Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Episode 36


__ADS_3

Kian hanya bisa melihat punggung pria itu. Dan Mega sangat menikmati kebersamaannya hingga tak menyadari Kian berada di restoran itu juga.


Kian sedikit ragu untuk memergoki Mega secara langsung, ia ingat dengan perkataan Mega waktu itu. "Kamu jangan cemburu jika aku dekat dengan seorang pria."


Mendengar tentang kebersamaan dengan pria lain saja sudah merinding rasanya apa lagi melihat kejadian beneran seperti ini?


Dada Kian kembang kempis menahan rasa sesak di dada. Ingin sekali menghajar pria itu lalu mengajak Mega pergi.


Kian melangkahkan kaki cepat menuju ke arah Mega.


"Jika aku menemui Mega sekarang, apakah yang akan aku lakukan, haruskah aku marah? Cuek? Atau diam saja? Tidak, itu malah akan mempermalukan diriku sendiri." Kian bermonolog bimbang yang menyebabkan ia berhenti melangkah.


Kian merogoh ponsel di kantong jaketnya untuk mencoba menghubungi Mega dan memastikan Mega menjawab panggilannya atau tidak.


Mega masih terlihat asyik berbincang hingga getaran ponselnya membuat Mega harus mengangkatnya.


"Sebentar ya Kak, ada temanku yang menelpon!" izin Mega lalu berdiri berjalan agak menjauh.


Egan mengangguk lalu melanjutkan makan.


Kian masih memantau pergerakan Mega yang terbaca jelas kalau Mega memang mengangkat panggilan darinya.


"Hallo, Kian, ada apa? " sapa Mega.


Kian rupanya tak menyahut sapaan Mega malah langsung balik bertanya dengan ketus. "Kamu dimana sekarang?"


Mega mengerutkan dahi merasa ada yang aneh dengan sikap Kian yang tak biasanya ketus seperti ini. "Aku sedang makan siang." sahut Mega seadanya.


Kian geregetan dengan sahutan Mega yang membuat dirinya langsung mematikan ponsel lalu pergi dari resto itu tak jadi makan. Selera makan nya menjadi hilang.


"Dasar, cowok aneh," Gumam Mega lalu kembali ke mejanya.


Kian tak sanggup jika melihat pria yang dekat dengan Mega, yang pastinya pria itu lebih tampan darinya hingga Mega sangat betah lama - lama bersama pria itu.


Egan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.


Ditatapnya wajah Mega dengan begitu intens.


Cantik.


Mega yang merasa diperhatikan pun memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf Kak, apa ada yang aneh dengan penampilan ku?" Mega membenahi posisi duduknya.


Egan gelapan kepergok mencuri pandang. "Eum, tidak. Hanya saja wajahmu begitu teduh untuk aku pandangi." tanpa sadar Egan mengatakan itu.


"Apakah Kak Egan sedang menggodaku?" tebak Mega yang hanya iseng saja dengan pertanyaan yang malah membuat Egan jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Eum, Mega, kamu membuatku gugup."


"Gugup kenapa Kak?" Mega biasa saja responnya.


Egan memberanikan diri untuk mengambil tangan Mega.


Mega gelagapan dibuatnya, ingin menarik tangannya tapi kok kesannya jutek amat, ia biarkan dulu untuk melihat maunya apa.


"Mega, sebenarnya ada yang ingin aku omongin sama kamu,"


"Tuh benar kan, ada maunya," batin Mega.


Mega ingat tempo lalu kejadiannya juga seperti ini, Mega jedag jedug jantungnya saat Kian mengambil tangannya. Tapi, hal ini berbeda saat yang melakukannya adalah Egan.


"Haruskah seperti ini?" Mega menunjuk tangannya yang sedang berada dalam pegangan Egan.


Egan merasa tak enak juga karena terlalu lancang mengambil tangan Mega lalu ia pun menurunkan tangan Mega pelan. "Maafkan aku."


Mega bukanlah gadis yang mudah sekali jatuh hati pada pria tampan.


"Sepertinya aku sudah jatuh hati padamu. Inilah aku yang begitu percaya diri mengungkapkan isi hatiku. Aku merasa tersiksa jika menyimpan rasa ini terlalu lama." kemudian Egan terdiam untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh.


"Mega, maukah kamu menjadi kekasih hatiku?"


