Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Episode 37


__ADS_3

Mega memandangi layar ponselnya sejak setengah jam yang lalu. Kini ia sedang bersantai di dalam kamar.


"Tumben, cowok sok cakep itu nggak kirim pesan." dumel Mega sambil menggeser layar ponselnya mungkin ada notif yang terlewat. Setelah dicek memang benar, seharian ini Kian tidak mengirimnya pesan.


Pintu kamar Mega diketuk seseorang dari luar. Mega pun meletakkan ponselnya dan bergegas membuka pintu.


Setelah pintu kamar terbuka lebar, terlihat jelas sosok menyebalkan berdiri angkuh di ambang pintu.


"Ada apa?" tanya Mega.


"Nih, uang Lo! Dan sekarang hutang gue lunas." ujar Sasa seraya menyerahkan segepok uang bergambar bapak presiden Indonesia ke tangan Mega.


Senyum Mega mengembang melihat benda merah itu, "Ternyata gadis ini menepati janjinya, syukurlah kalau perlahan dia bisa berubah." pikir Mega seraya menerima uang itu.


Tak ada pembicaraan lain diantara keduanya. Sasa pun kembali menuju kamarnya dengan perasaan yang lega karena ancaman masuk penjara sudah tak ada lagi untuknya.


Mega memandangi punggung Sasa hingga tak terlihat lagi. Sebenarnya ada sedikit rasa iba pada Mega terhadap nasib dua saudara tirinya itu. Sasa masih berurusan dengan dosen tentang skripsinya dan Loli bekerja paruh waktu untuk menambah pemasukan. Terakhir kemarin saat Mega akan berangkat kerja, ia juga mendengar mamanya bicara di telpon dengan seorang penagih hutang. Mega anggap itu sebagai balasan atas mereka yang selalu menyiakan diri nya selama menjadi gadis yang tertindas.


Mega menutup pintu lalu kembali bermain dengan ponselnya. Rasa geregetan pun mulai menghampiri hatinya. Sangat gengsi juga jika dia yang mengawali menanyakan kabar. Mega meletakkan kembali ponselnya lalu tiduran sambil menatap langit - langit kamarnya. Mega termenung memikirkan apa yang sedang Kian lakukan di malam sedingin ini. Setelah lama berpikir akhirnya ia menyerah lalu mengambil ponselnya kembali.


Mega mulai mengetik pesan singkat pada Kian.


[Kian, kamu lagi ngapain?]


Satu menit hingga lima menit berlalu pesan itu belum terbaca juga oleh Kian.


Mega mengirim pesan beruntun, tapi hasilnya pun sama. Tak terbaca dan tak terbalas.


Mega pun tak sabar lagi, penasaran mengapa seharian ini Kian mendiaminya, Mega mendial nomor Kian.


Hanya terdengar bunyi tut ... tut ... tut ... saja.


"Kemana sih Kian?" geram Mega.


"Oh iya, aku tanya tante Ayu saja, " kemudian Mega mendial nomor Ayu.


"Malam Tante, maaf mengganggu!" sapa Mega sopan.


"Mega, apa kabarnya, lama tak jumpa?" sahut Ayu dengan pertanyaan.


"Sehat Tante. Tante Ayu. Eum, Kian ada, seharian ini dia nggak kasih kabar ke aku," Mega ragu untuk bertanya tentang Kian.


"Kamu belum tahu?"


"Tahu apa Tante?"


"Kian sakit."


"Hah, sakit? Kok bisa!"


.

__ADS_1


Ayu sedang menerima panggilan dari Mega, tiba - tiba jeritan bik Asih membuat Ayu berteriak.


"Ada apa Bik!"


"Den Kian, Nyonya!" teriak bik Asih panik.


Mega yang mendengarkan dari arah seberang jadi ikut panik juga. "Kian kenapa Tante?"


"Tante juga belum tahu, sebentar ya Mega, Tante keluar kamar dulu." setelah mematikan panggilan Mega, Ayu bergegas menemui bik Asih.


Ayu melihat Kian terkulai lemas di dekat dapur, sementara bik Asih menyangga kepala Kian dengan pahanya sebagai tumpuan.


Ayu pun ikut histeris. "Kian kenapa, Bik?"


"Tadi Den Kian mau ambil minum ke dapur, Nyonya. Tapi belum sampai den Kian sudah jatuh lalu pingsan."


