
Setelah mendapatkan penanganan dari dokter kini Mega tidur, Mega didiagnosa mengalami keracunan makanan yang sudah kadaluwarsa. Untung saja Kian cepat membawanya ke rumah sakit hingga tak berlanjut lebih parah. Gadis dengan rambut panjang itu terlihat lelap dalam tidurnya, pastinya sangat capek, setelah mengikuti serangkaian kegiatan, selain mengikuti kompetisi MUA dia juga sudah mengendarai mobil meski tak cukup baik bagi Kian. Kian memutuskan akan bermalam juga di rumah sakit itu berjaga - jaga kalau Mega terbangun dan membutuhkan sesuatu.
Mata Kian sangat lelah dan ingin sekali tidur, tapi Kian masih ingin bertahan, untuk menghilangkan rasa kantuknya ia membuka ponselnya yang sejak satu jam lalu ia matikan.
Terlihat di grup whatshap nya, Aris yang pertama kali memulai obrolan.
Aris : Kawan - kawan, kita nongkrong yuk!
Beni : Oke, di tempat biasa atau di tempat lain?
Aris : Ada cafe baru, MD cafe, kesana yuk!
Liam : Berangkat ...
Kian : Sorry, gaes! Gue nggak bisa gabung.
Aris : Tumben, malming gini nggak ikut, kemana Lo?
Kian : Mega masuk rumah sakit.
Liam : Lo serius, sakit apa ? Di rumah sakit mana?
Liam yang tengah bersantai di balkon rumah menegakkan punggungnya seraya menunggu balasan dari Kian.
Kian : Pelita Hati, keracunan makanan.
Liam yang pada dasarnya sudah jatuh hati pada Mega merasa sedikit cemburu pada Kian, kenapa harus Kian yang tahu segalanya tentang Mega dan pastinya Kian yang menjaga Mega, kenapa bukan dirinya yang berada di posisi itu?
Liam tersentak dari lamunan, melihat jam sudah menunjukkan angka 9 pastinya pihak rumah sakit akan melarang dia untuk membesuk Mega. Liam akan menunggu esok pagi untuk menjenguk Mega.
Setelah menyampaikan pesan pada grup WA Kian melangkahkan kaki keluar kamar tempat dimana Mega di rawat, ia ingin membeli beberapa cemilan dan air mineral di mini market terdekat.
15 menit kemudian ia kembali, didapati Mega masih terlelap. Kian membuka bungkus cemilan yang baru saja ia beli tadi. Hari ini ada pertandingan sepak bola favoritnya, ia menyalakan televisi untuk menonton acara tersebut. Tiba - tiba ada panggilan masuk dari ayahnya. Kian tahu jika ayah nya pasti menyuruhnya pulang. Kian mengabaikan panggilan itu. Jeda berikutnya ganti mamanya yang memanggil lewat video call. Dengan terpaksa Kian mengangkat panggilan Ayu.
Ayu menyuruhnya pulang persis seperti dugaannya. Kian mengedarkan layar ponsel hingga terlihat lokasi dan Mega berada saat ini. Ayu sempat kaget dan langsung ditenangkan Kian. Ayu mendukung jika Kian memilih Mega sebagai pasangan hidupnya. Mendengar ibunya berkata begitu Kian berjanji akan menjaga Mega untuk selama lamanya.
......................
Sonya, Sasa dan Loli sedang berkumpul di depan televisi. Ketiga wanita itu selalu gagal untuk mencelakai Mega. Berturut - turut Mega bisa lolos dari maut.
"Ma, sepertinya si jelek itu punya 9 nyawa, kita sudah berkali - kali ingin melenyapkan dia tapi selalu saja dia bisa selamat." Sasa membuka obrolan.
__ADS_1
"Aku setuju dengan pemikiran Kak Sasa, si jelek itu teramat sulit untuk dilenyapkan. Aku kira semenjak dia dekat dengan Kian, dia selalu saja beruntung. Jika mereka dijauhkan pastinya keberuntungan tidak akan memihak si jelek itu." timpal Loli.
Mendengar penuturan kedua putrinya Sonya termenung sesaat sambil menopang dagu.
"Mama dengar Kikan sangat menyukai Kian, kita ajak Kikan untuk bergabung melenyapkan si jelek itu. Mama sudah tidak ada duit lagi untuk menyewa pembunuh bayaran."
