
"Lepaskan tangan gue, brengsek Lo!" umpat Kikan sambil meringis menahan sakit. Mega begitu kuat memelintir tangannya ke belakang punggung.
Mega mendorong tubuh Kikan dan melepaskan tangannya hingga dia terhuyung dan hampir saja jatuh kalau saja Kian tak menahannya.
Kian memegang bahu Kikan. Kikan menoleh, "Kian, Lo pasti dateng buat nolongin gue dari cewek gila ini kan'?" Senyum Kikan mengembang seolah rasa sakit tiada terasa saat melihat Kian menolongnya.
Kian tak langsung menjawab, ia menegakkan tubuh Kikan hingga berdiri sempurna. Kian menatap penuh kebencian, dendam lama terekam kembali dalam ingatan. "Jangan geer Lo, gue datang buat jemput Mega!" Tangan Kian terulur menarik lengan Mega pergi menjauh.
"Tapi Kian," Kikan menahan langkah Kian.
Kian menepis tangan Kikan lalu berhenti melangkah. Kian menunjuk ke arah wajahnya. "Udah deh, urus saja selingkuhan Lo dan berhenti buat ganggu hidup gue. Kita sudah tak ada hubungan apa pun lagi."
Satu bulan yang lalu sebelum menyatakan putus, Kian melihat Kikan duduk berduaan layaknya orang pacaran dengan kakak tirinya. Dan tentu hal yang sangat Kian benci adalah kebohongan dan pengkhianatan. Terlebih yang dilakukan oleh gadis yang selama ini menjadi pacarnya. Kian memergoki mereka dan langsung memutus hubungan secara sepihak.
Kikan tetap tidak terima diputus secara sepihak. Ia berusaha menjelaskan tapi Kian tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi.
Kian menarik tangan Mega. Mega menurut saja saat Kian menuntunnya masuk ke dalam mobil. Entah mengapa tak ada kata penolakan dari gadis itu.
Saat mobil melaju Mega membuka obrolan. "Dia cewek kamu?" Mega menatap Kian.
"Lebih tepatnya mantan." sahut Kian sedikit jutek. Sorot matanya menatap lurus badan jalan.
"Oh," bibir Mega membulat. Dia tak perlu bertanya banyak hal lagi karena ini bukanlah urusannya.
"Lo enggak diapa - apain kan sama dia?" tanya Kian setelah keheningan terjadi beberapa saat. Kian menoleh ke arah Mega, ekspresi kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Aku baik." sahut Mega singkat sambil membuang muka ke arah samping.
Kian mengganguk samar. "Aksi Lo keren, gue suka gaya Lo yang nggak mudah ditindas dan bisa membela diri. Beda banget gaya Lo yang cupu abis saat SMA dulu. Jika Kikan menindas mu lagi, gue dukung Lo buat bertindak semau Lo, sekali - kali cewek sombong kayak dia perlu diberi pelajaran. Tidak ada sebelumnya mahasiswa lain yang berani terhadapnya." Kian menyanjung Mega.
"Kamu memperhatikanku?" Mega memindai penglihatannya menelisik Kian. Sebelumnya dia tak pernah mendapatkan sanjungan seperti ini dari seorang pria, apalagi pria yang tampan plus kharismatik seperti Kian ini.
"Ya nggak juga, gue suka jahilin Lo, apalagi saat lihat Lo nangis, rasanya puas banget!" Tentu saja Kian berkata jujur dengan ucapannya, karena dia sudah merasa nyaman dengan gadis yang sudah berubah menjadi kuat ini.
"Gila ya nih cowok, suka banget lihat orang lain sengsara. Tapi, aku pastikan kamu tidak akan pernah lihat aku menangis lagi." Mega memberi penegasan agar Kian tak meremehkan dia lagi.
Tawa Kian pecah, "Sorry, gue nggak sejagat yang Lo kira kok!"
Citt ....
Kian mendadak mengerem mobil nya hingga penumpang depannya terhuyung ke depan. Mega mengaduh, kepala nya terbentur dashboar.
"Aww!" Mega mengusap dahinya yang berdenyut.
__ADS_1
"Kita dalam masalah!" Kian memperhatikan sekelompok preman yang menghalangi jalannya.
"Turun Lo, atau gue paksa turun!" teriak salah satu preman itu sambil mengayunkan alat pemukul.
Kian dan Mega pun terpaksa turun. Mega merasakan aura negatif bakal menghampirinya. Ia mempersiapkan diri untuk menghadapi hal - hal yang tak terduga.
"Masalah Lo apa, gue nggak kenal sama Lo semua?" Kian menunjuk 4 orang asing satu persatu di depannya.
"Banyak omong Lo!" salah satu mengayunkan tangan memberi kode untuk menyerang Kian.
Kian mendorong Mega agar menjauh. Kian melawan mereka. Baku hantam pun terjadi juga. Para preman tak membawa senjata tajam, hanya pemukul kayu yang mereka gunakan.
