk makan siang memang sangat cocok dengan kondisi nya saat ini.
Mobil Kian melaju sedang menuju sebuah restoran yang tak jauh dari tempat awal tadi.
Sambil menunggu pesanan datang, Mega bermain ponselnya dan tanpa sadar hal itu membuat Kian cemburu.
"Aku ngajakin kamu ke restoran itu buat makan!"
Sadar kalimat itu ditujukan ke arahnya Mega mendongak menatap Kian. "Lalu? Siapa bilang restoran itu tempat buat tidur?"
Tanpa banyak kata, Kian merebut ponsel Mega. Mega memekik tapi tak Kian hiraukan.
"Siapa yang suruh abaikan aku,"
"Kian, aku belum selesai, kembalikan ponsel aku!"
"Enggak!"
"Balikin !"
"Enggak!"
Mega berusaha merebut ponselnya dari tangan Kian. Kian berdiri dan menjauhkan dari jangkauan Mega.
Keseimbangan Mega goyah dan tanpa sengaja menabrak dada bidang Kian. Aroma maskulin parfum Kian menyeruak ke lubang penciumannya.
Kedua mata saling bertabrakan. Larut dalam pikiran masing - masing.
Ketika seorang pramusaji datang, barulah mereka tersadar.
"Ini pesanan Anda,"
"Eh, iya, terimakasih Mbak!" ujar Kian dan kembali ke kursinya begitu pula dengan Mega.
"Ponselku !" Mega mengadahkan tangan.
"Nanti aku akan memberikan padamu setelah kita selesai makan."
Mega mengerucutkan mulut nya. Mengalah lebih baik, perutnya keburu berteriak andai dapat bicara. Mega menyantap makanan begitu lahap.
"Pelan - pelan, kamu makan seperti orang yang sudah berhari - hari tak makan saja,"
Mulut Mega penuh dengan makanan, "Makanan di tempat ini sangat enak!"
"Telan dulu baru bicara, kalau kamu suka, aku akan sering - sering ajak kamu makan di sini!"
__ADS_1
Mega tak menyahut hanya menunjukkan ibu jarinya ke arah Kian.
Setelah makan siang, Kian sengaja tak mengajak Mega langsung pulang, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kita istirahat dulu yuk di tepi pantai!"
Mega melihat jam di ponselnya, "Keburu malem nanti kita sampai rumah,"
"Nggak apa, ntar aku kirim pesan ke Sasa kalau kamu lagi jalan sama aku,"
"Terserah kamu deh!"
Sesampainya di pantai, mereka turun dan berjalan beriringan. Kian dengan tingkat percaya dirinya meraih tangan Mega.
"Apaan sih, lepasin tanganku!" berontak Mega tak suka main sentuh.
Kian semakin mengeratkan jemarinya. "Kamu pacarku, sudah sewajarnya kita bersikap selayaknya orang pacaran pada umumnya."
Mega melotot, tangan sebelahnya melayangkan kepalan tinju ke udara. "Kita hanya pacaran kontrak, enggak lebih!" protes Mega.
"Aku tak perduli." cuek Kian mengabaikan kemarahan Mega. Bagi Kian jika Mega marah, semakin menggemaskan dan Kian menyukai itu.
Mereka berjalan menyisiri pantai lalu duduk di bawah pohon. Nuansa langit senja begitu menakjubkan. Burung - burung menghempaskan sayap pulang ke sarang.
Senyum Mega mengembang tatkala menatap langit. Sangat jarang dia menikmati pemandangan sore seperti ini.
Kian mengamati wajah cantik yang terpapar cahaya sore, "Mega," Kian sengaja menggantung kalimatnya hingga membuat pandangan Mega teralihkan ke arahnya.
"Ya," sahutnya sambil menunggu kalimat selanjutnya.
"Ada satu permintaan yang ingin aku ajukan padamu,"
"Permintaan, apa itu? Dan untuk apa kamu meminta sesuatu dariku, apa aku terlihat seperti toko serba ada?"
Kian tertawa kecil, tangannya terangkat dan meletakkan di pucuk kepala Mega. "Entah mengapa aku merasa betah jika berlama - lama di dekatmu, mungkin ini belum terlambat untuk meminta maaf padamu. Aku minta maaf, dulu aku sering menyakiti hatimu dengan perkataanku yang kurang enak."
"Nggak apa - apa kok, aku sudah melupakan semua."
......................
Setelah selesai menikmati suasana sore hari di tepi pantai, Mega mengajak Kian pulang, Mega ingin sekali menikmati istirahat di kamar.
