Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Salah Memilih Lawan


__ADS_3

Sonya mengantar kedua putrinya ke rumah sakit untuk berobat. Dokter bilang mereka alergi bedak yang sudah kadaluwarsa.


Selesai berobat dari dokter Sasa menjadi berpikir bagaimana bisa Mega pergi ke kampus dalam keadaan baik - baik saja sementara dirinya gatal - gatal.


"Pasti ini ada yang salah Ma, bagaimana si jelek itu tahu kalau make up nya aku taburi bubuk gatal, dan malah aku yang kena,"


Sonya tampak berpikir juga, "Pasti saat kalian berdua masuk ke kamar dia, dia tahu apa yang kalian lakukan dan segera menukar bedak dengan milik kalian."


Sasa dan Loli terlihat apes hari ini niatnya mengerjai Mega malah diri mereka yang terjebak alergi. Wajah mereka masih memerah tapi sudah tidak terasa gatal lagi. Kalau pun pergi ke kampus dengan keadaan seperti itu sudah jelas mereka menjadi bahan lelucon.


"Lakukan sesuatu Ma untuk membalas perbuatan Mega pada kami!" rengek Loli.


"Tenang Sayang, mama sendiri juga berpikir bagaimana bisa mengerjai anak sialan itu. Sekarang kalian berdua istirahat dan jangan banyak berpikir dulu, wajah cantik kalian harus segera kembali karena itu adalah masa depan kalian!"


Sonya ke luar kamar dan terlihat sibuk dengan ponselnya.


Sementara Mega di kampus tengah asyik mengobrol dengan Rena.


"Mungkin kalau pak Teguh jadi mahasiswa lagi, hanya dia seorang yang bakal dapat nilai tertinggi. Semua soal sulit bagiku, dari 15 poin aku hanya bisa mengerjakan 3 saja." keluh Rena sambil menjejalkan makanan ke mulutnya.


"Eum, aku bisa mengajarimu jika kamu mau," tawar Mega.


Selain pintar merias dan bisa TIK, Mega juga menyukai mata kuliah statistik. Di kehidupan dulu dia adalah bintang kampus.


Rena seolah tak percaya dengan ucapan Mega barusan dan mengejek. "Mau mengajariku?"


Mega mengangguk.


Suara gelak tawa ke luar dari mulut Rena, bahkan ia tersedak.


Tangan Mega terulur menyodorkan gelas.


Rena menerima dan meneguknya setengah gelas.


"Aku masih ragu dengan kemampuanmu bahkan selalu di bawah Sasa,"


Mega mengabaikan saja ucapan sahabatnya itu. Kemudian ia menoleh ke arah mahasiswa yang berkerumun di sebelah selatan kantin.


Ternyata pak Teguh menempel hasil ulangan tadi di depan kelas.


Mega baru saja mau menyendokkan makanan ke dalam mulutnya tapi Rena menarik paksa tangannya. Mega tak jadi makan dan mengikuti Rena ke kelas.


Semua mata menatap aneh ke arah Mega, seolah masih tak percaya dengan perubahan drastis yang dialami si jelek.


Bola mata Rena juga membulat setelah tahu nilai yang tertinggi di peroleh oleh Mega.

__ADS_1


"Gila, Ga, kamu pemecah rekor di semester ini!" Rena tampak senang memiliki sahabat yang ternyata pintar juga.


Mega hanya tersenyum tipis. Keterampilan belajar di dunia lama ternyata membawa efek di dunia baru ini.


"Selamat ya, loe dapat nilai 100!" Suara pria yang akrab itu terdengar dari arah belakangnya.


Mega dan Rena kompak menoleh. Tangan Kian terulur memberi selamat. Namun Mega tak kunjung menjabat tangan kekar itu.


"Emang Mega sahabat aku yang terbaik!" Rena menyambar tangan Kian sengaja pengganti Mega.


"Apaan sih lo, lepasin tangan gue, Gendut!" pekik Kian marah.


Rena segera melepaskan tangannya.


Liam datang dengan wajah ramah nya. "Nilai 100 adalah nilai sempurna yang jarang sekali diperoleh seseorang, dan kini aku percaya selain kamu punya bakat terpendam kamu juga pintar. Selamat ya!" Liam mengulurkan tangan sama halnya yang dilakukan Kian tadi.


"Ah, kamu terlalu memuji!" Mega menerima uluran tangan Liam. Dan tentu saja membuat Kian cemburu.