"What ...!"


"Sejak kapan Kak, maksudku sejak kapan Kak Egan menyimpan rasa padaku, padahal kita baru saja saling mengenal ," ingin menolak tapi bingung harus bagaimana mengatakannya.


"Sejak kita pertama kali bertemu." Egan kembali terdiam untuk menunggu respon Mega selanjutnya.


"Perasaan ku pada Kak Egan, tidaklah lebih hanya sebesar teman biasa saja." ujar Mega.


"Teman biasa? Apa alasannya Mega, apa aku kurang tampan?" batin Egan menangis pilu.


"Kulihat kamu belum pernah bergandengan dengan cowok lain, jadi aku begitu yakin kalau kamu seorang jomlo, aku begitu bodoh mempermalukan diri sendiri dengan menembak mu. Maaf. Pasti, cowok kamu begitu bahagia mendapatkan gadis sebaik kamu." cerocos Egan lalu tertunduk malu.


Mega tersenyum simpul, membayangkan berpacaran dengan Kian saya ia tak pernah apa lagi menjalani hubungan yang serius.


"Kak Egan tak perlu menyalahkan diri sendiri, bukankah berteman lebih mengasyikkan?" Mega tak ingin membahas terlalu dalam hubungan asmaranya seperti yang Egan duga.


Egan mengangkat kepalanya menatap Mega. Ia pikir Mega akan marah dan meninggalkan dia pergi. Nyata nya Mega malah mengajak untuk berteman. Dan hal itu membuat Egan lega meski rasa di hati sedikit sakit.


"Baiklah. Aku harus kembali bekerja. Mega, terimakasih sudah mendengarkan jeritan isi hatiku. Dan maaf jika perkataanku membuatmu tak senang." ujar Egan mengulurkan tangan.


Mega menerima uluran tangan Egan. "Tak masalah. Aku juga minta maaf karena telah menolak Kakak."

__ADS_1


Kemudian keduanya berpisah kembali menuju tempat kerja.


.


Kian sampai di rumah dengan keadaan perut masih kosong.


Meski bik Asih sudah menyiapkan makan siang, tapi Kian mengabaikannya dan memilih masuk kamar.


Ayu yang mengetahui kepulangan Kian pun menyapa namun tak diindahkan oleh Kian.


Hingga menjelang malam pun, Kian tak kunjung keluar kamar juga.


"Bik, Kian mana?" tanya Ayu saat menyiapkan makan malam.


"Sepertinya masih ada di kamar Nyonya," sahut bik Asih.


"Betah amat,"


"Siang tadi, Den Kian juga belum makan." terang Bik Asih yang membuat Ayu bertanya - tanya.


Tak biasanya Kian meninggalkan kebersamaan makan bareng keluarga.


Raditya pun keluar dari kamar, dan langsung bergabung dengan Ayu. Disusul kemudian Egan yang baru selesai mandi.


"Loh, Kian mana Ma?" Egan melihat kursi yang Kian tempati kosong.


"Masih di kamar, bentar lagi juga nyusul." timpal Ayu yang sebenarnya sejak pulang dari menemui Sendy, bawaannya ingin marah melulu. Tapi ia sembunyikan agar Radit tak mencurigainya sampai ia menemukan fakta yang sebenarnya.


"Kian sakit?" tanya Radit yang ia tujukan pada Ayu.


Ayu menjawab hanya dengan mengangkat bahu.


"Aku akan memanggil nya." Egan beranjak menuju kamar Kian.


Sesampainya di depan pintu kamar Kian, Egan mengetuk pintu lalu mencoba membukanya. Pintu itu ternyata di kunci dari dalam.


"Kian, ayo kita makan!" ajak Egan.


Tapi dari balik pintu tak ada sahutan sama sekali. Egan mengira Kian sudah tidur.


Egan kembali dan menyampaikan pada semua orang.


Orang - orang pun makan malam bersama tanpa Kian.


.

__ADS_1


"Mega, kamu jahat! Dengan orang lain saja kamu bisa romantis, tapi denganku kamu selalu cuek seperti bebek!" umpat Kian dari dalam kamar.


"Sepertinya kamu menyukai pria itu. Baiklah. Mulai detik ini juga, aku tidak akan pernah menghubungi kamu lagi atau pun menemui kamu lagi."


__ADS_2