Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
Bab 35


__ADS_3

Kian penasaran kemana Ayu pergi dan ingin membuntuti Ayu. Kian yang pada dasarnya sudah mandi tapi hanya saja tidak berpenampilan rapi bergegas menyisir rambut dan mengenakan jaket. Keluar kamar menuju garasi, lalu mengambil helm dan kunci motor.


Kian mengeluarkan motor dari garasi, setelah mengenakan helm, ia memanasi mesin lalu bergegas membuntuti Ayu.


Terlihat Ayu sedang menghentikan taksi sekarang.


"Pak, kita ke kantor polisi terdekat sekarang!" ujar Ayu begitu masuk ke dalam taksi.


"Baik Bu." sahut si sopir lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju arah yang dimaksud Ayu.


Ayu tak tahu jika Kian mengikutinya.


Kian yang membuntuti dari arah belakang taksi sangat penasaran, "Sebenarnya mama mau kemana sih, kok pakai naik taksi segala, kan ada bang Asep di rumah." Gumam Kian sambil terus memantau dari arah belakang.


Rasa penasaran Kian terjawab sudah saat mobil taksi yang ia buntuti berhenti di depan kantor polisi.


"Ada urusan apa mama dengan polisi?" kemudian Kian mematikan mesin motor.


Ayu terlihat turun dari taksi dan bergegas memasuki kantor polisi.


Ingin masuk tapi takut jika kepergok Ayu. Jadi, Kian menunggu di luar sambil memantau saja.


Ayu sedikit ragu untuk menemui seseorang yang semalam sudah membuatnya penasaran dan sulit tidur.


Ayu diminta menunggu oleh polisi jaga, sementara polisi memanggil kan seseorang yang ingin ia kunjungi.


Tak lama kemudian polisi datang dengan seorang wanita cantik, namun agak tirus pipinya. Kondisi wanita itu sangat memprihatinkan semenjak masuk penjara. Makan hanya sedikit dan sedikit tidur juga, kebanyakan melamun dan tak pernah bicara sedikit pun.


"Saudara Ayu, ini saudara Sendy sudah datang!" ujar polisi memberi tahu Ayu karena Ayu sedang sibuk dengan ponsel di tangan.


Ayu yang sedang menunduk pun mendongak melihat siapa yang datang. Begitu tahu ia pun langsung berdiri kaget melihat sosok di depannya. Sendy berubah, tak terurus dan bahkan rambut nya yang hitam legam kini berubah kusut. Sungguh miris sekali berbeda saat dia bersolek.


"Sendy!" seru Ayu.


Sendy yang tadinya menatap kosong pun bereaksi melihat siapa yang menyebut namanya itu.


"Kak - Ayu?" ujar Sendy terbata.


Ayu merasa iba pada adik tirinya, dipeluknya kemudian diajaknya duduk.


"Sendy, kedatanganku kemari, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan secara langsung padamu." ujar Ayu to the poin.


Sendy seperti orang linglung saja, Ayu mengulangi kalimatnya lagi barulah Sendy bisa merespon.


"Sendy," Ayu mengambil tangan Sendy lalu menatapnya.


"Sebenarnya, sebenci apakah kamu padaku hingga kamu ingin sekali melenyapkan nyawaku?" Ayu yakin pasti ada kesalah pahaman yang perlu diluruskan.

__ADS_1


Sendy menatap Ayu juga, sensor - sensor otak nya mulai terhubung dan mengingat beberapa peristiwa yang ia alami terakhir ini.


Sebenarnya Sendy tak berniat ingin membunuh Ayu, hanya saja ambisi untuk mendapatkan kebahagiaan lama membuatnya terobsesi. Raditya sudah mengubur masa lalunya dengan Sendy dan hanya mengganggap ia seperti adiknya sendiri.


Sendy tak terima jika setiap perlakuannya selalu di tolak oleh Raditya hingga ia ingin menyingkirkan Ayu untuk selama - lamanya.


Begitu pula terhadap Kian, meski Sendy jarang bicara tapi banyak hal yang Sendy lakukan tanpa sepengetahuan Kian. Salah satu contohnya saat Kian sakit, Sendy tidak secara langsung merawat Kian. Melalui bik Asih lah, perhatiannya ia salurkan. Menitipkan puding susu buatannya, tapi tak ingin diketahui ialah yang membuatnya.


Sendy terdiam sejenak memikirkan itu, air matanya pun merembes membasahi pipi.


