Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Bab 32


__ADS_3

Mobil Kian berhenti 25 menit kemudian tepat di halaman rumahnya. Kian turun dari mobil disusul Mega, mereka bergegas memasuki rumah.


Di ruang tamu, terlihat beberapa polisi tengah duduk menginterogasi tante Sendy tepat yang diduga Kian tadi.


"Saya nggak salah dan nggak mau masuk penjara!" Sendy menoleh begitu Kian dan Mega memasuki rumah. "Kian, tolong tante!" ucapnya mengiba.


Kian menatap benci ke arah Sendy. "Tante jahat. Sudah sepatutnya tante berada di penjara!"


Mega mengusap bahu Kian mencoba menenangkan. "Kian, tenang!"


"Dia udah mencoba membunuh mamaku!" imbuh Kian dengan emosi yang meledak - ledak.


Sandy terisak sambil menggeleng samar. "Kian, jangan katakan itu padaku,"


"Selesaikan masalah ini di kantor polisi. Saudari Sendy Sasmita, Anda kami tahan atas percobaan pembunuhan dengan menggunakan racun!" ucap salah satu polisi sambil berdiri.


"Aku tidak mau masuk penjara! Kian tolong mama!" Sendy memberontak saat kedua polisi mengajak nya pergi.


Kian terlonjak kaget bagaimana bisa Sendy mengaku diri nya sebagai ibunya.


"Tante Sendy bilang apa barusan?" Kian memiringkan kepala nya untuk mendengarkan Sendy mengulangi kalimatnya barusan.


Sandy yang masih terisak dan dalam ketakutan itu pun berteriak, "Aku tidak mau di penjara! Lepas kan aku!" Sendy menoleh ke arah Kian. "Kian, tolong mama Nak," Ucap Sendy mengiba.


"Aku bukan anakmu !" Sentak Kian tak suka dengan cara Sendy memanggilnya.


Seketika itu juga Raditya datang, "Apa yang dia katakan itu benar, Kian,"


Ucapan Raditya membuat Kian bingung. Mega yang sejak tadi menjadi penonton sudah curiga pasti ada rahasia besar di rumah ini.


"Papa bicara apa? Aku nggak ngerti!"


Raditya menarik nafasnya panjang dan dia mulai bercerita.


Singkat cerita, setelah menikah dengan Ayu tak lama kemudian Ayu dinyatakan hamil bayi Egan. Raditya pun mengakhiri hubungan gelapnya dengan Sendy, adik tiri Ayu. Sendy tidak mau putus dan mengaku dirinya telah hamil, bayi Kian. Akhirnya Raditya menikahi Sendy secara siri tanpa sepengetahuan Ayu.


Saat melahirkan Egan, Ayu sering sakit dan didiagnosa mengalami jantung lemah. Raditya menyembunyikan rahasia jika dia punya istri lain.


Selang beberapa bulan kemudian, Sendy melahirkan Kian dan membawanya ke rumah Ayu. Menyerahkan bayi itu agar di asuh Ayu. Ayu tak tahu Sendy hamil oleh siapa.


Sendy mengalami depresi dan masuk rumah sakit jiwa hingga bayi Kian tumbuh besar.

__ADS_1


Setelah beberapa tahun kemudian. Sendy dinyatakan sembuh. Raditya membawanya pulang ke rumah. Ayu senang bisa melihat adik tirinya lagi yang tiba - tiba menghilang.


Kian tetap tidak percaya dengan cerita itu. Dia berteriak. "Itu bohong!"


Polisi tidak bisa lama - lama di sana dan segera membawa Sendy pergi.


Raditya tak bisa tinggal diam begitu saja, Sendy sudah pernah menjadi bagian dari hidupnya. Ia akan menemui Ayu dan mengatakan kebenaran ini sepenuhnya setelah Ayu sembuh.


"Mengapa Papa membohongi aku selama ini?" Tanpa Kian sadari air matanya jatuh.


Mega jadi tidak tega melihatnya.


Raditya tertunduk, "Maafkan Papa Kian, waktu itu keadaan sangat rumit dan kamu terlalu muda untuk mengerti. Papa kira rahasia besar ini akan tertutup selamanya. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, Tuhan memberikan jalan pada akhirnya untuk kebenaran ini."


