
Selama Mega tak berada di rumah ternyata Sonya dan kedua anaknya telah memasuki kamar Mega dan menemukan banyak uang di dalam lemari.
Sonya mengambil semua uang Mega tanpa menyisihkan sedikit pun.
Saat Mega mendapati kamarnya yang berantakan, Sonya dan kedua anaknya datang.
"Bagus ya, ternyata Lo selama ini menyembunyikan banyak uang dan tak membaginya pada kami. Dasar rakus!" umpat Sasa seraya menunjuk ke arah wajah Mega.
Sonya berkacak pinggang dan melontarkan kalimat yang pedas, "Inikah balasan kamu terhadap mama, padahal mama sudah merawat dan menjaga kamu hingga dewasa seperti ini. Lantas apa maksud kamu dengan menyembunyikan uang sebanyak ini dari kami?"
"Uang Lo banyak, tapi Lo pelit, gue pernah minta hp baru ke Lo, tapi Lo menolak buat beli in gue hp baru." imbuh Loli.
Mega masih diam saja belum berkomentar,mendengar semua keluh kesah mereka. Setelah semuanya berbicara tentang Mega dengan sangkaan yang bukan - bukan barulah Mega mengambil suara.
Mega tak marah atau pun melakukan kekerasan fisik.
"Jika kalian butuh uang, tidak begini caranya. Masuk ke kamar orang lalu mengobrak abrik barang. Datanglah padaku dengan cara yang sopan, mungkin aku masih berbaik budi pada kalian bertiga. Tapi, cara yang kalian gunakan adalah cara yang salah sehingga kalian bertiga harus mendapatkan hukuman dariku."
"Hukuman, apa maksud kamu dengan kata hukuman?" Sonya tak tahu arti perkataan Mega.
"Aku bukanlah gadis bodoh seperti yang dulu - dulu, aku bisa melaporkan pada kalian atas pencurian."
"Laporkan saja, kami tidak takut! Apa ada yang mau percaya, mencuri di rumah sendiri?" Loli mentertawakan perkataan Mega.
Mega tetap terlihat tenang, "Kalian tenang saja, besok akan ada pijak berwajib yang akan membawa kalian pergi dari rumahku, membawa kalian ke PENJARA."
"Penjara!" seru mereka bertiga kompak dan saling melempar pandang.
"Sebelum kalian datang kemari, aku sudah lebih dulu mengirim rekaman CCTV pada polisi sebagai bukti atas tindakan kriminal kalian. Dan kalian tentu tidak lupa bukan, jika rumah ini masih atas nama ayahku. Jangan kira kalian, aku tidak tahu kalau aku bisa menerima harta warisan milik ayahku setelah aku menikah kan?"
Sonya, Sasa dan Loli tak bisa mengelak.
"Jangan khawatir, aku adalah saudara yang baik. Jika kalian mengembalikan uangku yang kalian ambil, aku akan mencabut laporan atas tindakan kalian, bagaimana?"
Sonya tentu saja tak mau masuk bui, "Baiklah. Mama akan mengembalikan uangmu!"
Sasa dan Loli saling adu sikut. Uang yang sudah dibagi Sonya kepada mereka, sudah habis buat belanja dan foya - foya.
__ADS_1
Mega meminta pada mereka bertiga untuk keluar kamar dan memberi batasan waktu sampai tiga hari. Jika lewat hari yang sudah Mega tentukan, Mega tidak segan menjebloskan mereka ke penjara.
Sebenarnya Mega tidaklah serius membawa nama polisi dalam urusan ini. Baginya uang 50 juta bukanlah apa - apa. Mega hanya memberi gertakan saja agar mereka jera dan tidak mengganggu Mega lagi.
......................
Malam ini setelah meladeni Sonya cs, Mega bergegas menuju rumah Kian. Mega tahu apa yang harus ia lakukan.
Mega memasuki rumah setelah bik Atun mempersilakan masuk. Kondisi rumah begitu sepi. Raditya dan kedua putranya menunggu Ayu di rumah sakit.
Mega meminta pada bik Atun untuk menunjukkan sisa makanan apa saja yang dimakan nyonya Ayu.
