
Mega terdiam seribu bahasa. Ingin berucap tapi lidahnya seolah terpatri. Mega teringat dengan mantan pacarnya yang bernama Diki, ia amat takut jatuh cinta lagi. Terlebih pengkhianat yang sang mantan lakukan, sangat menyakitkan sekali. Sudah ribuan kali Mega memendam rasa sakit itu, tapi tetap saja muncul seketika dalam setiap mimpi. Tentu saja, Mega sudah mengidamkan mimpi yang indah membina bahtera rumah tangga dengan sang mantan, tapi harus kandas sebelum sampai di pelaminan. Mega tak ingin gegabah menjalin hubungan lagi dengan seseorang yang bernama pria.
Sepertinya Kian sudah menjilat ludahnya sendiri. Siapa yang meminta untuk tidak jatuh cinta dalam hubungan kontrak itu? Nyatanya dia sendiri yang mengingkari. Kian sudah jatuh hati pada Mega semenjak Mega mengalami perubahan, mulai dari perubahan akademiknya, perilaku dan penampilannya. Seolah Mega bukanlah Mega yang ia kenal dulu.
"Aku takut," ucap Mega lirih. Hatinya amatlah pedih jika ia harus mengenal cinta lagi. Jujur saja, Mega sebenarnya merasakan desiran di hati saat Kian menciumnya tadi, tapi ia takut itu hanya ambisi hatinya. Kenyataan yang pasti akan pahit jika mencoba membuka hati lagi. Tidak Diki, atau pun Kian. Tidak di dunianya atau di dunia sekarang. Baginya cinta adalah sebuah ilusi.
Meski Mega kuat secara fisik, tapi hatinya amat rapuh jika sudah mengenal kata cinta. Ia juga tak ingin menyakiti hati yang lain. Mega akui, Kian sangatlah tampan dan punya kharisma tentu saja banyak gadis yang mengantre untuknya. Bisa saja jika Mega menerima Kian, gadis yang menyukai Kian akan beringas padanya. Mega sudah lelah menjalani pertikaian hidup. Terjebak di tubuh gadis jelek ini membuatnya pusing menghadapi orang - orang yang lebai dalam urusan cinta dan rakus dengan harta.
"Takut kenapa, aku janji padamu kok akan selalu mencintaimu." Kian menyakinkan.
"Ini bukan soal cinta atau tidak,"
"Mega, aku berjanji akan ...."
"Maafkan aku Kian. Sepertinya aku tidak bisa memaksa hatiku untuk menerimamu. Aku masih trauma dengan kata cinta. Kita jalani hubungan kita seperti ini saja, itu mungkin terbaik bagi kita."
Kian melepas tangannya lalu mendesah panjang. "Aku hargai keputusanmu Mega, tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu. Aku mau kamu berjanji padaku,"
Mega memperhatikan raut wajah Kian yang berubah lesu. "Janji apa? Jangan memintaku untuk melakuan hal yang aneh - aneh!"
"Tunggu aku sampai aku bisa membuktikan kalau aku sangat mencintaimu."
"Kian, sudahlah, aku tak ingin membuatmu tersiksa! Kikan, juga cantik, kamu bisa mendapatkan dia atau gadis lain yang lebih baik dariku."
"Ini bukan masalah kecantikan, bagiku tidak ada wanita lain di dunia ini selain dirimu, aku pun tetap menyukaimu sekali pun kamu tak menggunakan make up. Ketahuilah, hatiku yang telah memilihmu."
Mega mengangguk memahami perasaan Kian, "Baiklah, tapi aku ingin juga kamu tidak terlalu cemburu disaat teman pria lain dekat denganku selama kita menyelami perasaan kita masing - masing. Aku ingin lebih mengenalmu dan mengetahui seberapa sabarnya kamu menunggu hatiku. Tentu ini pasti tidaklah mudah bagimu. Kamu bisa menyerah sebelum ada yang tersakiti diantara kita."
__ADS_1
Kian hendak membuka mulutnya tapi terjeda.
"Kian, itu adalah ujian juga terhadap dirimu dalam bersosialisasi, aku ingin hidup bebas tanpa tekanan dari seseorang yang akan menjadi pacarku nanti. Atau mungkin jika kamu lolos dari ujian ini, aku bisa mempertimbangkan kalau kita tidak sekedar hanya pacaran saja, tapi ke jenjang yang lebih serius lagi."