Raditya mendekati Kian hendak memeluknya, tangan Kian menepisnya. "Aku benci Papa!"


Lalu Kian pergi ke luar.


"Kian, tunggu!" teriak Mega.


"Om, saya kejar Kian dulu, permisi!" pamit Mega.


Raditya mengangguk sambil mengusap matanya yang basah.


Kian mengusap matanya yang berair dia belum menjawab, seolah semua kalimatnya terkunci di tenggorokan.


"Aku yang menyetir ya, tenang, aku akan hati - hati kok!" Mega menepuk bahu Kian lalu menarik handel pintu mobil.


Kian menurut lalu masuk lebih dulu, Mega memutari mobil lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mega menyalakan mesin lalu melajukan mobil dengan pelan.


Sepanjang perjalanan Kian hanya diam membisu. Mega memahami perasaan Kian sekarang yang pasti sangat terpukul sekali.


Mega mencairkan suasana memulai obrolan lebih dulu. "Eum, Kian, sepertinya kamu butuh waktu untuk sendirian. Kamu ingin aku bawa mobil kamu kemana?" tanya Mega pelan.


Kian menoleh ke arah Mega, "Terserah," sahutnya datar dan tanpa ekspresi. Kian memalingkan muka menatap ke luar arah jendela kaca mobil.


Mega sudah menduga dengan hasil jawaban yang ia dengar.


"Baik. Kita ke taman saja ya," ujar Mega mengambil keputusan sepihak.

__ADS_1


Tak ada respon dari Kian. Jika diam itu artinya iya, pikir Mega dalam diam.


Mega mengarahkan laju mobil menuju taman yang jaraknya kurang lebih seperempat jam dari posisi saat ini.


Mega mencari jalan keluar dari masalah yang Kian hadapi. Mungkin saat ini Kian belum bisa menerima kenyataan jika ibu kandungnya adalah Sendy. Mega yakin, darah lebih kental dari pada air. Lambat laun pasti Kian akan mengakui Sendy sebagai ibunya.


Sebuah Taman Wilis menjadi tujuan Mega. Mega memarkir mobil di area parkir. Mega turun lebih dulu. Tapi Kian masih enggan mengikuti pergerakan Mega.


Mega menuju ke arah Kian lalu mengetuk kaca mobil. Kian tersadar dari lamunan lalu menurunkan kaca mobil.


Mega mengangkat dagunya. "Apa kamu akan membiarkan aku diluar sendirian? Bagaimana jika ada pria asing yang ingin berkenalan denganku?" Mega begitu percaya diri sekali jika ucapannya akan menarik simpati Kian.


Tentu saja Kian tak rela gadisnya menjadi incaran pria lain. "Jangan!" pekik Kian pada akhirnya dan bergegas keluar.


Mega mengembangkan senyum, usahanya berhasil.


Kian menarik tangan Mega dan menggenggam erat jemarinya.


Mega pasrah saja digandeng Kian, mungkin ini bisa menjadi obat sementara kesedihan hati Kian.


"Jika kamu di posisi ku, langkah apa yang akan kamu ambil?" Kian sedikit tenang dan suasana hatinya sudah tak seburuk tadi.


"Jika aku jadi kau, mungkin aku akan lari lalu menceburkan diri ke dasar jurang."


"Hah, serius!" pekik Kian dengan mata membulat kaget.


Mega menapakkan deretan giginya yang putih, "He he he, bercanda," Mega menunjukkan dua jarinya tanda damai.


Kian tak mengira jika Mega bisa humoris juga, Kian ikut tersenyum.


"Itu jawaban palsu, mau denger jawaban yang asli?"


"Ogah, nggak jadi!" Kian menampakkan wajah kecewa lalu melepas pegangannya dan berjalan angkuh mendahului Mega.


Mega jadi bingung, apanya yang salah, padahal dia sudah mengakui tadi kalau sedang bercanda.


"Kian tunggu, kamu marah?" Mega mengejar langkah Kian.


Kian tak menyahut dan terus melangkah.


Mega berhasil menarik bahu Kian. "Kian, jangan marah!"

__ADS_1


Kaki Mega kesandung dan membuat Kian reflek menopang tubuh Mega. Kian tak sepenuhnya seimbang saat menopang tubuh Mega dan ikut ambruk.


Cup ....


__ADS_2