
Sasa menatap lekat orang tua berkacamata yang sedang memandangnya curiga.
Sasa tergugu dengan pertanyaan pak Teguh, "Naskah saya kenapa Pak?" tanyanya hati - hati.
"Kamu mau membodohi saya, hah!" Sentak pak Teguh seraya memperlihatkan naskah Sasa.
Sasa merasa ada yang aneh, selama bimbingan dengan dosen lain ia tidak pernah melakukan kesalahan, tapi mengapa saat sidang justru skripsinya dipertanyakan.
Sasa terdiam tak mengerti sambil mengira - ngira apa yang salah darinya, baru kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Pak Teguh, memangnya ada yang salah dengan skripsi saya pak?" masih dengan nada yang sangat hati - hati.
"Naskah skripsi kamu sama persis dengan milik Mega Elias, itu artinya kamu mengkopi pekerjaan Mega dan saya sangat kecewa dengan apa yang telah kamu perbuat. Sekarang keluar dari ruangan saya. Jangan kembali sebelum menyelesaikan tugas akhir ini!" terang pak Teguh, beliau sangat marah dan mengecam Sasa agar tak berbuat curang lagi.
Bagai tersambar petir di siang bolong rasanya, Sasa tak mampu menahan air matanya seketika mendengar kenyataan jika skripsinya di tolak. Bagaimana ia bisa dituduh menipu, padahal jelas dia mengerjakan skripsi itu dengan sangat teliti.
Sasa merasa kesal lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan ujian.
Saudaranya Loli menyambut kakaknya dengan senyuman bahagia. Tapi ketika mendapati kakaknya menangis ekspresi Loli berubah. "Loh, Kak Sasa kenapa nangis? Dan bagaimana ujiannya?"
Sasa semakin mengencangkan tangisannya, "Gue gagal ujian!" teriak Sasa disela tangisannya.
Loli menenangkan Sasa dengan cara memeluknya lalu memapahnya menuju kantin. "Kok bisa Kak, gimana ceritanya?" tanya Loli begitu Sasa tenang.
"Pak Teguh nuduh gue ngopi skripsi punya si jelek Mega." terang Sasa.
"Loh, kok bisa gitu!"
"Gue juga nggak tahu, pasti si jelek yang ngakalin semua ini agar gue dapat masalah dari pak Teguh."
"Gue juga mikir kayak gitu, Kak! Tuh, si jelek ada di sebelah sana!" tunjuk Loli yang tanpa sengaja melihat Mega tengah menyantap makanan, duduk sendirian di pojok kantin.
Sasa mengepalkan tinju dan beranjak diikuti Loli menuju ke arah Mega.
Sasa sangat geram, sorotan matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa.
Sesampainya di meja Mega, tangan Sasa terangkat dengan segelas minuman yang ia ambil dari meja Mega. Menyiramkan minuman itu di atas kepala Mega.
Mega gelagapan dibuatnya.
__ADS_1
Aksi Sasa menyita perhatian seluruh penghuni kantin.
"Apaan sih kamu!" Sentak Mega tak suka dengan cara Sasa memperlakukan dirinya.
"Bagus ya, dasar gadis jelek! Gue tahu Lo kan yang sudah mengkopi naskah skripsi gue hingga gue gagal ujian hari ini."
Mega tersenyum miring, rasanya sangat puas membalas dendam. "Bagaimana rasanya, enak bukan? "
Sasa merasa jengkel melihat ekspresi Mega yang sengaja mengejeknya. Sasa sontak menarik rambut Mega. Mega tak tinggal diam dan membalas tarikan rambutnya. Terjadilah kericuhan di kantin.
Dari arah pintu menuju kantin, Liam melintas hendak memesan makanan dan melihat kericuhan itu. Liam mempercepat langkahnya lalu menghentikan aksi yang sangat kekanak - kanakan itu.
"Hentikan!" teriak Liam dan menarik Mega hingga jatuh dalam pelukannya.
"Lo jangan ikut campur urusan gue, minggir Lo Liam!" Sasa hendak menarik Mega tapi tangan Liam menangkisnya.
"Urusan Mega urusan gue juga!" ujar Liam.
