
"Loh ada Non Mega rupanya!" sapa Bik Asih yang baru pulang belanja. Bik Asih menaruh tas belanjaan lalu menata nafasnya. Tampaknya wanita tua itu sangat kelelahan.
Mega menoleh dan membalas sapaan bik Asih dengan ramah. "Iya, Bik Asih. Gimana kabar Bik Asih ?"
"Sehat Non Mega. Non Mega sendiri gimana kabarnya?"
"Seperti yang Bik Asih lihat, sehat juga."
"Sudah lama berdiri di sini, kenapa nggak langsung masuk saja,"
"Aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini Bik, tak enak juga. Bagaimana keadaan Kian sekarang ? Kata tante Ayu, dia sakit."
"Den Kian seperti anak kecil, sudah dua hari ini mogok makan. Makanya sakit. Dokter juga sudah memberinya obat. Dan sekarang sudah agak mendingan." terang Bik Asih.
"Mogok makan, kok bisa?" Mega terbelalak kaget.
"Bibik juga kurang tahu Non, Non Mega masuk saja dan lihat sendiri keadaan den Kian sekarang." Bik Asih terlihat lelah dan kesusahan membawa barang belanjaan.
Mega berjalan mendekati Bik Asih, "Sini Bik, biar aku bawakan tas belanjanya. Bibik buka pintu saja." Meraih gagang tas.
"Baiklah kalau itu mau mu, lengan bibik juga pegal - pegal." keluh Bik Asih seraya memukul - mukul lengannya, bebannya kini sedikit berkurang lalu berjalan menuju pintu disusul Mega.
"Silahkan masuk, Non! Nyonya Ayu pasti sangat senang melihat siapa yang datang." Bik Asih mendorong pintu.
.
Egan hendak menarik hendel pintu, tiba - tiba saja ponselnya berdering dan terpaksa Egan mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
Bik Asih dan Mega asyik mengobrol sambil berjalan memasuki rumah.
Egan memunggungi mereka berdua dan sedang sibuk mengobrol.
Setelah obrolannya selesai, Egan mematikan ponsel dan melihat wanita dengan rambut pendek berjalan beriringan dengan bik Asih menuju dapur.
Tak terlihat jelas wajahnya. Egan langsung menduga kalau itu pasti pacar Kian yang tak bermoral. Egan buru - buru mengejar ingin mencegah wanita itu untuk menemui Kian seperti permintaan Kian tadi.
Mega menoleh sehingga terlihat jelas wajahnya oleh Egan. Mega mengeluarkan barang belanjaan dari dalam tas.
Egan seketika menganga mulut nya lebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
"Mega!" ujar Egan lirih.
Egan lantas balik kanan ketika Mega menghadap ke arahnya.
Egan tak ingin terlihat oleh Mega.
"Oh, itu, bukan! Itu kakaknya den Kian, baru pulang dari luar negeri." terang Bik Asih sambil mengeluarkan isi tas belanjaan, Mega mengangguk paham.
Egan lantas menutup wajahnya dengan jemarinya dan berjalan setengah lari menuju kamarnya.
Mega memperhatikan punggung Egan yang menjauh, sepertinya dia tak asing dengan penampilan pria itu.
Egan memasuki kamarnya dan mulai merutuki apa yang sudah ia alami kebersamaannya dengan Mega.
"Jadi, Kian marah sama cowok yang bersama Mega, dan cowok itu tidak lain adalah aku. Kian belum tahu kalau pria itu adalah aku. Bagaimana jika ia tahu? Pasti ia sangat marah besar dan membenciku. Dulu aku merebut Kikan darinya dan sekarang aku mendekati Mega. Argh, itu tidak benar. Kian sudah cukup mengalah denganku. Dan aku tak boleh egois, saatnya juga giliran aku yang mengalah."
__ADS_1
Pintu kamar Egan diketuk dari luar membuat Egan berjingkat kaget. "Siapa?" teriaknya.
"Aku Kak." sahut Kian.
Egan buru - buru membuka pintu. Ia menyembunyikan kecemasan yang menghantuinya.
"Ada apa Kian?"
"Gimana, Kakak sudah bertemu dengan pacarku, berhasilkah mengusirnya?" tanya Kian memperhatikan raut muka Egan.
Egan terlihat sedang berpikir, "Maaf Kian, perutku mendadak mules tadi jadi, belum sempat bertemu dia." Egan beralasan palsu.
"Kak Egan, sakit perut, sudah minum obat? Aku punya obat diare."
Egan buru - buru melambaikan tangan. "Tidak perlu. Hanya mules saja, semalam kebanyakan makan sambal."
"Oh," mulut Kian membulat.
"Terus sekarang gimana, sudah baikan?" Kian memastikan keadaan Egan baik dan segera menemui Mega.
"Su-sudah." Egan tergagap.
"Aku tidak ingin bertemu Mega sekarang. Aku benci dia. Tolong, Kak Egan usir dia agar pergi!"
"Pacar kamu Mega namanya?" Egan ingin memastikan.
"Iya,"
__ADS_1
"Mati aku. Jika Mega sampai tahu kalau aku kakaknya Kian mau ditaruh di mana harga diriku," batin Egan.
Egan mencari ide agar Mega tak mengenalinya. Egan menyanggupi permintaan Kian. Kian pergi dari kamar Egan.