Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Ancaman Kikan


__ADS_3

Tamparan keras yang dilakukan Sonya membuat Mega menoleh ke kanan. Mega menatap lantai rumah dengan mata yang hampir berkaca - kaca.


Baru saja Mega pulang dan sudah ada Sonya yang menanti kedatangannya. Rupanya Sonya sedang naik pitam begitu mendapat laporan dari Sasa mengenai sidang skripsi pagi tadi.


"Kurang ajar kamu ya, berani menyalin naskah skripsi anakku, dasar gadis jelek!" umpat Sonya dengan mata melotot.


Sasa tersenyum melihat Mega diperlakukan seperti itu dari balik pintu kamarnya yang sengaja ia buka sedikit.


Mega masih memegang pipinya lalu menoleh ke arah Sonya dan berkata dengan lantang.


"Sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan panggil aku jelek! Putrimu yang selama ini kamu banggakan, pantas mendapatkan balasan dari apa yang pernah ia lakukan selama ini." Mega terjeda sesaat lalu mengambil nafasnya dalam.


Sonya mengerutkan alisnya, mencerna apa yang maksudkan dari ucapan Mega itu.


Mega memulai kembali ucapannya. "Sasa sebenarnya bukanlah mahasiswi berprestasi di kelas, aku telah mengumpulkan banyak bukti kalau dia selalu menyontek setiap kali ulangan." Mega mengeluarkan kertas - kertas kecil dari dalam tas ranselnya.


Kertas - kertas itu ia temukan dalam laci meja Sasa di dalam kamarnya tempo lalu saat Mega mencari foundation miliknya yang baru saja ia beli. Mega tak menemukan apa yang ia cari, justru menemukan kejutan di kamar Sasa. Lalu Mega mengambil semua barang bukti yang berupa contekan itu.


"Aku juga bisa memanggil kan saksi jika skripsi yang dikerjakan Sasa bukanlah dari pemikirannya sendiri." kebetulan Mega tadi pulang bareng Kian dan Kian yang sejak tadi berada di luar mendengarkan semua pembicaraan itu mendorong pintu lalu masuk ke dalam.


"Yang dikatakan Mega itu benar Tante, sebenarnya Beni salah satu teman kami lah yang selama ini mengerjakan tugas skripsi Sasa." terang Kian, lalu Kian mengambil ponsel dan memanggil Beni.


Sonya semakin tidak mengerti, siapa Beni dan apa motifnya mau mengerjakan tugas Sasa?


Sasa yang menyembunyikan diri di balik tembok kamarnya mendengar jelas nama Beni di sebut, wajahnya berubah pucat. Sasa menggigit kuku jemarinya.


"Hallo, Ben!" panggil Kian setelah saluran ponselnya terhubung. "Lo sekarang bisa bicara dengan jujur dengan tante Sonya, kalau Lo memang benar yang di suruh Sasa untuk membuat naskah skripsinya." Kian menyodorkan ponsel ke arah Sonya.


Sonya menerima dengan ragu, hati kecilnya tak percaya jika putri sulungnya melakukan kecurangan.


Sebelumnya ponsel Kian tadi sudah di load speaker jadi semua orang bisa mendengar dengan jelas suara Beni.


"Katakan, apa benar putriku Sasa telah meminta bantuanmu untuk mengerjakan skripsinya?" tanya Sonya dengan bibir bergetar.


Beni terdiam sejenak membuat semua orang saling lempar pandang.


Sementara Sasa ingin keluar dan merebut ponsel itu tapi tiba - tiba saja ponselnya berdering. Sasa terkejut mendengarnya dan ragu untuk mengangkat ponsel itu.


Sedetik kemudian Beni bicara, "Iya, tante. Sasa membayar saya untuk mengerjakan naskah skripsinya. Karena Sasa belum melunasi pembayaran yang ia janjikan kepada saya, maka saya memberikan soft kopi pada Mega." terang Beni.


Mendengar keterangan Beni membuat Sonya merasa sesak dadanya, Kian mengambil ponselnya dan Mega menyangga tubuh Sonya.

__ADS_1


"Mama nggak apa - apa kan?" tanya Mega khawatir.


Sonya berusaha menata nafasnya.


.


Sasa mendengar ponselnya berdering lagi. Sasa geregetan lalu mengangkat ponselnya.


