Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Kikan anaknya Monalisa?


__ADS_3

Bara menghentikan langkah dan membalik tubuhnya."Apa aku tidak salah dengar, kamu bilang dia putrimu? Itu salah besar, MONALISA! Kikan adalah putriku. Dia tidak pernah terlahir dari seorang ibu yang telah berkhianat padanya."


Monalisa menganga tak percaya yang ia lihat adalah putri kandungnya yang sejak kecil ia tinggalkan. Kikan memiliki paras yang cantik dan kulit putih, tak jauh berbeda dengan Monalisa. Hanya saja, Kikan memiliki watak yang buruk, mudah marah - marah dan suka berbuat sesuka hati. Beda jauh dengan Monalisa, meski dikatakan pernah selingkuh tapi ia tak pernah memiliki dendam baik pada Bara sekalipun yang telah menceraikan dia dan memisahkan dengan putrinya.


"Aku tidak pernah mengkhianati putriku."


"Jangan kau sebut Kikan sebagai putrimu !" ucap Bara dengan nada meninggi yang membuat Monalisa kaget.


"Kamu jangan egois Bara, dia terlahir dari rahimku. Aku berhak mengakui dia sebagai putriku."


"Cih, aku tidak perlu kedatanganmu di sini, lebih baik kamu pergi!"


"Tidak Bara, aku akan menemui Kikan dan mengatakan padanya kalau aku adalah ibu kandungnya, ibu yang telah melahirkan nya."


Mendengar ucapan mantan istri, Bara tertawa kecut. "Kau tak tahu rupanya, aku mengatakan pada Kikan bahwa ibunya telah meninggal dunia. Cobalah, jika kamu berhasil meyakinkan Kikan kalau kamu ibunya, maka aku akan berlutut dihadapanmu!" Bara tertawa lagi.


Jo menghampiri Monalisa, mengusap bahunya dan berbisik. Kamu tidak perlu takut. Aku sangat yakin, putrimu akan menerima kamu sebagai ibunya."


Bara memincingkan mata saat Jo memperlakukan Monalisa dengan sangat lembut. Pria itukah yang membuat dirinya berpaling dari rumah tangga yang sudah terbina?


Monalisa mengangguk dan berbalik masuk ke dalam.


...****************...


Monalisa mendekati Kikan. "Putriku!" serunya diiringi isak tangis.


Kikan mendongak menatap wanita cantik nan elegan yang berdiri di depannya.


"Apa aku mengenal mu?" tanya Kikan di sela tangisnya.


"Aku ibu mu, Kikan! Dan namaku Monalisa," Mona memperkenalkan dirinya berharap Kikan mau menerima kehadirannya.


Monalisa melangkah lebih dekat lagi ingin memeluk putri kecilnya yang tumbuh menjadi gadis dewasa.


Kikan tak menolak mendapat pelukan hangat dari seorang Monalisa.

__ADS_1


Kikan memutar ingatannya, ayah nya bilang ibunya telah pergi jauh lalu meninggal.


Detik berikutnya, Kikan mendorong tubuh Monalisa dan berteriak. "Kamu bukan ibuku! Ibuku sudah meninggal."


Perkataan itu seketika membuat hati Monalisa bagai tersambar petir rasanya. Sakit dan sangat terluka.


Monalisa mengencangkan tangisannya.


Diluar sana Bara tersenyum kecut.


Mega tak percaya jika wanita yang pernah mengentaskan dirinya dari jurang masalah ternyata adalah ibu kandung Kikan. Mega melepas genggaman tangan dari Kian lalu berjalan pelan menghampiri Monalisa.


"Nona, Anda ibu kandungnya Kikan?" Mega berbisik.


Monalisa mengangguk yakin. Mega berusaha menenangkan dan mencari solusi dari masalah yang pelik ini. Mega berharap dengan perisitiwa ini tidak akan terulang kembali. Ternyata menjadi cantik juga sangat berbahaya. Banyak kejahatan yang mengancam nyawa. Dan berharap ke depan nya nanti setelah mendapatkan pelajaran, Kikan dapat berubah dan mau menerima kenyataan.


...****************...


Dengan sejumlah bukti yang diamankan polisi dan beberapa orang saksi, akhirnya Kikan di tahan. Sempat Kikan menjerit histeris dan menyebut nama Mega.


"Gue bersumpah tidak akan pernah membuat hidup Lo bahagia, dasar jelek perebut calon suami orang!" umpatnya di depan banyak orang saat dirinya di bawa menuju ruang tahanan.