Pertarungan sengit itu membuat Kian kewalahan menghadapi mereka. Nafas Kian memburu tak beraturan. Kepala nya pun menjadi sasaran. Darah segar mengalir di atas dahinya.
Mega tak tinggal diam setelah melihat Kian tak kuat lagi melawan mereka. Saat salah satu para preman mendekati Kian untuk menyerang lagi, Mega dengan satu tendangan berhasil memukul mundur preman itu.
"Sial Lo, Lo cari mati hah!" preman itu marah dan mulai menyerang Mega.
Mega mengambil ancang - ancang dan mulai melawan.
Kian tercengang seketika, gadis yang selalu ia panggil jelek itu ternyata bisa bela diri juga. Kian tak bisa membiarkan gadis itu bertarung sendiri. Sebagai pria ia harus bisa melindungi wanita, bukan malah sebaliknya.
Kian mengumpulkan sisa tenaganya dan berlari ke arah Mega.
Mega dan Kian berada di tengah - tengah para preman.
"Nggak juga." sahut Mega sambil tersenyum tipis.
"Lo sebaiknya menyingkir aja!" ucap Kian serius dan tak mau Mega terluka.
"Kalau kamu bonyok, aku juga bonyok." sahut Mega dan langsung melawan ketika para preman menyerang.
Pertempuran sengit pun berlangsung selama setengah jam.
Sebuah mobil merah datang dan berhenti. Penumpangnya adalah Aris, Beni dan Liam. Mereka turun dari mobil dan langsung ikut menyerang.
Mega dan yang lainnya berhasil memukul mundur mereka.
"Kamu nggak apa-apa kan, Ga?" tanya Liam sambil membenahi anak rambut yang menutupi pipi mulusnya.
"Aku baik. Terimakasih sudah mau datang." ujar Mega sambil memperhatikan kondisi Kian.
"Trims ya, kok kalian tahu gue dalam masalah?" Kian membenahi lengan kemejanya bertanya pada Aris.
__ADS_1
"Mega yang menghubungi kita dan kasih tahu Lo dalam masalah." sahut Aris.
Kian menoleh ke arah Mega yang sedang bersama Liam. Kian tak rela jika wanita nya bersama pria lain. Hatinya terasa sakit. Kian menghampiri Mega.
"Ada yang terluka?" Kian menelisik keadaan Mega, tampaknya gadis itu baik - baik saja.
"Aku nggak apa-apa kok." Mega melihat dahi Kian berdarah. "Kamu terluka?"
Kian meraba dahinya yang terasa perih.
Mega membuka retsleting tas dan mengeluarkan plester. Di dalam tasnya ia selalu membawa peralatan PPPK. Membuka plester dan menempelkan secara perlahan di bagian yang terluka.
Kian mendesis perih. Mega meniupnya pelan. Kedua mata mereka saling beradu. Mega merasakan hembusan hangat menerpa wajah nya. Mega mengerjapkan mata dan segera menurun kan tangannya. "Kita pulang yuk, kamu masih bisa bawa mobil kan?"
Kian pamit pada semua teman - temanya dan mengajak Mega pulang. Liam masih merasa enggan berpisah dengan Mega, apalagi dia baru saja melihat kedekatan Mega terhadap Kian.
Kian mengantar Mega hingga sampai ke rumah.
"Ga, trims ya udah bantu in gue!" ujar Kian ketika Mega akan turun.
"Santai saja."
Mega hendak turun, terasa tangannya di tarik dan...
Cup.
Satu kecupan mendarat ringan di atas dahinya. Entah mengapa Mega tak menolak atau memberontak.
"Hati-hati!"
...****************...
Keesokan harinya saat Mega bekerja di rumah Nyonya Ayu Raditya, Sendy yang tidak lain adalah adik ipar menyelinap masuk ke dapur. Mega tak mencurigai apa pun gerak geriknya dan melanjutkan tugasnya menyetrika.
Nyonya Ayu tiba - tiba kejang dan pingsan setelah menyantap sarapannya. Tuan Raditya kaget dan segera membawa Ayu ke rumah sakit.
Dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya dan menerangkan kalau istrinya keracunan makanan. Untung saja racun yang masuk ke dalam tubuhnya sedikit dan bisa segera diatasi.
"Pasti pembantu baru itu tidak higienis saat mengolah makanan, hingga menyebabkan kak Ayu keracunan." Sendy menuding Mega tanpa bukti.
Mega tak berani membangkang karena ia tak punya bukti yang kuat. Untuk sementara ia mengalah dan memilih mengundurkan diri dari pekerjaan menjadi pembantu.
Tapi dikemudian hari nanti Mega berjanji dalam hati akan membuka topeng Sendy yang sebenarnya.
__ADS_1
Mega pergi tanpa sepengetahuan Kian.
Saat melintasi sebuah salon kecantikan yang cukup ramai pengunjungnya, hati Mega tergerak untuk masuk dan ingin mencari pekerjaan di sana.