Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Episode 41


__ADS_3

"Kian, bangun!" Sentak Mega setengah kaget melihat Kian yang ternyata sudah tak sadar kan diri.


Tubuh Kian terlalu berat untuk Mega sangga. Mega melirik sofa yang hanya beberapa langkah dari ia berdiri. Dengan sekuat tenaganya ia menyeret beban berat itu ke arah sofa.


"Huf!" Mega bisa bernafas lega. Mega melihat bercak merah berada pada jaket Kian bagian lengan sebelah kanan.


"Darah?" gumamnya dan segera mengecek lengan Kian, Mega menemukan luka yang ternyata adalah bekas Kian tabrakan saat perjalanan ke rumah Mega tadi.


Bergidik ngeri Mega melihat itu. Darah itu akan melebar jika tak segera ditangani.


Meski Mega sedikit takut melihat luka, tapi hatinya tak tega membiarkan pria yang disukai kesakitan. Mega segera beranjak untuk mengambil kotak PPPK.


Kecemasan mulai menyergap hatinya. "Sebenarnya kamu kenapa?"


Mengingat kemarin Kian memutus hubungan secara sepihak dengannya dan pagi ini dikejutkan dengan kedatangan Kian.


Mega dengan telaten mengobati luka Kian dan membalutnya dengan perban.


Jam baru menunjuk pukul 7 pagi, kegaduhan pun mulai saat Loli dan Sasa ke luar kamar melihat Kian tidur pulas di samping Mega.


"Kian? Apa yang terjadi padanya ?" tanya Sasa setengah tak percaya Kian tidur di sini sepagi ini.


Mega menempelkan jari telunjuknya di depan bibir lalu mendesis. "Dia sepertinya terluka lalu pingsan."


Loli pun mendekat memastikan keadaan Kian. "Lengannya?"


Mega mengangguk paham sebelum Loli bertanya mengenai luka itu. "Aku baru saja membuka pintu dan Kian berdiri mematung di muka pintu, setelah dia berteriak memanggil namaku, dia pun ambruk tak sadarkan diri. Aku mengambil kesimpulan jika dia tengah mengalami kecelakan saat perjalanan ke sini, melihat lukanya yang masih basah."


"Jika dia mengalami kecelakan, lantas mengapa tak berobat ke rumah sakit dan malah memilih menemui Lo?" protes Sasa yang sebenarnya iri pada Mega.


Mega mengangkat bahunya tanda tak tahu.


Sonya datang mencari Mega, "Mega, minyak goreng sudah habis dan mama nggak punya uang lagi untuk beli!" teriaknya emosi. Semenjak semua aset keuangan berpindah ke tangan Mega, Sonya tak bisa banyak bergerak atau pun membeli ini dan itu. Loli pun baru saja kena PHK di tempatnya kerja karena sering datang terlambat.


Mega menoleh lalu beranjak setelah mendengar suara Sonya melengking. Sonya melihat ada Kian yang tidur di atas sofa dan dia tak bisa menahan untuk bertanya. Pertanyaan yang Sonya lontarkan dijawab langsung oleh Sasa dan Loli.


Mega kembali dengan segebok uang di tangan. Rasanya sudah cukup puas memberi pelajaran pada ketiga wanita yang mengaku keluarga itu.

__ADS_1


"Ini ada uang 10 juta. Pergunakan dengan baik dan jangan boros!" Mega menyerah kan uang itu pada Sonya.


Tak hanya Sonya yang mengembangkan senyum lebar, Sasa dan Loli pun berubah ijo kedua matanya. Sonya mengajak Loli dan Sasa pergi setelah menerima uang itu.


.


Hampir dua jam Kian pingsan lalu terbangun. Ia mendesis dan merasakan sakit di area lengan.


"Jangan banyak bergerak!" larang Mega yang sejak tadi menunggui Kian tidur. Ia sampai izin tak masuk kerja demi apa coba? Yah, tentu saja menunggui Kian sampai sadar.