Ayu membujuknya agar tenang, "Sendy, aku tidak marah atas semua yang telah kamu lakukan padaku. Tapi, ku mohon beri aku satu alasan." Ayu mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Mas Raditya," ujar Sendy lirih di sela isak tangisnya.


Mata Ayu membola sepenuhnya, ia mengambil kesimpulan jika memang ada rahasia diantara mereka berdua.


"Ada apa dengan mas Radit?" tanya Ayu ingin mendengar kejelasan dari mulut Sendy sendiri.


Sendy masih terisak dan belum mau bercerita, sepertinya penjara bukanlah tempat yang tepat. Mungkin Sendy butuh seorang psikiater. Nanti Ayu akan membicarakan hal ini pada suaminya.


Polisi datang untuk menyampaikan kalau jam berkunjung habis.


"Sendy, aku pulang dulu. Jaga dirimu !" pamit Ayu.


Sendy menatap Ayu dengan tatapan sendu, rasanya ia ingin bicara banyak tapi entah mengapa semuanya terasa kelu, ia bingung harus bagaimana, jika kakak tirinya tahu siapa Kian sebenarnya pastilah ia akan hancur. Seharusnya ini bisa menjadi keuntungan bagi Sendy dengan begitu kan pasti Ayu akan sekarat dan perlahan mati. Tapi, entah mungkin rasa bersalah yang menyergap hatinya membuat ia berubah dan menyesal atas apa yang ia lakukan terakhir ini. Membunuh bukanlah tujuannya berada dalam keluarga Ayu.


Alangkah baiknya jika Kian tak mengetahui ibu kandung yang sebenarnya.


Sendy kembali masuk ke dalam bui.


Ayu terlihat keluar dari kantor polisi, dan sedang menunggu taksi online.


Dari jauh Kian tetap memantau. Kian tak tahu persis dimana Sendy di penjara, ia tak ingin memikirkan hal itu lagi. Dan beranggapan penjara tempat yang cocok untuknya sebagai karma atas ketidak peduli an dia terhadap seorang anak.


Setelah mobil kuning datang dan berhenti tepat di depan Ayu, Ayu pun masuk.


Kian memastikan lagi jika mamanya akan pulang dengan membuntutinya lagi.


Dan benar saja, Ayu menuju arah pulang ke rumah.


Hari sudah siang membuat perut Kian berbunyi nyaring, ia ingat tadi hanya sarapan beberapa suap saja.


Kian melajukan motornya membelah keramaian jalan menuju tempat makan.


.


"Mega, maaf aku datang terlambat."

__ADS_1


"Ah, tak apa - apa, menunggu adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan ku sekarang."


"Kamu sudah pesan makanan?"


"Belum, hanya minuman saja." sahut Mega seraya menunjukkan gelas yang sudah ia seruput beberapa kali.


"Sebentar, aku akan pesan makanan! Kamu mau menu apa?"


"Apa sajalah yang penting mengenyangkan."


"Oke, bagaimana kalau menu seafood?"


"Itu juga boleh,"


"Aku sudah lama tak menikmati masakan laut di Indonesia."


Seorang pelayan datang setelah dipanggil lalu mulai mencatat.


"Pesanan akan segera kami antar, mohon sabar menunggu!" ujar pelayan pria itu.


"Kamu bilang sudah lama tak menikmati makanan laut di sini, lah emang dulunya ke mana?" tanya Mega iseng saja.


"Aku melanjutkan kuliah S2 di luar negeri."


"S2 di luar negeri ? Wow, keren sekali !"


"Ah, biasa saja. Kalau kamu sendiri, bagaimana dengan karir kamu sekarang?"


"Aku seorang MUA."


"Make up artis? Wow, itu juga keren!"


"Ah, kamu terlalu memuji, itu biasa saja."


"Jadi, sudah berapa lama kamu menjadi MUA?"


"Sebenarnya ...." Mega hampir saja keceplosan kalau dia adalah seorang MUA yang terkenal di dunia nya.


"Baru beberapa bulan kok,"


Mereka ngobrol begitu asyik hingga tak terasa menu hidangan pun tersaji penuh di atas meja.


"Mari kita makan!"


Tak ada obrolan lagi diantara mereka berdua karena asyik menikmati cumi bakar.


"Mega!"

__ADS_1


Darah Kian terasa mendidih saat mengetahui kekasihnya berduaan dengan pria lain.


__ADS_2