Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Setengah Milyar?


__ADS_3

"Katakan, ada hal penting apa yang ingin Lo sampaikan ke gue!" ujar Kikan judes, setelah mendapat panggilan dari seseorang yang menyangkut hubungannya dengan Kian, Kikan bergegas datang ke cafe.


"Sabar, kita santai saja dulu!" Loli mengambil minumannya.


Sasa dan Loli yang menghubungi Kikan tadi, mereka berdua sengaja ketemuan dan ingin mengajak bergabung.


"Gue tahu Lo sangat menyukai Kian. Dengan kita bekerja sama pasti akan membuahkan hasil yang maksimal." Sasa memulai rencananya.


"Maksud Lo bekerja sama apa?" Kikan tak tahu apa rencananya mereka.


"Begini, gue tahu Lo nggak suka kan dengan si jelek Mega, begitu pula dengan kami. Meski kami hanya saudara tiri tapi keberadaan dia sangat mempengaruhi kehidupan kami. Jadi, jika kita berhasil menyingkirkan Mega otomatis Lo dapat dengan mudah memiliki Kian," Sasa mencoba menghasut.


"Perubahan pada si jelek yang menjadi sangat cantik lah yang membuat Kian makin dekat dengannya. Gue rasa Lo nggak akan betah jika melihat mereka begitu dekat apalagi bermesraan," imbuh Loli.


"Saat si jelek waktu itu dilarikan ke rumah sakit, Kian merelakan dirinya untuk menggendong. Kalau aku jadi pacar Kian sudah aku habisi si jelek itu." Sasa memanasi Kikan.


Kikan dibuat panas dalam mendengar cerita ini, apalagi faktanya mereka berdua mengaku sudah pacaran.


"Gue punya rencana buat si jelek itu biar Kian menjauhinya." Sasa mengeluarkan sesuatu dari dalam keresek.


Kikan memperhatikan apa yang dikeluarkan Sasa.


"Botol apa itu?" tanya Kikan setelah tau itu hanya sebuah botol.


"Ini air keras. Jika air keras ini kita siram ke wajah si jelek, wajahnya akan terbakar dan melepuh. Dia akan menjadi semakin jelek." terang Sasa memulai rencana jahatnya.


Kikan manggut - manggut mendengar penjelasan Sasa, sepertinya dia mulai terpengaruh.


"Terus yang jadi masalahnya, siapa yang akan melakukan tugas ini?" Loli berniat menyudutkan Kikan. Sasa menatap Kikan.


"Kalau gue yang melakukannya sudah pasti si jelek itu tahu duluan." Sasa yakin Kikan mau melakukannya.


" Kalau kalian nggak berani maju, sini biar gue!" Kikan mengambil botol itu dari tangan Sasa.


Sasa tersenyum puas ke arah Loli, hasutannya berhasil. "Gue nggak mungkin merelakan Kian jatuh ke tangan Lo, Kikan. Gue bakal jadiin Lo sebagai kambing hitam."


......................


Seharian ini Mega sangat sibuk di salon, sementara mister Jo sedang ada urusan di luar kota bersama Monalisa. Di salon CANTIKA kedatangan seorang tamu, paras nan cantik dan elegan membuat Mega kagum padanya.


"Nona, silahkan, mau di make up seperti apa?" Mega menepuk kursi yang sedikit berdebu dan mempersilahkan pelanggan pertamanya itu untuk duduk.


"Aku dengar dari publik kamu sangat ahli bermake up. Aku tertarik dan ingin bertemu langsung denganmu! " ujar wanita yang memiliki tahi lalat di dagu. Namanya Adel Tan yang tidak lain adalah ibunya Liam.


"Nona terlalu berlebihan, saya hanya pegawai baru di sini." Mega merendah.


Adel bergumam dalam hati, anak dari mendiang sahabatnya yang selama ini ia cari akhirnya ditemukan. Adel mengeluarkan selembar foto usang dan memperlihatkan pada Mega.

__ADS_1


"Namamu Mega Elias kan putri tunggal dari pasangan Dewi Elias dan Satria Elias?" Adel yakin Mega anaknya karena wajahnya sangat mirip dengan Dewi.


"Benar, namaku Mega Elias, tapi ...."


Mega ragu untuk melanjutan kalimatnya. Semenjak bertransmigrasi ke tubuh gadis jelek ini ia tidak tahu pasti nama kandung kedua orang tuanya. Dari segi kemiripan wajah, dua orang yang ada di foto itu sangatlah mirip dengannya. Mega memandang foto itu dengan seksama. Entah mengapa air matanya menetes, Mega tak merasakan kalau dia akan menangis tapi sungguh, air matanya semakin mengucur deras membasahi kedua pipinya yang chabi.


Adel memahami perasaan Mega, wanita itu memeluk Mega untuk memberikan ketenangan.