"Mega, tanganku ...." Kian memegangi lengannya yang terbalut perban.


"Sepertinya kamu baru saja mengalami kecelakaan?"


Kian mengangguk. "Benar, aku ngebut tadi dan nggak sempat mengerem saat ada ibu - ibu nikung di depanku."


"Huf!" Mega mendesah, "Kenapa kamu ngebut?" Mega sudah tak sabar mendengar jawaban langsung dari Kian.


"Aku ingin bertemu denganmu sebelum terlambat. Aku ingin minta maaf padamu, Mega. Aku mengaku terlalu cemburu padamu hingga menonjolkan keegoisan dalam mengambil keputusan. Aku tak ingin putus denganmu. Maafkan aku Mega."


Kian susah payah menggapai tangan Mega dan berhasil menggenggam nya.


"Tolong, maafkan aku!"


Manik mata Mega tak lepas memandang tangannya yang kini berada dalam genggaman Kian. Hatinya berdesir. Sudah lama ia tak beginian.


"Iya, aku sudah memaafkan mu kok, bahkan sebelum kamu mengucapkannya."


"Benarkah? Terimakasih, Mega! Kedepannya aku nggak bakal cemburuan lagi. Karena aku percaya kalau hatimu memanglah hanya untukku."


Mega mengangguk samar, "Aku lega kita nggak jadi putus."


"Aku juga. Rasanya berat melepas seseorang yang sangat aku cintai."


"Saat kamu menyatakan hubungan kita berakhir kemarin, hatiku berdenyut sakit sekali hingga tembus ke ubun - ubun. Aku tak ingin mendengar ucapan seperti itu lagi. Sangat sakit jika aku kehilangan kamu."


"Sungguh? Jadi, kamu mulai menyukaiku?"

__ADS_1


Mega mengangguk malu.


"Aku tak percaya. Coba ucapkan itu!" goda Kian.


Mega menarik tangannya dan berubah kecut sangking malunya.


"Eum, apa yang membuatmu bisa memilih untuk kembali denganku?" Mega mengubah pembahasan. Mega penasaran dengan kedatangan Kian kemari.


"I-itu hanya salah paham saja." Kian sampai menahan rasa malunya, jika ia bercerita kalau kesalahan pahaman ini menyangkut kakaknya yang tidak lain adalah Egan. Kian lah yang mendorong Egan untuk menyatakan rasa hatinya pada gadis yang ia sukai. Jika saja Kian tahu bahwa gadis itu adalah Mega, sudah pasti Kian menolak keras perkenalan Egan dengan gadis yang ia sukai.


"Aku tidak yakin kamu bisa percaya begitu saja, pasti ada bukti kuat yang membetulkan kebenaranku. Katakan bagaimana kamu bisa percaya bahwa pria itu memang bukan siapa - siapa ku?"


"I-itu...."


"Sudahlah Mega, jangan membahas itu lagi! Sekarang aku sudah puas bisa mendengar pengungkapan secara jujur darimu." Kian sangat malu dan tak ingin membicarakan masalah itu yang pada dasarnya dialah yang bersalah karena terus mendesak Egan agar mau menembak Mega.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita makan!" ajak Mega seraya berdiri.


"Makan? Dimana?"


"Yah, tentu saja di rumahku." saat Kian terlelap tadi, Mega memasak beberapa menu. Kebetulan stock minyak goreng cukup untuk ia memasak nasi goreng, telur balado dan bihun.


Kian memegangi perut nya yang terasa perih. "Ayo,"


Saat berada di meja makan. Kian merasa kesulitan saat akan menyendok nasi.


"Tahan!" pekik Mega dan segera beranjak dari kursi mendekat ke arah Kian.


"Sini, biar aku bantu!" Mega mengambil alih sendok di tangan Kian.


"Mega?"


"Kenapa, tangan kamu pasti sakit, jadi biarkan aku menyuapimu."


"Mega, kamu emang calon istri yang baik."


"Apaan sih,"

__ADS_1


__ADS_2