Perjalanan pulang sangat santai, hingga mereka berdua tak menyadari telah dibuntuti oleh sekelompok pria sangar yang mengendarai sepeda motor.
Sekelompok pria langsung menyerang dengan brutal. Salah satunya berusaha memecahkan kaca depan mobil. Untung saja Kian tanggap dan berusaha menambah kecepatan mobil. Mega sangat kaget dengan kejadian ini. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa pelaku barusan.
"Siapa mereka?"
"Aku juga tak tahu, mungkin mereka mengira kamu bawa uang setelah dari bank tadi."
Terjadilah aksi kejar kejaran. Jalanan yang Kian lewati kebetulan sepi, sekelompok penjahat itu berhasil mendahului mobil Kian hingga membuatnya mengerem mendadak.
"Kenapa tidak sekalian kamu tabrak mereka?" protes Mega yang menganggap Kian takut untuk melakukannya.
"Menabrak dengan sengaja adalah tindakan kriminal."
"Kamu lebih memilih menjauh dari tindakan kriminal atau menyelamatkan diri? Kita tukar posisi, biarkan aku yang mengemudi!" Mega memberi isyarat untuk berganti.
Kian tercengang mendapati sikap Mega barusan. Dengan suara terbata Kian bertanya, "Ka-kamu bisa mengemudi?"
Mega tak menyahut dan setelah tukar posisi, Mega menarik tuas dan ...
Brumm ...
__ADS_1
Suara bunyi mesin dan klakson yang panjang mengawali aksi Mega.
"Menyingkir kalian atau aku lindas sekarang!" teriak Mega.
Dua motor di depan tak mengindahkan teriakan Mega.
Mega tersenyum mengejek dan melakukan mobil Kian dengan kecepatan tinggi.
Dua pengendara itu ketakutan sendiri dan menyingkir.
"Gila kamu Ga, aku bisa mati di sini jika kamu ugal - ugalan seperti ini!"
"Baguslah, jika kamu mati masalah ku akan berkurang satu."
"Jadi selama ini kamu anggap aku sebagai masalah?" Kian meninggikan suaranya.
"Terserah, aku hanya menyampaikan atensi ku,"
Mega tak ingin berdebat lagi dan konsentrasi menyetir.
Penjahat itu tak berhenti dan terus mengejar.
Mobil Kian melaju cepat, Mega meminta petunjuk pada Kian arah kantor polisi. Dan Kian menyanggupi, mengarahkan Mega untuk belok kiri setelah tikungan.
Para penjahat itu terus mengikuti dan tak memperhatikan plang jalan.
Mobil Kian belok tepat di kantor polisi.
Buru-buru para penjahat segera tancap gas setelah mendengar Mega berteriak. "Pak Polisi, mereka para penjahat pak yang mau merampok kami!"
......................
Sonya dan kedua anaknya langsung menerima kabar tak menyenangkan. Sonya mengganti rencana.
Begitu Mega pulang disambut olehnya dengan suka cita, mengajak Mega makan malam bersama.
"Tapi Ma, aku masih kenyang." tolak Mega halus.
"Kalau begitu, kamu makan puding saja, anggap perayaan ini untuk memeriahkan kemenangan kamu, bagaimana, mau ya, satu suap saja," Sonya menarik kursi dan mengisyaratkan agar Mega duduk.
Mega pikir tak apalah, makan puding tak kan membuatnya gendut, hanya itu yang ada dalam pikiran Mega.
Satu suapan, dua suapan hingga puding itu habis tak bersisa.
"Pudingnya enak kan?"
"Iya Ma," Mega hendak beranjak tapi tiba - tiba perutnya sakit. Mega mengaduh. Saat itu juga ponselnya berdering, ternyata itu dari Kian.
"Hallo, Ga, aku lupa mau kasih hadiah buat kamu..."
"Sorry, Kian, mendadak perutku sakit sekali..." Mega merasakan perut nya seperti di pelintir dan di tusuk - tusuk.
"Kamu kenapa, Ga! Hallo... hallo !" suara Mega sudah tak terdengar lagi. Kian yang ternyata belum pergi sengaja masih berada di sekitar lingkungan rumah Mega bergegas putar balik ke rumah Mega.
Sesampainya di sana, Kian menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Mega duduk berjongkok, wajahnya pucat dan lemas.
Kian menghambur ke arah Mega, "Mega, kamu kenapa, ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
Kian langsung menggendong Mega.
__ADS_1
Melihat itu Sasa merasakan panas di luar dalam dan semakin membenci Mega.