Setelah suasana hatinya baik, Adel membuka mulutnya. "Aku tidak ingin dirias, kita bisa ngobrol di luar sana," pintanya.


Mega menghapus sisa air matanya sambil mengangguk.


Di depan salon CANTIKA ada tempat duduk dan disampingnya ada sebuah pohon yang rindang, mereka berdua duduk di sana.


Adel langsung menyampaikan maksud kedatangannya mencari Mega. Ia bercerita panjang lebar.


"Semua uang ini milikku?" Mega menatap tak percaya selembar kertas persegi panjang itu. Tertera nominal 500 juta di cek tersebut.


"Sudah lama aku mencari Dewi, uang itu adalah pinjaman yang ia berikan dulu saat aku dan keluargaku mengalami kesulitan perekonomian. Sekarang uang itu aku kembalikan padamu."


Mega masih tidak percaya dengan cek senilai setengah milyar itu. Dengan uang ia bisa memiliki segalanya. Ia tidak boleh gegabah menggunakan uang itu.


Setelah pertemuan singkat itu dengan Mega, Adel pun pergi.


Mega menyimpan cek itu. Tak menyangka tanpa menunggu harta warisan ayah nya Mega sudah kaya terlebih dulu.


......................


Ayu dan Raditya baru saja datang, mereka melihat koper tergeletak di ambang pintu rumahnya.


"Sore begini ada tamu, siapa ya ?" Ayu memasuki rumah dan tak melihat tamu pemilik koper tadi.


"Mungkin temannya Kian yang mau menginap," terka Raditya.


Bik Atun datang menyapa mereka.


"Kopernya nggak dibawa masuk sekalian Bik?"


"Nyonya, tadinya begitu tapi tadi bibi masih masak takut ditinggal hangus nantinya."


"Ngomong - ngomong temannya Kian siapa?" Raditya jarang sekali mendapati teman Kian yang menginap.


"Loh, Tuan dan Nyonya belum tahu siapa tamunya?"


Ayu dan Raditya kompak menggeleng.


"Ma, Pa!" seru seorang pria berjenggot tipis yang sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Ayu dan Raditya tak asing dengan suara itu seketika menoleh. "Egan?"


Egan Raditya adalah anak sulung mereka, jadi Egan itu kakaknya Kian. Egan melanjutkan S2 di Australia, dan setelah study nya selesai ia balik ke Jakarta.


Egan menghambur di pelukan Ayu bergantian Raditya. Sudah 3 tahun terakhir ini mereka tidak bertemu.


Ayu mengurai pelukan. "Bagaimana kabarmu, Egan?" Ayu mengusap sudut matanya yang sejak tadi berair, wanita itu sangat merindukan putra sulungnya.


"Aku baik, bagaimana dengan Mama?"


"Kamu tahu sendiri keadaan mama sekarang, sangat sehat !"


"Mama kamu sering jatuh sakit akhir - akhir ini." imbuh Raditya.


"Apa yang Mama pikirkan?"


"Sudahlah, itu tidak perlu dibahas sekarang, kamu baru datang pasti capek, mama akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Kamu mau makan apa?"


"Lontong sayur aja, sudah lama aku tak mencicipinya."


"Oke! Mana adikmu, kamu sudah bertemu dengannya?"


Egan mengangguk , "Sudah, tadi aku baru saja dari kamarnya."


Kian datang dari arah tangga. "Rupanya Kakak tidak pernah berubah, seleranya tetap saja sama meski berada di luar negeri."


Egan menggaruk tengkuk, malu rasanya.


Setelah serangkaian proses memasak yang tidak membutuhkan waktu yang singkat, keluarga Raditya menikmati makan malam. Selesai menyantap hidangan dengan menu lontong sayur, mereka bercengkrama di ruang keluarga.


"Kian bilang kamu hampir kecopetan pagi tadi, mengapa tidak menghubungi kami saja untuk menjemputmu di bandara?" Ayu membuka obrolan.


"Egan tidak mau merepotkan, kan niat Egan mau kasih kejutan untuk kalian!"


"Cewek loh yang nolongin Kakak!" Kian meledek Egan karena selama ini kakaknya itu belum punya pacar.


"Jadi, Egan ditolong oleh seorang cewek? Wah, bakal jadi cerita seru nih! Terus kalian berdua berkenalan, minta nomor nya tidak?" Ayu penasaran dengan cerita Egan.


"Apaan sih Ma, Egan kan jadi malu!"


Kian hendak beranjak dari duduknya.


"Mau kemana kamu?" Raditya ingin tahu kemana Kian pergi, jangan sampai menemui pacarnya lagi.


"Kian sedang ada janji, Pa,"


"Sama pacarmu yang tidak bermoral itu!"

__ADS_1


"Cukup Pa, Kian tidak mau Papa terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku." kemudian Kian pergi tak menghiraukan teriakan Raditya.


__ADS_2