
Kikan terhenyak kaget, melihat wajah yang sudah ia siram air keras sebelumnya bukanlah Mega.
Pemilik wajah yang ia kira Mega menjerit histeris hingga menimbulkan kegaduhan. Wanita itu berteriak panas dan minta tolong. Kerumunan pun terjadi.
Kikan hendak lari memasuki mobil. Namun langkahnya terjeda, seseorang berhasil mencekal lengannya.
"Lepasin tangan Gue!" Kikan memberontak hebat. Ia tidak boleh tertangkap dan harus segera kabur.
"Kikan?" seseorang yang berhasil mengamankan Kikan ternyata adalah Mega.
Mega baru saja akan memasuki cafe. Tapi perhatiannya teralihkan sesaat ada orang yang berteriak minta tolong tak jauh dari arah nya berdiri. Mega bergegas lari dan mengetahui orang yang hendak kabur di dekat orang yang minta tolong.
Sementara orang yang ingin Mega temui, Monalisa juga ikut ke luar, ia penasaran karena beberapa pengunjung juga ikut keluar.
"Kikan, apa yang kamu lakukan? Kamu mau kabur setelah melakukan tindakan kriminal? Tidak, siapa pun kamu, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di kantor polisi!"
Kikan menggeleng dan berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Mega, "Lepasin! Gue nggak mau masuk penjara!"
Monalisa datang menghampiri Mega. "Mega, apa yang sebenarnya terjadi?"
Monalisa menatap gadis yang berada dalam tahanan Mega.
"Dia mau kabur setelah membuat wanita di sana kesakitan."
Monalisa melihat korban yang masih menjerit kesakitan. Pandangannya beralih ke arah gadis yang masih memberontak ingin kabur. Monalisa merasa tidak asing dengan wajah gadis itu, ia menatapnya lekat. Seperti seseorang yang ia kenal. Ingatan Monalisa sedikit terganggu dengan keadaan sekitar jalan.
Kendaraan yang berlalu lalang sempat terhenti dan mengakibatkan kemacetan panjang. Suara klakson mobil dan teriakan orang pengguna jalan.
Suara sirine mobil ambulan yang datang bersamaan mobil polisi ke lokasi kejadian menyita perhatian publik.
Mendengar itu Kikan sangat takut dan hendak kabur. Tapi Cengkeraman Mega sangat kuat.
Sementara orang - orang sudah menangani korban dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Polisi mengamankan Kikan dan Mega sebagai saksi, membawa keduanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
"Saya ikut!" seru Monalisa yang bergegas merogoh kunci mobil di dalam tas. Ia mengendarai mobil sendiri dan mengikuti mobil polisi.
Monalisa menghubungi Jo untuk menunda pertemuan karena dirinya sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi.
Jo kaget dan bertanya perihal penyebab pembatalan pertemuan.
Monalisa menerangkan secara singkat setahu dirinya. Mengakhiri panggilan lalu fokus menyetir.
Sementara Mega yang semobil dengan Kikan mencoba menghubungi Kian.
Kian sedang ada bimbingan skripsi, kebetulan dosen pembimbingnya bisa ditemui saat sore hari.
Kian hendak duduk di hadapan dosen pembimbing, tiba - tiba ponselnya berdering. Kian mengetahui dari layar ponselnya yang memanggil barusan adalah Mega.
__ADS_1
"Mega, tumben dia menghubungiku? Pasti dia kangen sama aku, Ah, aku kerjai dia! Biar merasakan terabaikan seperti apa, biarin saja dulu, nanti juga menelpon lagi." gumam Kian yang merasa sangat diharapkan.
Kian mendengarkan keterangan dari dosen pembimbing mengenai skripsinya.
Belum sampai 5 menit ponsel Kian bergetar. Kian senyum - senyum sendiri dan masih menganggap Mega merindukan dirinya.
Karena Kian sulit dihubungi, lantas Mega menghubungi Liam.
"Hallo, Liam, kamu di mana?"
"Hallo Ga, aku masih ada di kampus. Ada apa?"
"Kamu lihat Kian tidak, sejak tadi aku telepon nggak diangkat?"
"Kian? Ya, dia masih ada di ruangan dosen."
"Pantes saja nggak diangkat. Aku bisa minta tolong nggak?"
