Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Shopping


__ADS_3

Kata dokter, Mega sudah diizinkan pulang dan tidak ada masalah apa pun pada organ pencernaannya. Ucapan dokter itu langsung disampaikan ke pada Mega sendiri di saat dua pria itu tengah berdebat di luar kamar.


Menjadi ratu sehari saja sudah membuatnya bosan, apalagi mendengar dua pria itu saling berdebat. Kian dan Liam masuk, mereka belum berhenti berdebat juga.


"Gue pacarnya, jadi gue yang lebih berhak untuk menggendong Mega!" suara Kian meninggi sambil menunjuk dirinya.


Mega menyumbat kedua kupingnya dengan telapak tangan. Karena tak tahan lagi, Mega beringsut pelan, mengambil tas dan mengendap keluar kamar.


"Pacar dari Hongkong, Mega saja tak mengakui Lo sebagai pacarnya, gue peduli pada Mega dan gue saja yang ada di dekat Mega. Lo pulang sana!" Liam pun tak kalah tinggi suaranya.


"Enak aja Lo nyuruh gue pergi. Gue akan tetep di sini!"


"Mending kita tanya sama Mega, Mega mau sama siapa, gue atau Lo?" pendapat Liam mendapat anggukan setuju dari Kian.


"Oke, Ga kamu mau sama... "


Kedua pria itu menoleh ke arah Mega yang tadinya masih bersandar di atas ranjang pasien, tapi ke mana Mega pergi ya?


"Loh, kemana perginya Mega?" Kian celingukan mencari Mega.


Liam membungkukkan badan mengintip di kolong ranjang, tapi nihil.


Kian mengetuk kamar mandi. "Mega, kamu ada di dalam ?" merasa tak ada sahutan, Kian memegang handel lalu mendorong pintu. Mega tak ditemukan di sana.


"Mega nggak ada!"


......................


"Akhirnya aku sudah bebas dari mereka, aku ingin tidur dan belanja sore nanti. Eits, tunggu, aku tidak mungkin keracunan makanan kan jika tak ada yang sengaja meracuni. Aku mencurigai nenek sihir itu pelakunya. Hm, tidak selamanya kejahatan dapat dibalas dengan kejahatan juga, sama saja aku dengan mereka."


Setelah ngedumel sendiri Mega memutuskan pulang dengan mengendarai taksi.


Sesampainya di rumah, Sonya dan kedua anaknya menyambut kedatangan Mega dan memasang wajah palsu.


"Mega, kamu sudah sembuh? Padahal kami sudah bersiap mau menjenguk kamu di rumah sakit." Sonya berbicara selembut mungkin.


"Dasar topeng!" umpat Mega dalam hati.


"Aku nggak apa-apa kok, kalian tidak perlu mencemaskan aku seperti ini."


"Dokter bilang apa?" Sasa bertanya prihatin.


"Keracunan makanan."

__ADS_1


Sasa menatap Sonya. Sonya menyentuh bahu Mega. " Maafkan mama Mega, mama nggak tahu jika puding itu telah kadaluarsa.


Mega hanya mengangguk dan ingin segera pergi dari hadapan mereka.


"Aku ingin ke kamar!" secara tidak langsung Mega meminta jalan agar mereka bertiga menyingkir dari hadapannya.


"Oh, iya," Sonya melepas tangannya.


Baru saja Mega melangkahkan kaki, Loli memanggilnya.


"Mega, kamu kan sudah tidak sakit lagi, apakah tidak terketuk hatimu untuk berbagi hadiah yang kamu dapatkan kemarin pada kami?"


Mega tergugu sejenak dengan ucapan Loli. Apa salahnya bersedekah sedikit pada organ yang selalu menyakiti. Mega menoleh lalu membalikkan badan.


"Baiklah. Aku akan pergi shopping sore nanti. Ikutlah!" kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi.


Loli dan Sasa berjingkrak ria.


Sementara dua pria yang ditinggalkan Mega di rumah sakit kebingungan mencari Mega. Inisiatif Liam bertanya pada bagian resepsionis.


"Maaf Mbak, pasien atas nama Mega Elias tidak ada di kamar Mawar 05."


