
Semua tim bakti amal dibuat heran dan bertanya - tanya tentang datangnya truk kontainer itu. Beberapa orang asing turun dan mengeluarkan semua isinya.
Mister Jo turun dari mobilnya. Melepas kacamata dan mengedarkan pandang. Beberapa mahasiswa cewek seolah terhipnotis dengan ketampanan pria itu, mereka menjerit kagum. Pasalnya Jo adalah tata rias yang terkenal sebelumnya.
Mega yang sedang mengecek buku nota memindai bola matanya ke arah sosok yang menghebohkan isi kampus. "Mister Jo?" gadis itu melambaikan tangan. Ia melirik jam ditangan sudah menunjuk angka 7. Jo berjalan melewati para gadis menghampiri Mega.
Terjadi bisik - bisik tentang bagaimana Mega bisa mengenal Mister Jo hingga begitu akrabnya.
"Sesuai seperti permintaan mu kemarin, dan maaf jika aku ikut campur, kegiatan sosial ini sangat berpengaruh pada lapisan masyarakat ke bawah, aku ada sedikit rezeki dan menambahkan di pesanan kamu." terang mister Jo. Pria itu ternyata juga senang menderma, pantas saja salonnya selalu ramai pengunjung.
"Wah, aku sangat beruntung bisa mengenalmu, terimakasih Mister Jo!" Mega merasa tertolong, entah jika tak ada dia pada siapa lagi ia meminta bantuan. Jo memberikan sumbangan 2 kali lipat dari barang yang hilang.
"Eum, kurasa kamu tak hanya harus berterima kasih padaku, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Iya, setelah acara Jumat berkah ini selesai aku akan menemuinya!"
"Baiklah, kalau begitu aku pergi!"
"Iya, sekali lagi terimakasih!"
Di seberang sana terlihat seorang gadis bertopi yang merasa kesal, semua rencananya tidak berjalan sesuai rencananya. Percuma ia menyewa sekelompok orang untuk mencuri barang - barang sembako.
"Sial, rencanaku semuanya berantakan, awas kamu gadis jelek!" umpat Kikan.
Semua mahasiswa tingkat akhir dari semua fakultas sehari ini sibuk berkeliling di sekitaran kampus untuk membagikan sembako. Kegiatan itu berlangsung selama 4 jam.
Mega buru - buru pergi untuk menemui seseorang yang sangat berjasa terhadap kegiatan amal bakti ini selesai kegiatan itu.
Liam menghentikan langkah Mega, "Kamu mau kemana, terlihat buru - buru banget, mau ku antar?"
Mega berpikir akan terlalu lama menunggu taksi, "Baiklah!"
"Ayo kita ke tempat parkiran, aku bawa mobil kok!" pinta Liam dan bergegas pergi mendahului Mega. Biasanya Liam suka mengendarai motor.
Kian mengintip dari kejauhan, ia pun bergegas menuju parkiran sebelum keduluan mereka.
"Nah, dengan begini lo nggak bakal bisa pergi sama bidadari gue!" Kian menegakkan punggungnya dari posisi awalnya jongkok. "Enak aja, gue yang punya pacar, lo yang embat!" Kian ngedumel sambil menepuk tangannya yang berdebu, bergegas pergi setelah Liam datang.
Liam melihat ban depan mobilnya yang kempes. "Loh, mobil gue kenapa jadi kempes gini bannya, padahal baru saja servis kemarin!"
Mega nyengir aja sambil menggaruk kepalanya, Mega sudah harus sampai di lokasi tempat janjian 19 menit lagi.
"Aduh, Ga, sorry banget, ban mobil aku kempes!"
"Ya udah lah, Am, aku cari taksi aja!" Mega melangkahkan kakinya meninggalkan Liam.
Belum jauh melangkah dari arah belakang terdengar bunyi klakson mobil. Mega menoleh.
"Hai cantik, butuh tumpangan nggak nih!" goda Kian.
Mega melengos cuek. Ponselnya berdering dan itu dari Monalisa.
__ADS_1
"Iya, Nona, saya akan sampai 10 menit lagi, mohon sabar menunggu!" Mega tidak ada pilihan selain menerima tawaran Kian.
"Oke, aku akan masuk tapi biar kan aku yang mengemudi!" Mega menarik handel pintu pengemudi.
Kian terlonjak kaget, ia pikir hal ini tidak akan terjadi lagi. Tapi ya terpaksa juga dia menuruti kemauan Mega, dia sendiri kan yang tadi menawari Mega?
Mega dengan kemampuan mengemudi yang cukup joss itu bikin Kian jedag jedug.
"Mega awas!" teriak Kian saat Mega melajukan dengan kecepatan tinggi.
Mega tak peduli dengan jeritan Kian, dia harus sampai tepat waktu.
Di restoran Marwah Mega berhenti.
"Kamu mau bertemu siapa?" tanya kian. Mega tak menggubris dan bergegas turun masuk ke dalam restoran. Kian pun menyusul Mega.
Seorang wanita cantik dengan rambut digulung ke atas sedang menunggunya.
"Nona Mona,"
"Baguslah kamu sudah datang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Iya Nona, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan sembako yang mister Jo sampaikan semalam."
"Itu tidak masalah, kebetulan karyawan di gudang sedang lembur."