Hanya ada capcay dan ayam goreng di atas meja, Bik Atun tak tahu persis makanan apa yang dimakan nyonya Ayu.
"Apakah yang lain juga ikut makan, Bik?" tanya Mega untuk memastikan.
"Hanya nyonya Ayu yang makan, tuan Raditya belum pulang."
"Lalu tante Sendy ?"
"Aku akan mengambil semua makanan dan minuman ini sebagai sampel, tolong ambilkan aku bungkus plastik!"
Bik Atun memenuhi permintaan Mega.
Setelah mendapatkan sampel makanan, Mega menghubungi seseorang yang terpercaya untuk membantunya mengatasi masalah ini.
Mister Jo memberikan alamat seorang pakar racun setelah Mega menghubunginya.
Mega menuju lokasi, meski rasanya sangat ngantuk Mega tetap terjaga dan harus secepatnya bertindak. Jarum jam sudah menunjuk pukul 8 malam, Mega tiba di lokasi.
Orang yang membantu Mega kali ini bernama Ave, seorang pria blasteran Cina dan Jawa.
Ave segera menguji sampel makanan yang diberikan Mega.
Hampir satu jam lamanya Mega menunggu dan hasilnya sudah bisa didapatkan.
"Racun ini mengandung formalin cukup tinggi, dan sangat jarang digunakan karena hanya untuk mengawetkan mayat. Jika korban tak segera ditangani bisa langsung menyebabkan kematian." terang Ave sambil menunjuk sampel makanan pada potongan pentol bakso.
__ADS_1
Mega mengangguk paham, ia ingat jenis obat pencuci perut yang pernah Sendy beli dan Mega mengambil gambarnya.
"Aku ingin bertanya dengan jenis obat yang seperti ini,"
Ave mengamati gambar di foto galeri ponsel Mega. "Ini juga bisa menyebabkan kematian jika terlalu banyak dikonsumsi."
Setiap Ave berkata pasti mengarah pada kematian. Itu artinya pelaku ingin sekali membunuh korban dengan cara memberi nya obat lain tapi berdosis tinggi.
Mega langsung bisa menarik kesimpulan kalau tante Sendy lah pelakunya dan apa motifnya pasti jelas karena ingin mendapatkan Tuan Raditya.
Mega ingat dengan apotik dimana tante Sendy membeli obat pencuci perut, Mega bergegas ke apotik tersebut.
Sekarang Mega sudah tiba di lokasi, penjaga apotik baru saja menutup pintu.
Mega bergegas turun dari mobil dan setengah berlari sambil berteriak, "Tunggu Pak, sebentar saja!"
"Kami sudah tutup dan ingin segera istirahat. Jika ingin membeli obat besok pagi saja kalau kami sudah buka." terus penjaga apotik.
"Maaf Pak, aku tidak sedang ingin membeli obat. Ini menyangkut nyawa seseorang. Jika seseorang itu meninggal dunia karena salah satu pelaku membeli obat keras di sini, pastilah apotik Bapak yang akan terkena dampaknya."
Mendengar ucapan Mega yang sedikit mengerikan itu, penjaga toko bersedia memberikan keterangan pada Mega.
Mega memperlihatkan foto Sendy pada penjaga apotik untuk mengingatnya. "Apakah wanita yang berada di foto ini kembali lagi membeli obat lain di apotik ini?"
Penjaga foto mengernyitkan dahi mengingat wanita di foto itu. "Sepertinya wanita itu pernah ke sini, tapi aku lupa kapan,"
"Bisakah aku melihat rekaman CCTV di apotik ini?"
"Bisa. Sebentar akan aku perlihatkan padamu." Penjaga apotik yang berusia sekitar 50 tahun itu memakai kacamatanya kembali saat mengecek rekaman CCTV.
Membutuhkan waktu yang tidak sebentar ternyata untuk mengotak - atik rekaman CCTV.
Dengan sabar Mega menunggu hasilnya. Meski rasa ngantuk mulai menyergap lagi.
"Bagaimana Pak?" tanya Mega dengan raut muka begitu cemas, berharap mendapatkan titik terang di sini.
"Wanita itu ..."
__ADS_1