"Ya Ga, katakan!"
"Tolong, Kian suruh cepat hubungi aku balik setelah urusan dengan dosen selesai."
"Cuman itu aja! Penting banget ya, emang ada apaan sih!"
"Iya, ntar aku ceritain. Tolong ya Liam, terimakasih!" Mega mematikan ponselnya.
Liam bertanya - tanya ada perihal apa sehingga pembicaraan dengan Mega tadi terdengar serius.
Liam mengetuk pintu. Masuk setelah dipersilahkan.
"Antre tahu!" sarkas Kian begitu Liam duduk di sampingnya.
"Gue dapet pesen dari Mega barusan." bisik Liam yang membuat mata Kian membola mendengarnya.
"Pesan dari Mega? Apaan?"
"Lo disuruh telepon balik. Katanya penting."
Kian mengingat tadi telah mengabaikan panggilan darinya. Ada hal penting apa sampai Liam terlibat juga.
Kian berdiri dan meminta izin pada dosen untuk ke luar ruangan. Setelah mendapatkan izin, Kian bergegas memanggil Mega sambil berjalan keluar ruangan dosen.
"Hallo, Mega, apa yang terjadi, Liam bilang ada hal penting banget yang ingin kamu sampaikan?"
"Hallo, Kian. Aku berada di kantor polisi, segeralah datang ke sini nanti akan aku ceritakan semua." terang Mega yang langsung mematikan ponselnya karena ia sudah sampai di kantor polisi.
Mendengar berita Mega berada di kantor polisi membuat Kian menjadi panik dan bergegas. Menitipkan berkas pada Beni yang kebetulan berjalan ke arahnya.
"Gue titip bentar ya!" sambil berlari menjauh.
__ADS_1
"Lo mau kemana!" teriak Beni tapi tak mendapat sahutan.
Kian menuju tempat parkiran. Membuka pintu lalu masuk dan menyalakan mesin mobil.
Dalam hati Kian bertanya - tanya perihal Mega yang berada di kantor polisi. Jika ada kesalahan, kesalahan apa yang menyebabkan Mega ditahan?
Mega dan Kikan berjalan beriringan menuju kantor polisi. Sementara Monalisa menyusul detik berikutnya.
Polisi mengorek informasi dari tersangka dan saksi.
Monalisa masih mencoba mengingat gadis yang tak asing wajah nya itu.
Monalisa beranjak mendekati Mega, membungkukkan badan dan berbisik. "Siapa gadis di sampingmu itu?"
"Namanya Kikan, teman sekampus." sahut Mega yang tak tahu menahu alasan Monalisa bertanya tentang identitas Kikan.
"Kikan?" Monalisa menegakkan punggungnya. Matanya membulat sempurna setelah tahu gadis itu bernama Kikan serta wajahnya yang sangat familiar.
"Kikan!" seru seorang pria yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke sumber suara.
"Ayah!" Teriak Kikan dan menghambur ke dalam pelukan Bara.
Monalisa seketika tercengang melihat Bara. Nostalgia dengan kenangan lama.
Kikan menangis dalam pelukan sang ayah.
Mata Monalisa terasa panas dan merembes begitu saja air matanya.
"Bara!" panggil Kikan yang membuat Bara mengurai pelukannya.
Kikan mendongak menatap ayahnya seolah bertanya siapa wanita cantik yang memanggil ayahnya.
Seketika itu juga Jo juga datang.
Lima belas menit berlalu, Kian sampai di kantor polisi ditempat Mega berada.
"Mega, kamu ..." Kian datang mengedarkan pandangan, sedikit tercengang dengan suasana di ruangan itu.
Kian mendekati Mega. "Apa yang terjadi?"
Mega menerangkan kronologi kejadian secara singkat.
Pihak polisi memanggil Kikan untuk ditanyai alibi nya di tempat kejadian.
Bara menatap nanar ke arah Monalisa yang kini berdiri berjajar dengan pria asing yang tidak lain adalah Jo.
Kikan mulai bercerita sambil terisak.
Bara mengalihkan pandangan lalu membalikkan tubuh keluar ruangan.
__ADS_1
"Bara!" Monalisa memanggil namanya.
"Bara, apakah dia putriku?" Monalisa menghapus air matanya.