"Hallo dengan saudara Sasa Elias?" tanya seorang pria dengan suara berat.


"Siapa kamu dan bagaimana kamu tahu namaku?" tanya Sasa gugup.


"Kami dari pihak polisi, saudara Kikan ingin bicara dengan Anda."


Mendengar nama Kikan, sejenak nafas Sasa tercekat.


Suara Kikan terdengar memanggil namanya.


"Iya, Kikan, Lo baik - baik aja kan dipenjara?" tanya Sasa tergugu.


Dari arah seberang Kikan tertawa renyah, "Lo enak - enak di luar sana rupanya, jangan kan menanyakan kabar gue menjenguk saja Lo tak mau,"


"Kikan, gue sedang sibuk dengan sidang skripsi, hingga lupa sama Lo."


"Apa maksud Lo, Kikan, Lo tidak punya bukti untuk melibatkan gue dalam masalah Lo!"


"Masalah gue? Tidak, ini masalah kita, bebas kan gue dari penjara atau Lo yang bakal gue seret untuk menggantikan gue."


Sasa tak ingin mendengar ucapan Kikan lagi, Sasa menutup panggilan.


Detak jantung Sasa berpacu lebih cepat, Sasa mendengar keributan di luar. Sasa segera ke luar dan menghambur ke arah Sonya.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Sasa panik.


Sonya menoleh dan menatap Sasa. "Mama pikir kamu anak paling pintar di sekolah, ternyata hingga kamu kuliah saat ini kepintaran kamu itu palsu. Mama kecewa sama kamu." Sonya terisak.


"Maaf kan Sasa Ma!"


Loli yang sejak tadi berada di kamar baru terbangun dan keluar kamar. Ia bergegas menghambur ke arah Sonya.


"Ada apa Kak, mengapa mama seperti ini?" tanya Loli.

__ADS_1


Mega tadi pergi ke dapur untuk membuat teh hangat, ia kembali dan menyodorkan ke arah Loli.


"Mama begini pasti karena Lo kan!" sarkas Loli begitu Mega datang.


Mega menunjukkan jari ke arah Sasa. "Enak aja main nuduh orang sembarang. Tuh, kakakmu!"


Mega mengajak Kian pergi menjauh ke luar rumah.


"Kian, sekali lagi aku ucapkan terimakasih ya atas apa yang kamu lakukan hari ini, jika saja Beni nggak kasih tahu kamu, mungkin rahasia besar ini tidak akan terbongkar."


"Santai aja, Ga, aku laku in ini semua karena kan kamu pacar aku, jadi nggak usah lebai gitu," Kian mencolek pipi Mega dan hendak menyosor pipi.


"Apa, kamu mau ngerasain bogem aku!" ancam Mega.


Kian melambaikan tangan. "Enggak Kok!"


......................


"Ma, Mama nggak marah kan sama aku?" Sasa memelas di hadapan Sonya.


Sonya berpikir jika Sasa memang tidak terlalu pintar itu karena faktor keturunan dari sang ayah, suami Sonya sebelum ayah Mega.


Sonya memaklumi itu dan memaafkan Sasa.


"Mama sudah tidak marah lagi padamu, tapi mengapa wajahmu tetap cemberut?"


Sasa tak bisa menyimpan rahasia itu sendiri, jadi ia menceritakan tentang Kikan.


"Kikan tadi menelponku dan meminta aku untuk membebaskan dirinya, aku tidak bisa Ma, dan aku tidak mau masuk penjara."


"Kamu bilang kamu telah menghilangkan sidik jarimu, jadi untuk apa khawatir. Kikan tidak akan bisa melawan mu." Sonya menenangkan.


"Mama benar."


...****************...


Hari Minggu pagi ini suasana begitu cerah, banyak orang sedang joging atau sekedar bersepeda saja di taman kota.


Egan terbangun dari tidurnya satu jam yang lalu, setelah mandi dan minum secangkir kopi buatan bik Darmi, ia keluar rumah untuk joging. Rutinitas yang selama ini ia lakoni ketika berada di luar negeri.


Sementara saudara mudanya, Kian masih asyik dengan mimpi indahnya.

__ADS_1


Egan berjalan - jalan mengitari taman. Ia tak sengaja menabrak seseorang.


"Kamu!"


__ADS_2