Monalisa adalah seorang manager per film, ia tertarik dengan Mega karena cara make up nya yang luar biasa. Kali ini ia ingin mengajukan penawaran menjadi make up artis per film an.
Kabarnya Monalisa adalah mantan kekasih mister Jo. Mereka putus karena Mona melanjutkan karir ke negeri orang. Kini ia kembali ke tanah air, mencoba menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasih.
Sepulang dari pertemuan dengan Monalisa, Kian merengek. "Sayang, main dulu yuk ke rumah!"
"Sayang, sayang, kepalamu peyang!" umpat gadis itu tak suka dengan panggilan aneh dari mulut cowok yang sok kegantengan itu.
"Mamaku kangen sama kamu, kalau kamu nggak percaya nih, aku perlihatkan chat mama!" Kian menyodorkan hp nya.
Mega menerima ponsel itu dan membacanya sekilas. Kian tidak bohong. Ayu memang merindukan Mega.
"Iya deh, kalau ini bukan permintaan tante Ayu, ogah aku ke tempatmu!"
Kian cengar - cengir bahagia dan segera melajukan mobilnya.
Tepat di pemberhentian lampu merah, mobil Kian berhenti. Mega menyadarkan kepala dan melirik ke luar jendela.
Diamatinya pengamen yang berlalu lalang dan ada juga yang menghampiri ke arahnya. Mega merogoh uang recehan dan memberikannya.
Tak sengaja penglihatannya jatuh pada seorang nenek yang tengah mengadahkan tangan di emperan toko. Hati Mega terketuk untuk menemui si nenek.
"Kian, aku turun sebentar ya!" Mega segera turun tanpa menunggu persetujuan dari Kian.
Mega memberikan selembar uang 50 ribuan kepada si nenek tua itu.
__ADS_1
Mega hendak pergi tapi perhatiannya tertarik lagi pada sosok yang tak asing baginya.
"Itukan tante Sendy, tantenya Kian," gumamnya dalam diam.
Sendy tengah membeli obat di apotik. Kebetulan jaraknya begitu dekat dengan Mega hingga pembicaraannya dapat di dengar olehnya.
"Aku maunya obat pencuci perut dengan dosis tinggi!" Ujar Sendy dengan lantang.
"Tapi Nona, obat itu sangat berbahaya bisa menyebabkan masalah serius bahkan bisa mengakibatkan seseorang meninggal."
"Aku tidak mau tahu, cepat ambilkan!"
Mega tidak bisa tidak membiarkan penindasan di sekitarnya. Untuk apa Sendy membeli obat pencuci perut? Apakah dia sedang ada masalah dengan pencernaannya?
Mega merogoh saku tas dan mengeluarkan ponselnya. Mengambil gambar Sendy beberapa kali dan menyimpan siapa tahu itu bisa menjadi bukti kejahatannya.
Setelah puas mendapatkan foto Sendy, Mega buru - buru pergi karena suara teriakan Kian yang memintanya segera kembali masuk ke mobil.
"Kian, aku mau tanya, tante Sendy itu seperti apa?" tanya Mega saat sudah berada dalam mobil.
Kian melajukan mobilnya pelan.
"Kenapa kamu ingin membahas dia?" tanya Kian sambil memperhatikan raut muka Mega.
"E... itu, aku ingin tahu saja,"
"Aku jarang sekali bicara dengannya. Semenjak suaminya meninggal tante Sendy sudah lama tinggal dengan keluargaku."
Pembicaraan mereka tak terasa sampai tiba di rumah.
Kian turun lebih dulu dan bermaksud membukakan pintu untuk Mega. Tapi keburu Mega sudah keluar duluan.
"Apa?" Mega mengangkat kepala nya.
"Eh, enggak, ayo kita ke dalam!" Kian sontak menggandeng tangan Mega.
"Eh, apaan sih, lepasin tanganku!" pekik Mega sambil menepuk kasar tangan Kian.
Kian tak merespon dan terus saja menyeret Mega masuk ke dalam.
Ayu sudah menunggu kedatangannya di ambang pintu, dari pancaran wajah nya terlihat jelas kalau dia sangat bahagia.
Ayu langsung memeluk Mega dan mengajaknya ke ruang keluarga. Raditya untungnya sedang tak ada di rumah, jadi dapat dipastikan kondisi aman. Mereka berbincang - bincang membahas seputar kegiatan amal bakti pagi tadi.
Bik Asih baru selesai menyirami tanaman dan baru akan membuatkan minuman, saat akan memasuki rumah langkahnya bersamaan dengan kedatangan Sendy.
Sendy pulang dengan seulas senyum. "Wah, ada tamu rupanya, kebetulan tadi aku beli jeruk peras, cuaca panas seperti ini sangat cocok minum yang dingin - dingin. Sebentar ya aku buatkan dulu, ayo Bik Asih !"
"Iya Mbak!" bik Asih mengekor.
Mega menangkap keanehan dari Sendy. Selama bekerja ia tak pernah tahu Sendy bersikap baik seperti barusan. Mega permisi izin ke kamar mandi. Ia mengintip Sendy menaburkan sesuatu pada gelas.
__ADS_1
Mega akan membongkar kedok Sendy.