Bara menghubungi pengacara dan memintanya untuk membebaskan putrinya dari tuntutan hukum.


Berbeda dengan langkah yang Monalisa ambil.


Menurut pendapat yang Mega utarakan tadi, Mega menyarankan agar salah satu pihak mendatangi korban.


Monalisa setuju dengan yang diutarakan Mega. Dengan didampingi Jo menuju rumah sakit, Monalisa menemui korban penyiraman air keras oleh Kikan.


Korban itu diketahui bernama Ika, Ika tengah melakukan perjalanan pulang ke kost dari tempatnya bekerja sebagai penjaga toko kue. Ika tidak tahu mengapa ada orang yang tiba - tiba menyiramkan air ke wajah nya.


Monalisa menanyai dokter dan dokter menerangkan bahwa korban penyiraman air keras ini sangat shock dengan kejadian yang dialami barusan. Wajah nya terlihat melepuh dan selalu mengeluh kepanasan.


Monalisa mengaku salah atas tindakan yang dilakukan oleh putrinya dan akan menanggung semua beban biaya operasi dan pengobatan lain sampai korban sembuh.

__ADS_1


Sementara Mega bersama Kian tengah perjalanan menuju rumah sakit tempat Ika di rawat.


"Untung saja yang kena orang lain, bukan kamu," tukas Kian memulai obrolan.


"Kok kamu ngomong gitu?" Sentak Mega tak suka Kian mengomentari jelek.


Melihat ekspresi Mega yang tak sedap dipandang, Kian membenahi kalimatnya. "Eum, maksud aku bukan begitu, kamu jangan marah seperti itu dong, Kikan di sini yang harus dipersalahkan."


"Terus kalau yang terkena siraman air keras itu aku, kamu juga akan menyalahkan Kikan? Ini semua bermula karena kita,"


"Kok kita?"


"Iya, andai saja kamu nggak menolak pertunangan dengan Kikan, pasti Kikan tidak membenciku seperti ini. Justru yang harus dipersalahkan di sini itu kamu."


"Kok aku, Ga? Itu kan keputusan hidup. Aku nggak mau sama Kikan itu bukan karena dekat dengan kamu. Kikan yang sudah memulai duluan dengan berkhianat. Dia diam - diam menjalin hubungan dengan kakak kandungku. Pantaskah aku tetap mempertahankan hubungan yang sudah jelas tidak bisa dilanjutkan. Please Mega, kamu jangan mengungkit hubungan kita dengan peristiwa ini. Aku sayang kamu dan titik."


Keterangan yang Kian sampaikan membuat Mega membisu sampai di tempat tujuan.


Mega dan Kian bergegas ke luar mobil lalu menuju bagian resepsionis untuk menanyakan korban penyiraman air keras.


Setelah mendapatkan keterangan, mereka berdua menuju kamar MELATI nomor 5.


Sesampainya di ruangan itu, Monalisa tengah berbicara serius dengan dokter. Mega menemui korban yang ia ketahui identitasnya bernama Ika.


"Mbak Ika, maafkan saya atas kejadian ini. Sebenarnya sayalah yang menjadi incaran pelaku penyiraman air keras ini. Pelaku sangat membenci saya dan ingin mencelakai saya. Tapi karena Mbak Ika mengenakan baju yang sama persis dengan baju yang saya kenakan, pelaku mengira Mbak Ika adalah saya."


Wajah Ika sudah diperban. Kemungkinan besar, Ika akan mengalami buta di salah satu bagian matanya.


Dokter akan melakukan operasi malam ini juga setelah mendapat kan persetujuan dari pihak keluarga korban yang sedang dalam perjalanan menuju ke sini.


Kian tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa memberikan dorongan pada Mega agar tak terlalu menyalahkan diri sendiri.


...****************...


Sonya, Sasa dan Loli sedang berada di ruang keluarga saat ini. Mereka bertiga sedang menonton acara tv. Kebetulan tv nya sudah di pasang STB jadi semua saluran terlihat jelas ssetelah berhari - hari buram gambarnya.

__ADS_1


Ketiga wanita itu kompak melongo saat serial tv menayangkan berita konvensional sore itu.


Sasa dan Loli saling pandang ketika Sonya bertanya, "Bukankah itu Kikan anak pak Rektor? Kok bisa bertindak kriminal?"


__ADS_2