"Liam, Lo kok malah dukung dia sih, gara - gara dia kakak gue gagal ujian tahu!" sarkas Loli, ia merasa panas juga melihat cara Liam melindungi Mega.
"Alah, gue nggak percaya jika Mega curang, pasti kalian berdua yang mulai duluan! Gue tahu Mega seperti apa." Liam membela Mega lalu mengajaknya pergi.
"Awas Lo jelek, gue bakal ngebalas ini semua, Lo nggak bakal bisa hidup tenang sebelum rasa sakit hati gue ilang!" Sasa sangat marah.
Liam melihat penampilan Mega yang berantakan. Liam melepas jaketnya dan mengenakan di bahu Mega. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya nya cemas.
"Iya, aku baik - baik saja, makasih ya!" sebenarnya Mega bisa saja tadi menghajar saudara tirinya itu, namun keburu Liam datang, Mega jadi sungkan.
Kini Liam dan Mega berada di tempat parkir. "Aku antar kamu pulang ya, kamu pasti kedinginan," tawar Liam ketika sampai di depan mobilnya.
"Eum, aku nggak enak sama kamu Am, aku merepotkan kamu terus." Mega ingin menolak tawaran Liam.
"Ah, enggak juga kok!"
Baru saja Liam mau membukakan pintu mobil, Kian datang dengan langkah buru - buru.
"Mega, kamu nggak apa-apa kan?" tangan Kian menyentuh bahu Mega. Liam melihat itu tak suka.
"Kian?"
__ADS_1
"Aku dengar dari Sesil dan Cila, Sasa menyerangmu."
"Iya, tidak ada masalah serius hanya salah paham saja."
Kian menatap Liam. "Gue yang antar Mega pulang."
Saat Kian menggandeng Mega pergi, Liam mencengkal tangan Mega untuk menghentikan langkahnya.
Mega menoleh ke arah tangannya. Demikian dengan Kian juga.
"Gue yang duluin nolongin Mega, jadi gue yang akan mengantar Mega pulang." sarkas Liam dengan sorotan mata tajam ke arah Kian.
Kian mendorong dada Liam dengan jari telunjuknya. "Apa hak Lo, gue lebih berhak. Mega pacar gue."
Liam tak percaya dengan ucapan Kian. Liam menoleh ke arah Mega lalu bertanya tentang kejujuran Kian yang selalu ia ucapkan itu.
"Ga, apa bener yang diucapkan Kian itu benar kalau kamu pacar nya Kian?"
Mega sempat terdiam, ingin berkata ya tapi ragu, dulu tak pernah mengakui kalau Kian adalah pacar kontraknya tapi ia harus segera bergegas pergi karena wajah nya terasa lengket bekas siraman minuman dari Sasa tadi jika tidak segera pergi wajahnya akan gatal - gatal.
"Iya," ucap Mega lirih pada akhirnya tapi tetap mampu didengar oleh Liam.
Kian melirik jaket yang dikenakan Mega. Kian melepasnya dan memberikan pada Liam. "Terimakasih Bro!"
Liam menerimanya dengan muka masam, tanpa sengaja sikap Mega menorehkan luka di hati.
Kian mengarahkan Mega menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Liam.
Mobil Kian kini sudah menjauh dari area kampus.
"Kamu kenapa, nggak suka kalau aku yang nganter pulang,"
"Liam dan kamu kan sahabat baik sejak SMA, tapi aku lihat tadi sikap kamu sepertinya berubah tidak seperti dulu,"
"Oh, jadi ini tentang Liam, seseorang itu pasti bisa berubah tergantung siapa yang mengajaknya. Jika saja kamu nggak kecentilan, mungkin aku bisa menjaga sikapku. Kamu kan tahu kalau aku sangat mencintaimu, Mega."
"Tapi tidak dengan begini caranya, An. Aku sudah pernah menegaskan kamu untuk tidak terlalu cemburu terhadap siapa pun pria yang dekat denganku. Aku dan Liam hanya berteman."
"Jika aku membiarkan kamu bersama pria lain, hati aku sakit Ga. Dan kamu seolah tak perduli dengan perasaanku."
__ADS_1
Setelah mendengarkan perkataan Kian yang terakhir itu, Mega tak lagi menjawab. Percuma meladeni pria kaku yang satu ini.