"Kian kan sedang sakit perut Bik, seharusnya Bik Asih peka apa yang diperlukan Kian!" omel Ayu.


Karena seharian ini perut Kian tak diisi makanan, magh Kian pun kambuh.


Ayu menggantikan posisi bik Asih dan meminta bik Asih untuk mencari bantuan.


Raditya dan Egan sedang keluar menghadiri acara kondangan sedang bang Asep pergi keluar membeli gorengan.


Bik Asih menghubungi nomor Raditya. Kebetulan Raditya sedang perjalanan menuju pulang. Bik Asih juga menghubungi dokter keluarga. Dokter itu pun segera datang.


Bang Asep baru saja tiba dan disuguhi dengan raut muka kepanikan.


"Ada apa sih Bik, teriak malam - malam gini!" dumel bang Asep seraya berjalan menghampirinya.


"Sini cepat!" Bik Asih mengayunkan tangan memberi kode agar Asep mempercepat langkahnya.


"Ada apa?" tanya Asep begitu jaraknya sudah dekat.


"Den Kian pingsan. Cepat bantu aku angkat den Kian ke kamar."


Asep terkejut lalu bertanya, "Kok bisa pingsan Bik?"


"Mogok makan." sahut Bik Asih.


Asep hanya melongo saja mendengar penuturan Bik Asih itu.


Asep mengekor langkah bik Asih.


.


Beberapa menit kemudian Raditya, Egan dan dokter pribadi, Rustam namanya datang secara bersamaan.


"Dokter Rustam?"


"Selamat malam Pak Radit!" sapa Rustam.

__ADS_1


"Ya, selamat malam, mari saya antar ke kamar Kian!"


Lalu Rustam mengikuti langkah Radit.


Setelah mengecek kondisi Kian yang ternyata mengalami demam juga, Dokter Rustam memberikan resep obat agar segera diminumkan.


"Kian sakit apa Dokter?" tanya Egan.


"Bukan sakit serius, hanya mengalami dehidrasi dan lesu. Setelah bangun nanti paksa dia untuk makan dan minum obat nya.


"Kian seharian ini tidak keluar kamar, ia mengeluh perutnya sakit. Aku kira magh nya kambuh." terang Ayu.


Dokter Rustam tertawa kecil, "Perutnya sakit karena lapar, sejak kecil ia memang tak bisa menahan rasa lapar. Baiklah. Pekerjaan ku selesai sudah. Aku pamit dulu." ujar Rustam.


"Terima kasih Dokter Rustam!"


Rustam mengangguk.


"Mari saya antar!" tawar Egan yang kemudian mengikuti langkah dokter itu keluar kamar.


Setelah kepergian dokter Rustam, Kian pun bangun.


"Kamu kenapa Kian, pakai acara mogok makan segala," tegur Egan yang memang sengaja menunggui adiknya.


"Kak Egan masih di sini?"


"Iya, sebelum aku balik ke luar negeri aku ingin kita sering - sering ngobrol seperti ini."


"Kak Egan mau balik? Terus gimana dengan cewek yang Kak Egan sukai?" Begitu bangun Kian merasa tak enak juga jika mengusir kakaknya yang telah setia menungguinya tidur.


"Jujur saja. Hatiku sakit. Dia udah punya pacar."


"Yang sabar ya Kak, pacarku juga. Dia udah punya orang lain selain aku." ujar Kian yang membuat mata Egan membola.


"Jadi kamu mogok makan karena cewek kamu!" pekik Egan tak percaya, Kian seperti anak kecil saja.


Kian ketahuan juga, ia pun mengangguk.


Egan tertawa lebar yang membuat Kian sangat malu.


Bik Asih datang mengantar makanan. Egan membujuk Kian agar mau makan. Kian pun menurut. Tak ada gunanya juga menyakiti diri sendiri.


.


Keesokan paginya.


Mega datang ke rumah Kian. Ia mengetuk pintu namun pemilik rumah tak mendengar.


Kian tahu jika Mega datang. Ia tak ingin menemui Mega. Kian meminta Egan agar mengusir pacarnya.


Egan sendiri juga merasa geram terhadap pacar Kian mendengar cerita Kian semalam.

__ADS_1


"Pacar Kian yang tak bermoral itu datang, aku akan memberi nya peringatan agar menjauhi Kian." ujar Egan seraya berjalan menuju pintu.


__ADS_2