Jangan Panggil Aku Jelek !

Jangan Panggil Aku Jelek !
IRI


__ADS_3

Dengan sentuhan jemari Mega, gadis dengan pemilik nama lengkap Rahma Leni itu berubah menjadi cantik hingga wajah aslinya pun tak dapat dikenali lagi.


Rena memuji kecantikan Leni. "Wah, kamu sangat cantik Leni! Bahkan aku tak mengenali mu sebagai Leni."


Leni meraba wajahnya, matanya tak berhenti menatap pantulan dirinya di depan cermin. Mulutnya terbuka sedikit, "Sungguh cantik, ini seperti bukan diriku!"


Jujur saja, belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Di make up secantik ini, apalagi ia tak lagi mengenakan kecamatan. Satu hal yang selama ini ia impikan.


Leni adalah anak dari seorang janda penjual telur. Untuk bisa masuk di kampus ternama ini ia hanya bisa mengandalkan beasiswa. Karena hal itu ia tak pernah melawan para mahasiswa dari kalangan elit yang selalu menindasnya. Ia mencari aman saja, bisa lulus kuliah itu sudah cukup baginya.


Mega tersenyum, tangannya terangkat menyentuh bahu Leni. "Dengan penampilan dan wajah baru ini, aku ingin kamu berani untuk melawan penindasan. Aku tak ingin mendengar ada pembicaraan lagi tentang anak cupu di kampus."


"Tapi Mega, aku takut jika aku melawan, aku bisa kehilangan bea siswa ku, aku tidak mau putus kuliah." Leni menggenggam tangan Mega berharap Mega paham dengan kecemasannya.


"Kamu tidak perlu takut selama ada Mega Elias di sampingmu." Mega mengembangkan senyum sambil membalas genggaman tangan Leni.


Mereka bertiga meninggalkan salon tepat pukul 5 sore. Sebelumnya Mega meminta izin pada mister Jo untuk pulang lebih awal.


Mega meminta pada kedua temannya untuk mengantar dirinya belanja beberapa peralatan make up untuk persiapan kompetisi.


Tak disangka saat Mega berbelanja di supermarket, tubuhnya menyenggol seorang gadis dengan perawakan kurus dan berambut pirang.


"Punya mata nggak sih, Lo!" Bentak gadis itu secara langsung saat kulitnya bergesekan dengan kulit Mega.


Mega sontak berbalik sambil mengangkat kedua tangganya. "Maaf, mataku terlalu fokus hingga tak menyadari ada kamu di belakangku." ujar Mega setelah tahu siapa gadis yang menyalak itu, ya siapa dia kalau bukan Kikan.


"Lo lagi, dunia ini terasa sempit ya, nggak di kampus nggak di luar selalu bertemu denganmu, gadis perebut calon suami orang !"


Sebenarnya Mega enggan untuk meladeni Kikan, mengingat jam sudah hampir gelap.


Mega tak membalas dan memilih mengabaikan Kikan. Karena merasa tak didengarkan ucapannya, Kikan menarik tangan Mega yang hendak pergi.


"Aku tak ingin mencari gara - gara denganmu, lepaskan tanganmu atau kamu ingin merasakan seperti apa yang dialami oleh dua pecundangmu!" Bentak Mega.


Kikan ingat saat Dea dan Bela di ruangan klinik siang tadi, mereka berdua mengaku kapok jika disuruh melawan Mega lagi.


Kikan melepaskan tangannya dan menyebik, "Wanita jelek sepertimu apa hebatnya hingga Kian tak bisa beralih darimu ?"


"Jangan panggil aku jelek! Mungkin wajah asliku masih membekas di otakmu, setidaknya penampilanku yang sekarang akan mengubah dunia. Dimana dunia yang sekarang penuh dengan penindasan anak - anak kaya yang hanya sembunyi di balik ketiak orang tua mereka."


"Kamu tak perlu takut padaku sebagai gadis perebut calon suami orang, aku tidak mencintai calon suamimu itu. Dan kamu bisa pastikan itu."


"Oh ya, sangat naif Lo! Mana ada cewek yang nolak didekati cowok kayak Kian, dasar Lo nya aja yang genit!"


"Ngomong sama tangan!" Mega menunjukkan telapak tangannya.

__ADS_1


Kikan mengepalkan tinju, sangat tidak mungkin untuk membalas Mega secara anak buahnya saja kalah apa lagi dirinya.


Setelah mengucapkan itu Mega mengajak Rena dan Leni meninggalkan supermarket.


Kikan menatap punggung Mega hingga tak terlihat lagi. "Gue pegang semua ucapan Lo, Mega si jelek." lalu menuju kasir dan pergi.


"Emang ada hubungan apa kamu dengan Kian?" tanya Rena. Ia sudah tahu sejak lama hubungan Kian dan Kikan yang selalu putus nyambung. Tapi semenjak Mega muncul ke permukaan, Kian enggan mendekati Kikan lagi.


Mega menggeleng, "Kami sudah tidak ada hubungan selain sebagai mantan majikan dan pembantu."


......................


Perlombaan make up artis dimulai satu jam lagi.