"Menikah maksud kamu?" mata Kian berbinar terang.
Mega mengangguk.
Tapi mendengar itu Kian rasanya tidak rela juga melihat gadis yang kita suka dekat dengan pria lain.
"Baik. Aku akan berusaha menahan egoku agar tidak cemburu." Kian menerima keputusan Mega.
"Bagus. Sampai kapan kita akan di dalam mobil?" Mega mengingatkan.
"Oh, iya, ayo kita turun, aku sudah tidak sabar kencan dengan pacar kontrakku."
Kian turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Mega. Mengulurkan tangan pada Mega. Mega menyambutnya.
...****************...
Kikan sudah tidak sabar untuk melakukan misinya, dilihatnya pergerakan Mega yang baru saja keluar dari tempatnya bekerja bersama karyawan lain. Mega asyik mengobrol dengan teman kerjanya lalu kemudian berpisah.
Kali ini Kikan bekerja seorang diri, dua sahabatnya Dea dan Bela sudah tidak mau membantunya lagi. Mereka sudah putus hubungan, dua mantan sahabatnya itu lebih memilih fokus dengan skripsi dan masa depan mereka. Tidak mau terlibat urusan yang membuat badan mereka sakit, seperti di hajar oleh Mega. Dea dan Bela benar - benar kapok.
Meski tanpa Dea dan Bela, Kikan selalu bertindak gegabah tanpa memperhitungkan akibat dari perbuatannya.
Seperti tempo kemarin, Bara mengetahui ulah Kikan yang menyembunyikan banyak keresek untuk amal Jumat. Bara menemukan tempat Kikan menyembunyikan barang itu, lalu mengutus beberapa orang untuk membagikan kepada duafa. Bara sudah lelah untuk mengatasi putrinya yang selalu membuat masalah. Yah, itu mungkin bentuk pelampiasan Kikan yang haus akan kasih sayang dari seorang ibu. Sejak taman kanak - kanak, Kikan berpisah dengan ibu kandungnya. Bara resmi bercerai dengan isterinya karena ketahuan istri nya menyimpan rasa dengan mantan pacar.
__ADS_1
Raditya menghubungi Bara, membahas pertunangan.
"Pak Bara, sudah lama kita tidak mengobrol tentang pertunangan anak kita, bagaimana?"
"Pak Raditya, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan itu."
Dan semalam Kikan mendengar obrolan Bara dengan Raditya tentang pertunangan yang dibatalkan. Kikan kecewa ayahnya melakukan hal itu. Amarah Kikan membludak dan ia menyalahkan semua ini karena Mega lah penyebab batalnya pertunangan diri nya dengan Kian.
Kikan memantau terus langkah Mega dari dalam mobil. Mega berjalan tanpa merasa curiga dibuntuti.
Suasana jalan di sore hari sangat ramai. Mega ada janji bertemu Monalisa di cafe yang ada di seberang jalan.
Kikan hampir saja kehilangan jejak. "Ke mana arah si jelek tadi ya?" Kikan mencari Mega yang menjadi identitasnya adalah berkemeja pink dan celana kulot.
Dari arah seberang terlihat Mega yang memunggunginya. "Nah, itu dia! Kikan segera mengikuti langkah Mega yang terlihat buru - buru. Kikan memelankan laju mobilnya di tepi jalan.
Suasana sepi adalah yang Kikan butuhkan, jadi ia berusaha sabar. Di saat yang tepat ia akan menyiramkan air keras ke wajah Mega.
Mega terlihat sedang menerima telepon dan kebetulan jalan yang dilewati Mega sepi.
Kikan menurunkan kaca mobil. Mengambil botol dari dalam tas. Membuka tutup botol dengan perlahan. Tangannya bergerak cepat membuka handle pintu dan melangkah keluar.
"Jelek, rasakan hukuman yang pantas kamu dapatkan!" Teriak Kikan sambil membalik tubuh Mega.
Air keras itu ia siramkan begitu Mega membalikkan badan.
"Kyaa ... panas, panas!"
__ADS_1