"Lama amat jabatan tangannya." Kian melepas tangan mereka berdua.


Liam tak menyerah dan terus menyerang. "Lo udah makan, ke kantin yuk!"


"Belum. Ayo!" Mereka berjalan beriringan mengabaikan Kian.


Tentu saja Kian juga tak mau kalah, segera ia menyusul mereka.


Mega merasa aneh dengan ulah dua pria ini. "Aku udah pesan makan tadi." Mega memberi tahu, dia dan Rena duduk ke tempatnya semula.


Liam dan Kian saling pandang dan terpaksa duduk berjajar. Menikmati makan siang dengan suasana perang batin.


...****************...


"Kikan, lo bener nggak mau bareng kita masuk ke kelas?" tanya Emi.


"Nggak, gue lagi nungguin Kian!"


"Baiklah, gue sama Tera masuk dulu!" Emi dan Tera pergi.


Kikan Soraya adalah anak pemilik kampus, selain royal ia juga suka menindas para gadis yang mencoba mendekati Kian.


Kian dan Kikan sudah lama putus, Kikan ketahuan selingkuh dengan kakaknya.


Kikan menunggu di halaman kampus, usahanya membuahkan hasil. Mobil Kian terlihat memasuki area kampus lalu berhenti. Kian keluar lebih dulu dan ia memutari mobilnya untuk membukakan pintu.


Seorang gadis dengan sepatu pumps turun dari jok depan. Rambutnya yang panjang terlihat terurai tertiup angin pagi.

__ADS_1


Kikan menganga tak percaya jika ada gadis lain yang berani dekat dengan mantan pacarnya itu. Sejauh ini belum pernah ada gadis yang berani melawannya. Yah tentu saja kekuasaan ayah nya yang membuat dia seolah berkuasa juga.


Kikan mengamati gadis itu, sebelumnya dia tak pernah tahu di kampus ini ada gadis seperti dia.


Kikan hendak mengejar Kian, namun mereka terlanjur menjauh memasuki kelas.


Kikan mencari informasi siapa gadis tadi. Dia memasuki ruangan dosen dan meminjam buku catatan.


Setelah lama ia cari tapi tak membuahkan hasil. Kikan pergi dengan perasaan kecewa. Ia meminta bantuan Emi dan Tera untuk menyelidiki gadis yang bersama Kian pagi tadi.


"Eum, kamu pasti kaget setelah lihat foto ini!" Tera menyodorkan sebuah foto ke arah Kikan.


Kikan terperangah tak percaya jika gadis yang bersama Kian adalah dulunya gadis jelek.


"Ini tak bisa dibiarkan, aku harus memberi dia pelajaran. Sepertinya gadis jelek itu lupa asalnya dari mana." Kikan berjalan menjauh dan diikuti para kacung.


Bubaran kampus terlihat beberapa mahasiswa masih berada di dalam kelas.


Liam menawarkan diri mengantar Mega pulang tapi Kian selalu bisa merebut Mega darinya.


"Lo bareng gue, mama mau pijatan lo lagi, ketagihan katanya." Kian menarik paksa tangan Mega.


"Lepaskan, aku bisa berjalan sendiri!"


"Oke, lo tunggu di mobil, ntar gue nyusul!"


Mega merasa jengah juga dengan perintah Kian. Tapi langkahnya terpaksa membawa dirinya mengikuti kemauan Kian yang selalu membawa nama mamanya.


Mega sedang bermain dengan ponselnya tiba - tiba saja suara teriakan membuatnya menoleh.


"Heh, jelek, sejak kapan lo berani dekat sama cowok gue!" Kikan menarik bahu Mega yang membuat Mega berbalik.


"Cowok kamu? Siapa?" tanya Mega yang memang benar tak tahu.


"Alah, pura - pura bego lagi! Ya tentu saja Kian, Jelek," Kikan mendorong kepala Mega dengan ujung jarinya.


Mega menepis cepat tangan Kikan. "Oh, Kian, ambil saja dia, aku juga nggak naksir sama cowok yang sok tampan itu!"


"Munafik banget ya, lalu ngapain loe nungguin dia di sini!"


Mega cuek tak membalas perkataan Kikan.


Kikan marah dan menarik rambut Mega.


Mega tak terima tangannya bergerak cepat memelintir tangan Kikan.

__ADS_1


"Kamu salah milih lawan Nona!"


Kikan mengaduh kesakitan.


__ADS_2