Kian duduk di samping Mega, bersikap seolah perhatian.


"Lo mau minum dulu?" Kian menyodorkan botol air mineral.


"Enggak ah, disaat seperti ini aku harus puasa biar nanti nggak bolak - balik ke kamar mandi."


"Kayak mau operasi saja pakai puasa," Kian menarik kembali botol itu.


"Lo udah siap, nggak gugup?"


"Apaan sih, aku udah pengalaman tahu untuk hal semacam ini, bahkan namaku sudah terkenal di mana - mana. Dulu, hidupku selalu banjir pujian sebagai MUA terkenal di seluruh negeri." Mega tanpa sadar mengucapkan jatidirinya di masa lalu hingga tak sengaja ucapannya menyita perhatian Kian.


Buru - buru Mega menutup mulutnya. "Eh, iya, aku salah bicara," berusaha menutupi.


"Aneh kamu, kamu bicara seolah kamu itu MUA besar dan terkenal."


"Emang," batin Mega dan segera menuju meja rias yang sudah disiapkan.


Perlombaan pun dimulai, di sana Kian juga bertemu dengan Sesil, sepupu Beni. Sesil menghampiri Kian.


"Hai, Kian, kita bertemu lagi. Lo dateng ke sini pasti buat semangatin gue kan?" ucap Sesil begitu percaya dirinya.


"Sorry, gue nganter pacar gue!" ujar Kian tanpa melihat ke arah Sesil. Matanya terus mengamati Mega yang sudah duduk di seberang sana.


Sesil cemberut dan mengikuti arah pandangan Kian.


"Cewek Lo ikut lomba ?"


"Iya, ini kompetisi pertamanya."


"Kompetisi pertama? Jadi cewek Lo belum pernah sama sekali ikut lomba gitu?" tiba-tiba saja Sesil begitu bahagia mendengar itu.

__ADS_1


"Iya," Kian menatap lawan bicaranya. "Aku akan menunggu sampai kompetisi ini selesai. Aku akan memberi semangat apa pun hasilnya nanti. " terang Kian, lalu dia meluruskan pandangan lagi menatap Mega.


Mega merasa seseorang membicarakan dia, Mega menoleh di saat itu Kian melambaikan tangan memberi tahu kalau dia masih ada di sini. Mega hanya tersenyum saja.


Sesil mengamati salah satu peserta yang mengenakan bando di kepalanya. Ia langsung tahu siapa yang dilihat Kian sejak tadi.


Sesil memasang wajah masam, setelah melihat gadis itu yang ternyata lebih cantik ketimbang dirinya, "Gue pasti akan memenangkan kontes ini, dengan begitu pasti Kian akan lebih bersimpati pada gue ketimbang pacarnya yang hanya seorang amatir."


Kemudian Sesil menuju tempatnya karena perlombaan memake up artis segera dimulai.


Hampir 3 jam acara itu berlangsung. Sesekali Kian menawarkan air mineral ke arah Mega, berulang kali juga Mega menolak nya.


Kompetisi selesai sudah. Para dewan juri menyampaikan hasil penilaiannya.


Dan telah ditetapkan sebagai juara baru MAKE UP ARTIS adalah Mega Elias.


Mendengar namanya dipanggil, Mega menjerit panjang dan langsung menghambur ke arah Kian.


Kian merasakan pelukan Mega begitu hangat, tak rela jika Mega melepasnya. Tapi sayangnya harus, Mega menaiki podium untuk menerima hadiahnya. Seratus juta mungkin cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dan lain - lain, selama Sonya dan kedua anaknya berkuasa Mega tak banyak memegang keuangan.


Sesil mengepalkan tangan, pura - pura senang dan mengucapkan selamat padanya.


Berita kemenangan Mega langsung terdengar Sonya dan kedua anaknya.


"Ma, si jelek itu menang dan punya banyak uang sekarang!" seru Sasa tak senang.


"Jika dibiarkan, dia bisa melonjak dan pasti menyepelekan kita, Ma!" imbuh Loli.


Sonya terdiam sedang merencanakan sesuatu. Kemudian berdiri. "Kalian berdua ikut mama sekarang!"


"Kita mau ke mana Ma?"


Sonya tak menjawab, dia sibuk dengan ponselnya. 5 menit kemudian mereka meninggalkan rumah.


Sonya dan kedua anaknya menemui sekelompok orang.


"Aku nggak mau tahu, habisi gadis ini sekarang juga. Dia membawa uang 100 juta, jika kalian berhasil, kita akan membagi uang itu. 80 persen untukku, 20 persen untuk kalian." Sonya menunjukkan foto Mega.


"Nyonya, kami tidak bodoh. Kalau Nyonya mau, 50 persen 50 persen, bagaimana?" tawar pria dengan wajah sangar itu.


"Kalian memerasku?"


"Jika Nyonya keberatan, silahkan lakukan pekerjaan itu sendiri,"


Sonya menahan amarahnya. Menarik nafas dan membuangnya kasar, "Baiklah. Kerjakan tugas dengan bersih."

__ADS_1


"Siap Nyonya!"


__ADS_2