"Tenang Ma, aku akan coba pengaruhi Kikan agar mau bergabung dengan kita. Sekarang aku mau hubungi Kian dulu agar kita tidak dicurigai." Sasa begitu semangat.
Sasa menghubungi Kian menanyakan keadaan Mega, dia berpura - pura peduli agar keluarganya tidak disalahkan atas kejadian tadi.
......................
Keesokan paginya di kediaman keluarga Liam, selesai sarapan Liam bergegas pergi, sebelum beranjak ibunya, Adel memanggil.
"Liam, kamu mau ke mana, ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kampus?"
"Liam mau mengunjungi teman di rumah sakit Ma,"
"Teman? Siapa?"
"Mega namanya. Liam pergi dulu ya,"
Setelah kepergian Liam, Adel menerima telepon dari detektif. Detektif itu menyampaikan kabar jika seseorang yang selama ini dicari keberadaannya identitasnya sudah ditemukan.
Mendengar perkataan detektif itu Adel sangat syok dan merasa bersalah.
"Ya sudahlah, tapi tolong jika kamu menemukan keluarganya yang lain segera kabari aku." pangkas Adel sebelum menutup panggilan.
Sebelum tiba di rumah sakit Pelita Hati, Liam berhenti dulu di supermarket untuk membeli oleh - oleh.
"Mega sukanya apa ya, kenapa aku sama sekali tak tahu tentangnya?" gumamnya sambil memilih - milih.
Liam memutuskan membelikan buah apel saja.
Seperempat jam Liam tiba di rumah sakit, ia bertanya lebih dulu ke bagian resepsionis sebelum tiba di kamar Mega.
"Selamat pagi cantik!" sapa Liam begitu tiba di kamar Mega.
Mega menoleh dan senyumnya pun mengembang. "Liam, kamu tahu aku di sini?"
"Tentu saja, apa sih yang enggak aku ketahui tentang kamu," menarik kursi dan duduk di samping Mega.
__ADS_1
"Nih, aku bawakan apel! Aku nggak tahu kamu suka buah apa,"
"Aku malah merepotkan kamu, makasih ya, aku suka apel kok,"
Liam nampak begitu senang mendengar Mega menyukai buah tangan darinya.
"Mega, bubur yang kamu minta nggak ada." ujar Kian sambil mendorong pintu. Matanya mendelik menatap siapa pria yang duduk di dekat Mega.
"Liam? Sejak kapan Lo ada di sini?" Kian terlihat nggak suka dengan kedatangan Liam.
Liam tak tahu jika kedatangannya membuat Kian cemburu.
"Baru saja."
Kian melihat apa yang dipegang Liam.
"Kok Lo kasih Mega apel, apel nya higienis nggak, kamu beli di pinggir jalan ya?"
"Mega suka kok, jadi gue mau ngupas apel ini, Lo tenang aja, apel nya aman kok!"
"Sini biar gue yang ngupas, Lo mending sekarang pergi aja!" Kian mengusir Liam.
"Ogah, gue baru datang kok malah di suruh pergi! Emang Lo siapa nya Mega semena - mena ngusir gue!" Kekeh Liam tak mau pergi.
Kian dan Liam saling berdebat.
"Stop...! Mending kalian berdua pergi deh, ini rumah sakit tempat untuk istirahat bukan pasar !" Bentak Mega melerai mereka.
"Gue nggak mau pergi."
"Aku juga, kita kan pacaran jadi selayaknya yang tetep ada di disini itu aku." Kian membuka kartu as nya.
Mendengar itu Liam melotot tak percaya. Rasanya ia ingin berteriak TIDAK.
"Kalian berdua pacaran? Sejak kapan?" Liam memandangi mereka berdua bergantian.
"Kian bercanda kok, kita nggak ada hubungan apa - apa, " Mega berusaha menutupinya.
Kian tak terima diabaikan oleh Mega.
Liam pun sebaliknya lebih percaya perkataan Mega. Liam menyodorkan Mega sepotong apel. Matanya mengejek melirik Kian.
__ADS_1
Kian menjadi panas. Kian pun tak mau kalah, ia juga meraih potongan apel yang sudah dipotong kecil - kecil oleh Liam tadi.
Kedua pria itu berebut saling menyuapi Mega.