Bagian resepsionis itu melihat catatannya. "Iya Mas, pasien Mega Elias sudah meninggalkan rumah sakit satu jam lalu setelah melunasi bagian administrasi." terangnya yang membuat Liam dan Kian menganga bersamaan.


Kian baru tersadar kenapa tak dari tadi saja menghubungi nomornya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Mencari kotak panggilan my ugly girl.


Lantas Kian menghubungi Sasa dan mendapatkan informasi memang Mega sudah ada di rumah dan sedang tidur.


"Mega benar sudah ada di rumah, gue cek informasi dari Sasa."


"Kenapa Mega ninggalin kita ya?"


"Ini karena Lo, andai saja Lo nggak repot - repot jenguk Mega nggak bakal gini jadinya!"


"Kok Lo yang sewot sih, Mega aja seneng gue datengain."


"Pokoknya Lo nggak boleh deket - deket lagi sama Mega!" Kian mendorong bahu Liam.


"Emang Lo siapa nya Mega, pacar juga bukan!" Liam membalasnya.


Keributan pun terjadi, sekuriti yang mengetahui mereka segera datang dan melerai.


"Pergi kalian berdua dari sini, atau jika tidak akan aku bawa ke kantor polisi!" ancam sekuriti.

__ADS_1


Kian dan Liam mengangguk patuh dan pergi menuju mobil masing - masing.


...****************...


Sore hari, Mega sudah berdandan secantik mungkin. Sebagai MUA terkenal yang terjebak di tubuh gadis jelek ia harus berpenampilan layaknya MUA terkenal. Semua baju di lemari sudah usang, dan sepatutnya ia membelanjakan hasil jerih payahnya untuk shopping.


Sasa dan Loli pun sudah menunggunya dari tadi. Mereka akan menguras habis kekayaan yang Mega punya dengan belanja yang banyak. Sonya tak ikut, mendadak sakit giginya kambuh.


"Gue aja yang bawa mobil!" Sasa mengambil kunci sebelum keduluan Loli.


Loli dan Sasa duduk di depan. Secara tidak langsung, Mega seolah seperti penumpang. Jika punya uang banyak ia ingin punya mobil sendiri dan leluasa pergi tanpa ada yang mengekorinya.


Tiga puluh menit adalah perjalanan yang cukup lama, andai saja Mega yang mengendarai mungkin sudah berada di mall seperempat jam yang lalu.


Sasa dan Loli turun lebih dulu dari mobil dan mempercepat langkahnya menuju tempat pakaian. Detik berikutnya Mega turun.


Lalu lalang manusia membanjiri mall. Beberapa orang memperhatikan Mega. Mega belum ada seminggu saja menjadi pemenang kompetisi sudah banjir pujian. Diantara mereka ada yang meminta tanda tangan.


Mega tersanjung dengan sikap penggemarnya.


Setelah memilih baju, Sasa dan Loli menunggu Mega di depan kasir.


Sasa mengira Mega adalah hadis cupu yang tidak tahu mode masa kini. Ia akan mencibir hasil pilihan Mega.


Mega terlihat menenteng tiga paper bag berjalan menuju kasir.


"Lihat Kak, si jelek sangat bodoh, pilihan begitu banyak tapi hanya membeli 3 potong!" ujar Loli berbisik.


Sasa menyebik, "Dia memang bodoh, tak tahu tren!"


Kasir mulai menghitung jumlah belanjaan Sasa yang mencapai 5 juta dan Loli 5 juta.


"Kalian sudah puas, tak ingin membeli lagi?" tanya Mega sambil mengeluarkan kartu atm nya.


Kedua saudara tirinya kompak menggeleng.


Mega membayar belanjaan mereka setelah itu gilirannya.


Sasa dan Loli seperti sapi ompong yang domblong setelah mendengar nominal belanjaan Mega yang hampir mencapai 15 juta.


Mega tersenyum puas telah bersedekah. Mega melewati mereka yang masih ngowoh menatapnya tak percaya.


"Coba kamu cubit tangan kakak," pinta Sasa menyodorkan lengannya.

__ADS_1


Sasa memekik keras lantaran cubitan Loli sangat kasar.


"Maaf Kak, Loli nggak sengaja!"


__ADS_2